Kasihan bangsa yang mengenakan pakaian yang tidak ditenunnya, memakan roti dari gandum yang tidak ia panen, dan meminum susu yang ia tidak memerasnya.
Kasihan bangsa yang menjadikan orang dungu sebagai pahlawan dan menganggap penindasan penjajah sebagai hadiah.
Kasihan bangsa yang meremehkan nafsu dalam mimpi-mimpinya ketika tidur, sementara menyerah padanya ketika bangun.
Kasihan bangsa yang tidak pernah angkat suara kecuali jika sedang berjalan di atas kuburan, tidak sesumbar kecuali di reruntuhan, dan tidak memberontak kecuali ketika lehernya sudah berada di antara pedang dan landasan.
Kasihan bangsa yang negarawannya serigala, filosofnya gentong nasi, dan senimannya tukang tambal dan tukang tiru.
Kasihan bangsa yang menyambut penguasa barunya dengan terompet kehormatan, namun melepasnya dengan cacian, hanya untuk menyambut penguasa baru lain dengan terompet lagi.
Kasihan bangsa yang orang sucinya dungu menghitung tahun-tahun berlalu, dan orang kuatnya masih dalam gendongan.
Kasihan bangsa yang terpecah-pecah, dan masing-masing pecahan menganggap dirinya sebagai bangsa.
K a h l i l G i b r a n
TANGGAPAN BETA:
…Duh ..
INDONESIA BANGET YA ….
O pujangga besar Libanon … wahai engkau ya Khalil Gibran …. Betapa engkau bisa semampu itu menggambarkan negara bangsa beta ini … Sebegitu memPRIHATINkan ….
Namun kami tidak akan pernah menyerah, … Kami akan terus berjuang ... Kendati ajal datang menjemput ….
Kami tidak ingin lagi … Kami tidak pernah rela lagi … Kami Bangsa Indonesia bukan Bangsa Kasihan … Kami bukan bangsa yang harus diKASIHANi seperti untaian kata dalam puisimu ini …
Seperti kata Bung Karno … Kami BANGSA INDONESIA bukan BANGSA KOELI, Kami bukan koeli bangsa-bangsa lain …
Agar engkau tahu, wahai pujangga… Pemimpin bangsa kami bukan Soeharto …
Pemmpin bangsa kami adalah mereka yang pernah menjadi murid HOS Tjokroaminoto .. Merekalah para pendiri negara bangsa Indonesia ..
Bukan para oportunis seperti yang kau lukiskan … Bukan seperti Soeharto atau Nasution dsb yang pernah numpang hidup sebagai serdadu penjajah … Mencari makan sebagai serdadu bayaran KNIL (Koninkliejk Nederland Indische Lager), Ikut menindas rakyat sependeritaan sesuku sebangsa seagama, justru ketika pada zamannya para sebaya pemoeda saudara-saudara mereka malah menjadi patriot bangsa, memilih rela dipenjarakan, dibuang dan dihabisi demi memperjuangkan kemerdekaan rakyat Hindia Belanda ...
Sehingga tak heran sebagaimana tabiat buruk mereka, yang sejak dini usia telah bersedia menjadi koeli penjajah, Maka mereka jua lah yang kelaj merampok kepemimpinan sejati rakyat... dan ketika mereka berkuasa, mereka jua lah yang menjadi para penjual bangsa negara ini,
Tapi tidak bagi kami .. Kami BANGSA PEJOEANG Sekali MERDEKA tetap MERDEKA
Benar sekali apa yang ditulis Khalil Gibran, tepat. Genius orangnya. Kalau mau melihat keada'an Indonesia, persis seperti yang dia tulis. Salam Kenal Dhia.
glak929697 wrote on Jun 8, '07, edited on Jun 8, '07
Suatu refleksi yg menarik; Olah /Asah "budi" yg menjadi kelebihan manusia dari makhluk lain (binatang) ternyata semakin ditinggalkan; Jaman Edan spt yg dilontarkan oleh Ronggowarsito spt.nya bertaut dgn puisi KG tsb. Manusia (Indonesia) semakin "menggila", meninggalkan fitrahnya & menghanyutkan diri ke dalam ruang-ruang nafsu keduniawian radikal; dgn tanpa sadar mengabaikan ruang cipta-rasa-karsa yg sejatinya merupakan tuntunan luhur Ki Hajar; Kalau tuntunan sendiri sudah dilupakan, apalah artinya mengingat hasil jerih payah para pendiri bangsa ini; Krisis eksistensi yg tersisa.... (Tks Kamerad!)
ngurut2 dada mode : ON ... sebegitu parahnya kah? waaaaaaaaaaaa
Kalau di amati dan dibandingin memg kurg lebih kyk begitu... Pujangga Dari Lebanon yg Ditinggal sang terkasih yg Genius Merangkai kata itulah Idolaku !!!