“… PERJUANGAN MELAWAN KEKUASAAN adalah PERJUANGAN INGATAN MELAWAN LUPA ..."

dhia_prekasha's posts with tag: "independen"

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag "independen"

 

Beda AJI dahulu dan AJI sekarang:

 

” ….. Bedanya, dulu seruan AJI menyejukkan dan memberi solusi,

          sekarang seruan AJI lebih mirip provokasi, beropini,

          memelintir fakta, tunduk pada kehendak seseorang,

          dan membuat seruan sepihak tanpa berupaya mengecek ulang,

          yang hakikinya kewajiban wartawan

          untuk melalukan cover both side. …..”

 

 

From: Mappajarungi <arung_cinta@yahoo.com> 

To: mediacare@yahoogroups.com

CC:
Subject: Re: [mediacare] Quo Vadis AJI ?

Date: Tue, 27 Mar 2007 09:09:07 -0700 (PDT)

 


Wah kalau langsung mengatakan (menuding) seseorang tidak arif and bijoknoso, mungkin, atau bias memberikan contoh-contoh yang lugas Mbak Raden Ayu.

Mereka melakukan demo itu sudah dilandasi dengan argument yang mendasar. Karena "Pemerintah" Indonesia itu buta aksara, jadi harus ada aksi baru bisa timbul reaksi. mungkin gicu?..


Nah kalau mempertanyakan intelektual seorang jurnalist, itu dari karyanya. Jadi, bukan dari tingkah lakunya. Liat tuh para Professor tingkah lakunya nyeleneh. Tapi karyanya mantap
kan?...

Salam damai



--- radenayu asli <
radenayuu@yahoo.com> wrote:

Sebagai orang luar, saya melihat tindakan AJI memang tidak ada kearifan. Setiap kali nama AJI muncul, itu selalu berarti demo, padahal jurnalis itu dianggap intelektual.Koq gak pakai (adu) otak saja, mengapa harus adu oto (demo), kuat-kuatan. Di manakah intelektualitas jurnalis?

Salam kebangsaan.

RA



 
--- dimastakha <
dimastakha@yahoo.co.id> wrote:

Ada rekans yang mendengar, ada media kini ogah menerima wartawan (baru)

anggota AJI ?


Mohon konfirmasi dan semoga tidak benar.

salam
dimast



berikut dari
http://www.insidekompas.blogspot.com:


Aji Mumpung AJI

"O-Te"

KALA Soeharto berkuasa, wartawan wajib menjadi anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), satu-satunya organisasi profesi wartawan yang diakui pemerintah. Di luar itu, selain haram hukumnya, juga harus menghadapi kematian sejak dalam kandungan. Harmoko, menteri penerangan sejak 1983 yang mantan Ketua PWI, adalah penjaga gawang pers yang kelewat sadis, sehingga apa yang termuat di media
massa adalah hasil dari saringannya.

Untuk itulah, salut kita serukan pada para pendiri Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang berani mendobrak benteng tirani rezim saat itu dengan mendirikan organisasi profesi wartawan di luar PWI. Tekanan demi tekanan dari penguasa pasti datang dengan sendirinya. Majalah bawah tanah "Independen", majalah yang dicari-cari saat itu khususnya pascabreidel Tempo, Editor dan Detik.

Salut diberikan pada pendirinya yang gagah berani. Dari Kompas, tercatat nama Satrio Arismunandar (RIO) dan Dhia Prekasha Yoedha (DPY) sebagai pendirinya, plus beberapa simpatisan lainnya. Mereka berani menyatakan diri ke luar dari Kompas, setelah mendapat kompensasi tentunya,  atas perjuangannya itu. Pendeknya, salut diberikan kepada mereka, sekaligus kepada organisasi profesi  wartawan yang mereka dirikan, Aliansi Jurnalis Independen - AJI.

Tatkala Soeharto tumbang dan rezim datang silih berganti, nyatalah bahwa AJI memetik hasil dari perjuangannya itu. Ia menjadi organisasi wartawan yang tiada tandingnya. PWI tenggelam dengan sendirinya, meski tetap eksis di bawah kepemimpinan Tarman Azzam. AJI menjulang sendirian, menenggelamkan organisasi-organisasi profesi wartawan lainnya. AJI kini di bawah kepemimpinan.... (maaf tidak tahu), masih berkibar di atas langit dengan seruan-seruannya.

Bedanya, dulu seruan AJI menyejukkan dan memberi solusi, sekarang seruan AJI lebih mirip provokasi, beropini, memelintir fakta, tunduk pada kehendak seseorang, dan membuat seruan sepihak tanpa berupaya mengecek ulang, yang hakikinya kewajiban wartawan untuk melalukan cover both side. Bukankah organisasi ini beranggotakan wartawan-wartawan hebat yang seharusnya tahu "hukum”  pers yang paling dasar itu.

Ambil contoh kecil saat AJI meng-condem bahwa satuan pengamanan (Satpam) Kompas "memiting", "meringkus", dan "membopong" Paulus Bambang Wisudo, wartawan Kompas yang dipecat dengan tidak hormat, yang tidak pernah menghubungi Satpam Kompas. AJI begitu percaya kepada ocehan mulut satu orang, langsung membuat pernyataan provokatif, menyulutkan Total War, yang justru sangat berkebalikan dengan semangat AJI selama ini yang mengusung "peace journalism".

Di mana sekarang jurnalisme damai diletakkan saat Total War langsung dimuntahkan?

Saat ditanyakan kepada Satpam Kompas yang katanya "memiting" dan "meringkus" Wisudo, jawabnya hanya senyum dikulum saja. Salah seorang di antara Satpam itu bilang, "Si Wisudo itu pinter main sandiwara, wong dia menjatuhkan dirinya sendiri lalu teriak-teriak seakan-akan dianiaya, padahal kita mencoba menyuruhnya berdiri.  Tetapi tidak mau dan meronta-ronta seperti anak kecil. Ya kita boponglah."

Main sandiwara? Itulah bahasa Satpam. Barangkali bahasa kerennya adalah "happening art", sebuah seni teatrikal yang biasa dimainkan pendemo di jalan-jalan. Main sandiwara tentu saja bermakna pura-pura, bukan kejadian sesungguhnya. Kita tentu tidak akan menemukan pernyataan Satpam dengan puluhan saksi di koran-koran, di blog, atau media lainnya (rekaman video kelak mungkin akan menjelaskan secara gamblang hal ini). Yang ada hanyalah pernyataan Wisudo sepihak. Dan, itulah yang dijadikan kesimpulan banyak orang, termasuk AJI, membawa kata kunci "penganiayaan" ini kemana-mana, menjualnya demi menarik simpatik massa, sekaligus mengibarkan bendera Total War.

Padahal, tidak ada asap kalau tidak ada api. Ambil contoh kecil lagi yang tidak pernah terungkap. Beberapa saat sebelum pemecatan berlangsung, Wisudo mengundang puluhan aktivis untuk mengadakan pertemuan di Gedung Kompas. Tidak ada bahasa, tidak ada cerita, apalagi sopan-santun kepada pengelola gedung untuk meminta izin, meski memang saat itu Wisudo masih tercatat sebagai karyawan Kompas.

Bayangkan, dimana sopan-santun diletakkan oleh seorang terpelajar dan hero seperti Wisudo? Memangnya Gedung Kompas itu punyanya? Punya mbahnya? Lalu dengan seenaknya dia menempelkan selebaran dimana-mana, di seluruh lantai di Gedung Kompas.

Cobalah AJI belajar berempati, lantas sesekali  menempatkan dirinya sebagai Satpam (bukan sebagai wartawan yang hebat?). Sebagai Satpam, apa yang Anda akan lakukan ketika menghadapi ulah seseorang seperti Wisudo di tempat yang menjadi tanggung jawab Anda. Membiarkan dia seenaknya menempelkan selebaran? Membiarkan satu atau beberapa ruang kantor itu untuk diduduki tanpa izin sebelumnya? Atau menegurnya sesuai kapasitas Anda? Jika yang ditegur tidak mau, berontak dan menjatuhkan dirinya sendiri (happening art?), apa pula yang Anda akan lakukan. Membiarkan dia meronta-ronta seperti anak kecil di tengah keramaian suasana kerja?

Mestinya, sebagai organisasi profesi wartawan yang sudah berada di atas angin dan nyaris tanpa ada saingan berarti, AJI


=== message truncated ===

...............
Selengkapnya baca di
  http://www.insidekompas.blogspot.com :

__________________________________________________________

Get your own web address.
Have a HUGE year through Yahoo! Small Business.
http://smallbusiness.yahoo.com/domains/?p=BESTDEAL

Messages in this topic (0) Reply (via web post) | Start a new topic

Messages | Files | Photos | Links | Database | Polls | Members | Calendar

Web:
http://groups.yahoo.com/group/mediacare/

Klik:
http://mediacare.blogspot.com
atau
www.mediacare.biz


====================
Untuk berlangganan MEDIACARE, kirim email kosong ke:
  mediacare-subscribe@yahoogroups.com

 

 


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help