Kenangan dan Cerita Seorang Bekas Tapol (1)
Oleh : Yoseph Tugio Taher
08-Jul-2007, 23:51:49 WIB –
[www.kabarindonesia.com]
KabarIndonesia
Masuk Gemuk....keluar tinggal tulang !
Pendahuluan:
Cerita ini adalah kisah sesungguhnya, yang agak pahit kalau ditelan, tapi sangat sayang kalau dibuang begitu saja, dan sengaja ditulis buat kenangan bagi teman-teman yang ditahan oleh rezim Orde Baru/Suharto, sejak 1965, dan juga yang meninggal satu persatu begitu dilepas dari kamp tahanan RTM/TPU Pekanbaru pada 20 Desember 1977, yaitu 30 tahun yang lalu.
Dulu, selagi aku masih muda, aku senang sekali dengan lagu-lagu pop. Baik yang dalam bahasa Indonesia, maupun yang dalam bahasa daerah Jawa, ataupun yang dalam bahasa daerah Minangkabau. Sebab aku dilahirkan di Ranah Minang, walaupun ayah ibuku berasal dari Jawa, jangan heran kalau lagu-lagu Minang menjadi kesukaanku, seperti lagu-lagu yang dipopulerkan oleh Elly Kasim, putri Minangkabau yang berasal dari Tiku Pariaman.
Aku pernah ingat, tahun 60-an, dia menyanyikan lagu Minang yang menjadi sangat populer yaitu "Ayam den Lapeh" (Ayamku lepas) yang mengkisahkan betapa malang dan sedihnya seseorang yang kehilangan "kekasihnya", dimana "seekor" terbang dan "seekor" lepas.
Bagiku, yang masih menjadi "anak sekolah" waktu itu, menganggap dan mengartikan lagu "Ayam den Lapeh" itu sebagai suatu ungkapan sindiran kekecewaan negeri Minangkabau yang berada di persimpangan jalan, antara memilih PRRI yang memberontak di bawah "Presiden"nya Mr. Syafrudin Prawiranegara dan Pemerintah Pusat Repulik Indonesia di bawah. Presiden Dr. Ir. Soekarno !
Karena "janji", atau baiklah kusebut karena ulah atau tingkah kaum pemberontak PRRI tahun 1958 ini, ranah Minang menjadi porak poranda. Tanah Minang berada di persimpangan jalan, berdiri diantara dua pilihan yang masing-masing berlawanan.
Namun, karena situasinya, Ranah Minang "terpaksa memilih" PRRI yang menguasai daerah, ikut melepaskan diri dari pemerintah pusat yang sah, NKRI.
Namun kemudian terpaksa lepas dari PRRI yang memberontak dan berkuasa dengan paksa.
"Seekor" terbang, begitu bunyi lagu itu, yang dapat kuumpamakan sebagai pemerintah pusat, yaitu NKRI dan "seekor" lepas yang dapat diartikan sebagai "pemerintah" pemberontak, yaitu PRRI !
Ranah Minang, terpaksa mengikut PRRI, karena tidak ada pilihan lain, sehingga NKRI "terbang", namun kemudian, PRRI juga akhirnyapun "lepas" setelah berhasil ditumpas oleh Pasukan Militer NKRI yang terkenal dengan sebutan Tentera Pusat !
"Sikua capang, sikua capeh,
Saikua tabang, saikua lapeh,
tabanglah juo lah karimbo,
...oi lah malang juo....."
kata lagu itu.
Karenanya, dengan ditumpasnya PRRI, mau tak mau, Ranah Minang kembali kepangkuan NKRI, dengan sindiran kalimat sesalan:
"Luruihlah jalan Payokumbuah,
babelok jalan ka Biaro,
Dima hati indak ka rusuah,
awak takicuah.......
oi...oi..... Ayam den Lapeh".
(Luruslah jalan Payakumbuh,
berbelok jalan ke Biaro,
Di mana hati tak kan rusuh,
kita terkicuh,
......oi....oi ‘Ayam'-ku lepas !)
Ya, ranah Minang "takicuah" oleh PRRI !
Lagu pop lain yang menjadi perhatian dan ingatanku adalah lagu pop Indonesia yang menceritakan soal "Penjara Tanggerang". Aku sudah tak begitu ingat akan keseluruhan lirik lagu yang menceritakan azab sengsara, hidup penuh derita dalam penjara Tanggerang di Jakarta itu, yang kuingat hanyalah kalimat seperti yang kugunakan buat judul diatas.
Namun seorang teman lamaku memberikan sebagian lirik lagu yang masih diingatnya, yang antara lain berbunyi :
“Tidur di bui menyiksa diri ..
Badan hidup terasa mati ..
Oh Tuhan dengarlah laguku ini ..
Jangan sampai kawan mengalami. ..
Terompet pagi kita harus bangun ..
Tidur di bui pikiran bingung ..
Makan, antri, nasinya jagung ..
Beginilah hidup di penjara Tangerang ..
Masuk gemuk keluar tinggal tulang .. !
Kendatipun hanya berupa lagu, namun bagi yang mendengar merasa cukup ngeri. Waktu itu, setiap orang merasa takut untuk berbuat salah dan berurusan dengan polisi, ditangkap dan masuk penjara, apalagi kalau dikirim ke penjara Tanggerang.......pasti akan "masuk gemuk keluar tinggal tulang" dari tempat yang dikenal sebagai "neraka dunia" itu!
Betapa sangat mengerikan keadaan yang seperti itu ! Para ibu dan orangtua berdoa dan memohon: " amit-amit jabang bayi, ojo ketemu ning anak putuku......" (Semoga jangan terjadi atas anak cucuku) !
Akan tetapi, keadaan yang dianggap buruk di penjara Tanggerang waktu itu, "masuk gemuk, keluar tinggal tulang" ternyata berobah drastis dan menjadi jauh lebih buruk lagi.
Bukan saja hanya "masuk gemuk keluar tinggal tulang", akan tetapi menjadi "masuk hidup keluar mati" ! Ini terjadi ketika Jenderal Suharto naik panggung menjadi Penguasa Zalim di bumi Indonesia sejak akhir 1965. Militer yang punya sejarah kriminil semasa di Kodam Diponegoro ini, berambisi dan bersumpah untuk membabat habis orang-orang yang dituduh komunis, dengan buasnya membunuh jutaan dan memenjarakan ratusan ribu rakyat Indonesia di segenap pelosok tanah air.
Di setiap kota, desa, di mana-mana bergelimpangan mayat-mayat tak berkepala, hasil karya Suharto melalui antek-anteknya, kroni-kroninya dan robot-robot bernyawa yang bisa diperalatnya. Di Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Aceh. Sumatra Utara, di mana-mana di seluruh Nusantara !
Ribuan mayat-mayat terapung di sungai-sungai, ribuan kepala-kepala mayat yang ditancapkan di pinggir-pinggir jalan dan dijadikan pameran sebagai kepala PKI, dan segala macam jenis cara pembunuhan diluar perikemanusiaan, menunjukkan bahwa antek-antek Suharto tidak lain adalah serigala-serigala yang haus darah yang bisa berbuat semaunya dibawah perintah, persetujuan dan lindungan Jenderal Suharto !
Di pulau Bali saja, yang dikenal sebagai Pulau Dewata dan pulau turis, 80.000 rakyat dibabat dan dibunuh oleh Sarwo Edhi/RPKAD hanya dalam dua minggu di bulan Desember 1965, atas perintah Suharto ! Dengan kejadian itu, apakah Pulau Bali masih suci dan masih bisa disebut sebagai Pulau Dewata ataukah mesti disebut sebagai Pulau Bangkai, atau lebih halusnya disebut Pulau Mayat, ketimbang Pulau Dewata ?
Profesor Arief Budiman dari Universitas Melbourne Australia mengatakan :
"Kaum militer dari Jakarta datang ke daerah dan pembunuhanpun mulailah, dilakukan oleh segolongan rakyat bersama dengan militer. Jadi nampaknya dengan kedatangan militer kesana, merupakan petunjuk dan dorongan bagi rakyat untuk menahan orang-orang yang diduga komunis dan membunuh mereka !"
(silakan lihat film dokumen: Riding The Tiger).
Almarhum Letjen Sarwo Edhi Wibowo, Panglima RPKAD yang pada tahun 1964 baru saja tamat training di Australia, menurut pengakuan beliau sendiri sebelum meninggal, telah membunuh tidak kurang dari 3 juta jiwa manusia yang dituduh komunis! (Masya'alah !)
Di bawah kekuasaan Jenderal Suharto, rakyat seolah-olah berada di dalam kandang singa dan serigala lapar yang mencabik-cabik tubuh mereka tanpa bisa memprotes apalagi melawan, seperti jaman Kaisar Nero di Romawi dan Hitler di Jerman....... !
Rakyat yang cuma bercelana kolor atau berkain sarung berhadapan dengan para militer berbedil dan antek-antek Orde Baru yang terdiri dari segala macam bentuk organisasi yang punya embel-embel "komando aksi " dan "angkatan", baik yang pelajar, mahasiswa atau agama yang semua dicekoki dengan kebohongan, penipuan dan dalih Suharto yang tidak masuk akal dan tidak pernah dibuktikan kebenarannya sampai sekarang.
Besi panas peluru militer -para robotnya Suharto- dan senjata tajam para anggota komando aksi menembus dada telanjang dan tubuh manusia yang tak berdosa yang di kambing hitamkan. Rakyat yang tak berdaya, ditusuk, dibunuh di tengah aksi demonstran yang cuma dibiarkan, dipandang, dilihat dengan sebelah mata oleh para militernya Suharto !
(Silakan lihat film dokumenter: Riding the Tiger).
Di Pekanbaru, ibukota Propinsi Riau, keadaannya tidak berbeda dengan daerah dan kota-kota lain di Indonesia. Rakyat ditangkap dan dimasukkan ke dalam kamp tahanan, yang disebut RTM/TPU, di sudut jalan Semar dan jalan Papaya, dijejalkan dalam kamar-kamar sempit yang kotor, bahkan kamar-kamar tanpa ventilasi yang disebut "sel maut".
Di zaman rezim zalim Suharto inilah, setiap orang yang dianggap "ada indikasi", dianggap "terlibat langsung maupun tak langsung dengan G30S", "tidak bersih", apalagi kalau jelas menjadi anggota atau simpatisan PKI atau organisasi-organisasi kiri, atau orang-orang yang di komuniskan, serta anggota dari partai dan organisasi pendukung Presiden Sukarno-apakah itu PNI., Partindo, Baperki, GMNI, Perti dsb. - semua ditangkap dan dipenjarakan bahkan dibunuh .
Semua yang dianggap "lawan" oleh Suharto, dibabat habis, dimasukkan penjara, ditahan belasan tahun tanpa makan yang cukup, sehingga, bukan saja seperti lagu lama Penjara Tangerang, yaitu "masuk gemuk keluar tinggal tulang", akan tetapi "masuk hidup keluar mati, jadi mayat !".
Bahkan, tahun 1968. ketika Ketua Pepelrada/Gubernur Riau sementara dijabat oleh Bupati Kampar Kolonel Subrantas, menggantikan Brigjen. Kaharudin Nasution yang ke Jakarta untuk menghadiri rapat gubernur seluruh Indonesia, tidak kurang dari 49 orang tahanan di TPU/RTM Pekanbaru diambil malam, dan ternyata kemudian, mereka dibunuh tanpa diketahui di mana kuburnya.
Anda ingin tahu nama-nama mereka yang diambil dari kamp tahanan dan dibunuh rezim Orde Baru tahun 1968 ini ?
Barangkali diantara anda pembaca ada yang ingin tahu, maka silahkan baca buku "Riau Berdarah" terbitan Hasta Mitra tahun 2006.
Disitu anda bisa membaca dan menelusuri kurang lebih 300 nama-nama para korban rezim zalim Orba Suharto, baik yang ditahan di RTM/TPU selama belasan tahun, semenjak 1965, maupun yang diambil malam dari tahanan dan dibunuh !
Juga, anda bisa melihat bagaimana jeritan pilu, kisah duka sebagai tapol, disiksa, kurang makan, keluarga dan anak-anak dirampas dan menjadi bulan-bulanan oknum penguasa, hidup menderita tanpa hari depan di dalam kamp tahanan rezim Suharto, disuatu "kota yang indah, aman dan damai" yang disebut Pekanbaru !
Para tahanan, dengan jatah makan yang sangat minim, tidak lebih dari 200 gram perharinya selama belasan tahun, ditambah derita bathin karena ditinggal lari oleh istri atau keluarganya disebabkan takut atau malu karena dirinya tidak suci lagi akibat diperkosa dan menjadi bulan-bulanan antek-antek Orba, atau karena intimidasi, ancaman ataupun bujukan para kaki tangan penguasa, maka tak ayal lagi satu demi satu, mereka-para tahanan-jatuh dan melepaskan nyawa tanpa bisa menghirup dan merasakan udara bebas.
Keadaan yang tidak ubahnya seperti zaman nazi Hitler saat Perang Dunia II , terjadi di dalam setiap Kamp Tahanan Orde Baru.
Jenderal Suharto, dengan praktek pembunuhan massal dan pelenyapan para tahanan dan lawan politiknya itu, sesungguhnya tidak lebih tidak kurang menempatkan Suharto sebagai pembunuh brutal, kejam dan tak berperi kemanusiaan dan tak berketuhanan di dalam abad modern ini.
Bagaimana bisa seorang manusia Suharto yang mengaku beragama, bertuhan, bisa tega membunuh dengan kejam dan brutal jutaan bangsanya sendiri yang tidak bersenjata dan tidak melawan, dan juga menyengsarakan puluhan juta rakyat, kalau tidak Setan yang berada dalam jiwanya ?
Kalau dikatakan dia bertuhan, Tuhan mana yang membolehkan seseorang membunuh manusia lain, apalagi sampai tiga juta lebih ?
Hitler dan Suharto layaknya seperti abang-adik, tak ada bedanya ! Sesungguhnya, sebagaimana Hitler, Suharto juga "menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya" !
Dalam menulis catetanku ini, ingatanku lari kepada teman-temanku yang meninggal karena derita, sakit, kurang makan dan tekanan bathin di dalam kamp tahanan Orba di TPU/RTM Pekanbaru, seperti:
Taufik A. Nopel, Anwar Datuk, Diun, Kartopawiro, Sersan Mulyono (seorang militer dari Yon 444/445 Diponegoro yang ditugaskan di Bangkinang, yang berperawakan tegap dan gemuk, dan selama ditahan menjadi kurus kering tinggal tulang dan meninggal karena kelaparan), Nurdin Kanan, Rajab Siregar, Sudirman dan lain-lain yang kemungkinan namanya terlewat dari ingatanku, disamping teman-teman yang meninggal begitu dilepas tanpa diadili, setelah mendekam belasan tahun dalam kamp tahanan Orde Baru disebabkan segala macam penyakit.yang diperoleh selama ditahan !
Kukatakan "dilepas" karena sesungguhnya mereka bukan dibebaskan, namun cuma dilepas dari kurungan seperti ayam ternak dilepas dari kandang. Seperti ayam, karena "kakinya masih diikat dengan tali"......masih dilacak kemana pergi dan keberadaannya, masih di rantai melalui peraturan-peraturan Orba yang masih berlaku dan entah kapan akan dicabut!
Mengenai ini, terkadang aku berpikir, apakah mereka ini bisa disebut ‘bekas tapol' ataukah masih merupakan ‘tapol' ?
Karena kenyataannya, sampai sekarang hukum dan perturan pemerintah warisan Orde Baru, Peraturan Mendagri Amir Mahmud no. 32/1981 masih digunakan atas mereka. Secara hukum, mereka tidak pernah dibebaskan, mereka tidak pernah diadili dan mereka tidak atau belum direhabilitasi. !
Mereka masih dianggap "bahaya latent" yang menular dan harus dijauhi !
Mereka masih dikucilkan, masih tidak boleh ini, tidak boleh itu.
Dan "berkat dan jasa" Suharto yang menjadi diktator selama puluhan tahun, anak-anak dan keluarga dari mereka yang pernah menjadi lawan politik Suharto, takut dan malu untuk mengakui ayah, ibu atau leluhurnya sendiri, karena leluhurnya adalah bekas tapol Orba atau yang dianggap PKI.
Tidak ubahnya seperti legenda Minangkabau, si "Malin Kundang" yang tidak mau mengakui ibunya yang buruk, tua dan jelek, karena malu dan takut kepada istrinya yang cantik dan kaya raya !
Ya, Suharto telah berhasil merobah budaya bangsa Indonesia, dengan rasa kebencian politik busuknya, merobah tatacara hidup, adat dan sopan santun jutaan anak-anak bangsa untuk melupakan, tidak mau tahu bahkan takut mengakui para leluhurnya sendiri, karena perturan Orba/Suharto yang menyatakan bahwa "keturunan PKI dan bekas tapol tidak dibenarkan menjadi pegawai negeri bahkan tidak dibenarkan kawin dengan militer/ pegawai negeri" !
Kendatipun menjelang Pemilu yang lalu telah ada undang-undang’ membolehkan para bekas PKI memilih dan dipilih, namun prakteknya, undang-undang tersebut cumalah embel-embel belaka karena masih banyaknya segala diskriminasi disemua bidang dengan cara-cara penguasa yang mencoba menutup-nutupi undang-undang dan hak kemanusiaan para bekas PKI.
Suharto memang telah berhasil merusak budaya bangsa Indonesia, menjadikan Indonesia makin terpuruk ke dalam pola hidup saling curiga mencurigai, dan kebencian !
Jutaan "Malin Kundang" telah dilahirkan oleh Suharto melalui peraturan yang diskrimatif dan tidak manusiawi !
Bahkan ada juga orang-tua yang terpaksa, sekali lagi: terpaksa, demi anak-anaknya , menyembunyikan identitasnya sebagai bekas tapolnya Suharto, karena takut anaknya bakal dikucilkan oleh masyarakat keliling yang telah di-momok-i oleh cecunguk-cecunguk Orde Baru yang dicecok dan dididik dengan ajaran kebencian dan kebejatan moral bangsa yang melanggar HAM dan ke Tuhanan, yang ditanamkan oleh Suharto selama puluhan tahun !
Dan jutaan anak bangsa telah menjadi korban Jenderal Suharto dan Orde Baru serta partai-partai pendukungnya dengan segala macam peraturannya
! Tidak heran, kalau dikatakan bahwa sesungguhnya, Jenderal Suharto adalah mbahnya kebejatan moral bangsa serta terorisme !
Bahkan "penguasa" terutama pihak militer, sampai hari ini masih ingin mendaftar dan menyelidiki mereka, para bekas Tapol, melacak di mana keberadaan mereka dan keturunan mereka! Masih mengintimidasi anak-anak dan keluarga bekas PKI/tapol.
Para penguasa seolah-olah lupa atau tidak ambil pusing samasekali bahwa kita sekarang berada di jaman demokrasi, namun mereka masih tetap bernyanyi dan menari menurut gendang lama ! Lagu dan gendang Orba Suharto !
Sesungguhnya, situasinya masih sama, zaman Orba atau zaman Reformasi atau demokrasi, tidak ada perbedaan, yaitu sama seperti ketika mereka, para tapol masih berada dalam tahanan !.
Jadi, sebutan bekas tapol, bekas tahanan politik, cumalah sekedar embel-embel untuk mengenakkan kuping mendengar, namun hakekatnya kosong samasekali.
Mereka tetap tahanan politik di bumi sendiri, menjadi anak tiri atau warga kelas kambing, menjadi kaum pariah di negeri sendiri sampai sekarang !
Buktinya ?
Apa yang mereka lakukan, walaupun sudah minta izin kepada penguasa untuk berkumpul atau berorganisasi buat perlindungan diri, bersatu dalam organisasi yang diijinkan oleh pemerintah/ penguasa, namun antek-antek Suharto yang pakai nama "anti komunis" dan segala "angkatan" dan "front" tetek bengek, melakukan aksi dan teror premanisme serta melanggar HAM dan Pancasila, mewarisi praktek-praktek Suharto !
Lucunya, pihak "alat negara", pihak "penjaga keamanan" dalam Pemerintahan yang tidak punya keberanian ini, yang seolah-olah seperti "banci, bencong, pondan atau akua", cuma nonton sambil memicingkan mata dan pura-pura tidak tahu dan tidak mendengar terhadap kebrutalan dan aksi premanisme sisa-sisa rezim Suharto itu !
Mereka, para penguasa, menganggap jutaan rakyat yang menderita cumalah sebagai sampah yang tidak berharga, hanya untuk diinjak-injak dan dibuang !
(Syukur, selama menjalani berbagai macam derita di dalam Kamp Tahanan rezim Orde Baru/ Suharto di TPU/RTM Pekanbaru belasan tahun, masih ada beberapa kawan yang mentalnya masih bertahan kendatipun jasmaninya rusak binasa, sehingga masih bisa menjadi saksi hidup atas kebrutalan, kekejaman dan kebiadaban rezim zalim Jenderal Suharto/Orba !)
BACA JUGA :
"Kanai Saratuih" ! Nasib Buruh CALTEX yang di-PKI-kan (Kenangan dan Cerita Seorang Bekas Tapol (2):"Kanai Saratuih......!" )
Blog: http://www.kuis-bola.blogspot.com/
Email: redaksi@...
Big News Today..!!! Let's see here: www.kabarindonesia.com
[Non-text portions of this message have been removed]