“… PERJUANGAN MELAWAN KEKUASAAN adalah PERJUANGAN INGATAN MELAWAN LUPA ..."

dhia_prekasha's posts with tag: 27 juli

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag 27 juli

27 JULI: HARI RAKYAT DIBANTAI

[INDONESIA-L] PUDI - Daulat Rakyat, (r)

From: apakabar@clark.net
Date: Sun Jul 20 1997 - 11:45:00 EDT


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.8.5/8.7.1) id OAA27445 for
reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Sun, 20 Jul 1997 14:45:01 -0400 (EDT)
Subject: [INDONESIA-L] PUDI - Daulat Rakyat, 21 Juli 1997

Forwarded message:
From
owner-indonesia-l@indopubs.com Sun Jul 20 14:42:16 1997
Date: Sun, 20 Jul 1997 12:33:01 -0600 (MDT)
Message-Id: <
199707201833.MAA22901@indopubs.com>
To:
indonesia-l@indopubs.com
From:
apakabar@clark.net
Subject: [INDONESIA-L] PUDI - Daulat Rakyat, 21 Juli 1997
Sender:
owner-indonesia-l@indopubs.com

INDONESIA-L

Date: Sun, 20 Jul 1997 13:15:57 +0700
To:
apakabar@clark.net
From: bintang <
bintang@dnet.net.id>
Subject: Daulat Rakyat 21 Juli 1997

 

DAULAT RAKYAT  Opini Rakyat Indonesia

Diterbitkan oleh Partai Uni Demokrasi Indonesia

Terbit setiap hari Senin
Edisi Senin, 21 Juli 1997

 

Pasal 28 UUD :
Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang.

 

27 JULI: HARI RAKYAT DIBANTAI

 

Sabtu pagi 27 Juli 1996 sekitar pukul 6.15 itu sebanyak tujuh truk berwarna kuning, mirip truk sampah, yang sarat dengan pemuda berkaos merah berhenti di depan kator DPP-PDI jalan Diponegoro.

 

Para pemuda berkaos merah bertuliskan "Pro Kongres Medan" itu segera turun, dan dengan bersenjatakan batu, pentungan dan senjata tajam segera melakukan provokasi terhadap Satgas PDI dari kubu Megawati yang sedang menjaga gedung DPP-PDI.

 

Para pendatang ini melempari Satgas PDI ini dengan batu. Di sini serangan yang pertama batu dimulai.

 

Lima belas menit kemudian, sekitar 500 personil dari pasukan anti huru-hara dengan peralatan lengkap, seperti tameng, tongkat dan tabung gas air mata tiba di tempat yang sama. Mereka membantu serangan batu terhadap gedung PDI ini.

 

Sepuluh menit kemudian tiba pula ratusan tentara yang dibantu oleh dua panser. Panser diparkir di bawah jembatan layang kereta api di belakang kantor Pos Polisi Megaria.

 

Pada sekitar jam 7.30, Kapolres Jakarta Pusat, Letkol (Pol) Abubakar Nataprawira mencoba menghentikan perang batu untuk bernegosiasi dengan para Satgas PDI. Tetapi perundingan gagal. Dua ambulans yang datang untuk mengangkut mereka yang terluka ditolak Satgas masuk halaman.

 

Serangan batu kedua dimulai pada jam 8.15. Kali ini hujan batu lebih hebat.

 

Pasukan anti huru-hara mulai merapat ke pagar tembok, dan dengan komando Dandim Jakarta Pusat, Letkol Jul Effendi, pagar bagian Timur berhasil dijebol dan masuklah "pasukan merah" ke dalam gedung. Maka terjadilah penyerbuan berdarah itu! "Genangan darah itu membuatku merinding. Jeri tangis dan lolongan serta permintaan tolong terdengar dari mereka yang terluka. Mereka menyebut-nyebut kebesaran nama Allah", seorang saksi menceritakan kembali apa yang dilihatnya.

 

Sekitar setengah jam kemudian tampak sejumlah Satgas PDI dan empat wanita yang selamat dari penyerbuan digelandang naik ke truk aparat. Sedangkan puluhan dari mereka yang terluka dan mati ditandu masuk ke ambulans polisi yang mondar-mandir datang dan pergi.

 

Seluruh peristiwa tersebut disaksikan oleh belasan wartawan yang memang sudah bertahan semalaman sebelum penyerbuan. Tetapi mereka diusir oleh aparat menjelang saat-saat penyerbuan, sehingga akhirnya mereka hanya bisa menyaksikan dari jarak ratusan meter di bawah jembatan layang kereta api.

 

Setelah peristiwa penyerbuan berdarah itu, secara berangsur-angsur ratusan masa mulai berdatangan dan terkonsentrasi di pertigaan Megaria. Mereka tidak saja dari para anggota dan simpatisan PDI, tapi juga para pemuda dan pelajar, mahasiswa, aktivis LSM, buruh, pedagang kaki-lima an penduduk biasa lainnya.

 

Mereka inilah yang selama Mimbar Bebas yang digelar sebulan penuh sebelumnya berkerumun di sekitar Gedung DPP-PDI. Mereka meneruskan Mimbar Bebas di bawah jembatan layang, dan berpidato mengecam penyerbuan berdarah itu.

 

Situasi semakin memanas dengan semakin banyaknya masa yang berkumpul. Ratusan tentara akhirnya diterjunkan pula di sekitar lokasi dari arah Bunderan HI dan Cikini.

 

Pada sekitar jam 14.00 Bambang Widjojanto, Ketua Dewan Pengurus YLBHI, RO Tambunan, Ketua Tim Bantuan Hukum PDI-Megawati, serta Soetardjo Soerjogoeritno dari DPP-PDI tampak keluar dari gedung YLBHI menuju ke gedung DPP-PDI untuk berunding dengan pihak aparat.

 

Belum lama perundingan dimulai dengan pihak Kapolres, tiba-tiba Letkol Jul Effendi meneriakkan "Majuuu!" sebagai perintah bagi anak buahnya untuk maju. RO Tambunan berusaha mencegah, tetapi Jul Effendi tidak peduli, bahkan memberi komando: "Serbuuu!" ke arah kerumunan masa.

 

Ratusan tentara menyerbu ke kerumunan ratusan rakyat! Setelah itu terjadilah malapetaka kedua! Kerumunan masa berhamburan dan tubuh-tubuh bergelimpangan jatuh di jalanan. Masa rakyat yang masih sempat berlarian ke arah Salemba , Matraman dan Cikini di sepanjang jalan Diponegoro dan jalan Proklamasi.

 

Para tentara yang masih kelihatan muda-muda itu dengan kalap mengejar,  menyerang dan menganiaya setiap otrang yang terkejar. Mereka tidak peduli dengan siapa saja yang mereka temui, pemuda, mahasiswa orang yang sedang berjalan, tukang-tukang warung, pedagang kaki lima dan semua orang yang dijumpai di jalanan.

Dengan mata beringas mereka berteriak-teriak histeris menghujat PDI dan Megawati dengan kata-kata kotor sambil mengayunkan pukulan dari tangan dan kaki mereka.

 

Setengah jam kemudian mulai terdengar ada letusan dikejauhan. Asap hitam kelihatan membubung tinggi di arah Salemba. Ada bus yang dibakar di depan RSCM Tjiptomangoenkoesoemo. Gedung pertanian dibakar pula. Rupanya di daerah Salemba dan Matraman terjadi pula konsentrasi masa. Rakyat bertahan di sana.

 

Para tentara terus mengejar. Apa yang terjadi kemudian adalah amukan masa. Meskipun beberapa gedung dan puluhan kendaraan terbakar, yang nantinya melahirkan berbagai teori siapa pelaku yang memulai pembakaran itu, tetapi sampul majalah TIME dan The Economist dengan jelas memperlihatkan foto seorang pemuda yang sedang melemparkan bom molotov dari tangan kanannya, tetapi dengan menggenggam sebilah sangkur militer di tangan kirinya.

Baru tiga bulan kemudian, 12 Oktober, Komnas HAM muncul dengan laporan finalnya tentang korban yang jatuh: 5 tewas, 23 hilang, dan 149 terluka. Sampai hari ini tidak diketahui nasib 23 orang yang hilang itu. Sangat diduga mereka telah tewas dan dikubur entah di mana.

 

Tentu saja angka korban Peristiwa 27 Juli itu sangat kecil dibanding dengan penyerbuan yang brutal dari para militer kita di Peristiwa Tanjung Priok (1978), Peristiwa Lampung (1989) dan Peristiwa Santa Cruz (1991) serta banyak peristiwa lain. Tidak saja orang-orang dewasa yang terbunuh dalam peristiwa kebrutalan militer itu, tetapi juga wanita, anak-anak, dan bahkan bayi pun ikut dibantai dengan cara yang amat keji.

 

Rakyat Indonesia tidak akan pernah lupa atas berbagai peristiwa pembantaian oleh militer terhadap rakyat kecil sipil Indonesia yang sekedar menuntut-hak-hak mereka yang asasi itu.

 

Kejadian demi kejadian itu jelas merupakan pelanggaran terang-terangan atas hak-hak rakyat untuk hidup secara merdeka dalam alam Indonesia merdeka di mana rakyatlah yang berdaulat. Kita semua masih ingat akan cita-cita kemerdekaan, terlebih-lebih karena itu tertulis jelas dalam Mukadimah Konstitusi:

 

". . . . Kemudian daripada itu, untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. . . ."

 

Untuk mengingat kembali tumpahnya darah rakyat dalam alam kemerdekaan ini, maka dengan ini kami, atas nama rakyat Indonesia, menetapkan 27 Juli sebagai Hari Rakyat Berkabung Nasional. Itu adalah tragedi nasional yang tidak boleh terulang kembali.

 

Tentu saja berbagai peristiwa di mana ribuan rakyat kecil terbantai sebelum itu jauh lebih besar dan hebat daripada Peristiwa 27 Juli itu sendiri. Kami tidak ingin memperkecil makna peristiwa-peristiwa sebelumnya.

 

Bahkan dalam Peristiwa Lampung hingga sekarang, selain ratusan dari mereka yang terbantai, masih puluhan dari mereka yang dituduh "mendalangi" peristiwa itu mendekam di penjara-penjara di Indonesia. Di antara mereka ada yang harus mendekam dalam penjara seumur hidup di Nusa Kambangan, tanpa mendapat grasi. Ketika mereka harus masuk penjara banyak di antaranya masih usia kurang dari 20 tahun. Padahal dalam peristiwa 27 Juli 1996, tidak ada satupun yang sekarang masih meringkuk di penjara.  

 

Kami tidak bermaksud memperkecil makna peristiwa-peristiwa sebelum itu. Kita hanya tidak ingin peristiwa pembantaian terhadap rakyat kecil itu terulang kembali setelah tanggal 27 Juli 1996 itu.

Kalau suatu ketika nanti, tanggal 7 Februari akan dinyatakan sebagai Hari Jihad Nasional untuk memperingati Peristiwa Lampung; atau ada hari khusus untuk memperingati Peristiwa Tanjung Priok dan Santa Cruz, kami akan mendukung pula.

 

Jakarta, 18 Juli 1997

Daulat Rakyat: Edisi 21 Juli 1997

 

27 Juli 96 Saat Pendukung Megawati Sukarnoputri Ditindas

http://www.youtube.com/watch?v=g09owmdU50g&feature=related

 

<object width="425" height="355"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/g09owmdU50g&hl=en"></param><param name="wmode" value="transparent"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/g09owmdU50g&hl=en" type="application/x-shockwave-flash" wmode="transparent" width="425" height="355"></embed></object>

 

Riots in Jakarta against Suharto dictatorship imposing own leader on Democratic Party on July 28, 1996.

 

 


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help