“… PERJUANGAN MELAWAN KEKUASAAN adalah PERJUANGAN INGATAN MELAWAN LUPA ..."

dhia_prekasha's posts with tag: a kohar ibrahim

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag a kohar ibrahim

A.Kohar Ibrahim: Kreasi Opini & Puisi Layak Kaji

                                                           

             

         

          

         

 

 

 

 

 

 

 

Indonesiancommunity    

 

    Kreasi Opini & Puisi Layak Kaji   oleh :  Ibrahim Abdul Kohar

http://indonesiancommunity.multiply.com/reviews/item/192 

Category :             Other:                                                                                   

Sekitar Aktivitas Kreativitas Tulis Menulis Di Luar Garis (10)
Oleh: A.Kohar Ibrahim

*     Aku melawan malam,

memusuhi kelam
yang menyembunyikan wajah wajah jelek
yang menyuburkan kebejatan
yang mengaburkan kemunafikan


(HR Bandaharo)


*     Geguritan iki mung aweh kabar

ing njaba bathang bosok pirang-pirang
apa irungmu ora mambu
thok! thok! thok!
sing teka aku kanca
lawangmu ngakna

(Widji Thukul)

* 


KREASI N° 3 Tahun 1989 tebalnya 88 halaman berisi prosa dan puisi, dengan kreasi opini yang dominan kebanding sajak-sajak. Namun demikian, tak urung akan makna pentingnya dalam mengutarakan peran para penyair, istimewa sekali kehadiran penyair rakyat bernama Widji Thukul. Pertanda memang sudah sejak pada awal mula aktivitas-kreativitasnya kami turut menyambut sekaligus menghargai kehadirannya.

"Dihadapan kreasinya seorang seniman telanjang bulat -- kata pribasa yang berdasarkan kenyataan kerja. Perbuatan," tulis saya selaku Penyaji pada halaman Sekedar Pengantar. "Sesungguhnya itu berlaku bagi siapa saja. Sekalipun terhadap seniman cepatnya reaksi

atas aksi (aktivitas dan kreativitas) seringkali lebih menonjol dan tak terhindarkan. Sekali

pun berupa cemoohan. Besar kecil, banyak sedikit, tinggi rendah mutu kreasi pasti menjadi dasar penilaian. Publikasi sebagai kemestian. Sedangkan pambalonan atau kongkalingkong kariris tak akan dapat bertahan dalam ujian kenyataan dan kebenaran." (hlm 2)

Itulah makanya semboyan "menyambut menghargai menyebarluaskan kreasi" kita lancarkan atas dasar kerja dan kreasi kongkrit, dengan semangat berdikari dan kesetiakawanan. Sebagai suatu usaha yang bertentangan dengan usaha pembual, penghina, pembungkam, pembendung dan penumpas kreativitas budaya manusia.


Bagi para kreator dan aktivis tanpa pamrih sesungguhnya celotehan "yang diam diam bukan berarti tak bekerja" itu tak ada artinya. Kerna aktivitas dan kreativitasnya bicara dengan sendirinya. Selain yang "tempo doeloe", apa dan bagaimana selama lima tahun? Sepuluh tahun? Seperempat abad (!) terakhir ini? Dalam pengekangan, pengejaran, pemenjaraan dan kesulitan lainnya atau di bawah ketiak yang memiliki kekuasaan dengan segala fasilitas atau hak-hak istimewanya?

"Selama hampir seperempat abad", tulis saya lebih lanjut dalam Sekedar Pengantar tertanggal Erobar Oktober 1989 itu, menggaris-bawahi, bahwa, "kekuatan gelap di negeri kita tak henti-hentinya melakukan tindakan biadab. Dari sekitar terjadinya kudeta militer dengan pembunuhan massal dan kamp-kamp konsentrasi bagi Tapol sampai pada suasana teror seperti "bersih lingkungan" yang antara lain tercermin dalam heboh "Kias-Bagong" dan penjara bagi penyebar buku Pramoedya. Selama itu bermunculan berbagai sikap terhadap Orba. Ataukah sikap yang mem-Bagong ataukah yang mem-Pramoedya: dengan berbagai nuansanya. Ada yang seperti bunglon atau menurut istilah Pram sebagai "kutu lompat". Pokoknya asal selamat dan untung bagi diri sendiri. Ada pula yang melagak seperti Bagong itu. Visinya persis seperti katak dalam tempurung demi kepuasan selera oportunisnya: abs -- asal bapak senang! Maka melontarkan fitnahan ke alamat mereka yang dianggap lawan merupakan kewajiban.

"Seorang Jenderal pernah bilang bahwa fitnahan itu lebih jahat dari pembunuhan," lanjut saya, pada hlm 3, tanpa menyebut nama sang jenderal yang sebenarnya adalah Jenderal A.H. Nasution, seraya menegaskan: Dalam kenyataannya, tanpa fitnahan yang diiringi pengejaran, penangkapan, penyiksaan, pemenjaraan serta pembunuhan massal atas kekuatan rakyat yang tak berdosa itu kekuasaan Orba tak mungkin tegak. Dengan bertopeng kebaktian dan dengan menggunakan gada negara!

Sungguh! laknatlah para pemfitnah, pembungkam dan penindas! Celaka pula yang membungkam membelenggu diri dan berjiwa budak serta mereka yang mencoba-coba melupakan malapetaka yang menimpa rakyat Indonesia selama seperempat abad. Tak bisa! Selama kita berdiri di barsian penentang kegelapan dan menyambut datangnya Fajar. Sebagai saksi sekaligus spenggugat. Biar algojo-algojo itu telanjang bulat di depan pengadilan rakyat yang bersejarah. Tanpa topeng tanpa senjum di muka mereka." (hlm 3)


*
  B. Resobowo Menjawab Bagong

JIKA ada salah seorang seniman senior yang kompeten bicara soal kenalan lamanya di bidang senirupa adalah Basuki Resobowo. Seperti tentang Affandi. Segera setelah mengetahui ada orang ngomong serampangan mengenainya, Resobowo bersuara. Termuat dalam brosurnya yang berjudul "Jawaban teradap kecaman Bagong Kussudiardjo."

Demikian alinea pertama "Catatan & Berita Budaya" Kreasi nomor 3 1989 yang merupakan rubrik D. Tanaera alias A. Kohar Ibrahim (hlm 4--15), demi mengangkat-ungkap opini penting sang pelukis senior yang terkandung dalam karya tulisnya dalam bentuk brosur yang langka lantaran keterbatasan oplah penerbitannya.

Brosur itu memuat beberapa kutipan majalah dan koran Indonesia dalam bulan April yang lalu (1989, AKI) -- menyiarkan protes, kecaman dan fitnahan dari Bagong atas beberapa seniman rakyat Indonesia seperti Hendra, Djoko Pekik dan Lian Sahar. Menurut rencana, mereka akan diikutsertakan dalam pameran kebudayaan di AS (KIAS). "Dulu mereka itu pengkhianat bangsa, kok sekarang mau enak-enak menikmati kelonggaran," kata penari sekaligus pelukis itu.

Dalam heboh itu terkaitlah nama tokoh-tokoh yang terkemuka di bidang senirupa Indonesia seperti Affandi dan Soedjojono. Terdapat suara sumbang mengenai mereka. Khususnya mengenai Affandi, bahkan puterinya Kartika yang juga pelukis, mencoba "membela" bapaknya. Dia menyatakan bahwa Affandi sama sekali bukan anggota Lekra.

Hidup di dalam rumah kaca maka usaha Kartika itu cuma akan menerbitkan senyum sinis Pak Kamtib atau Pak Bakin. Kerna aktivitas dan kreativitas Affandi dizaman Orla cukup terdokumentasi dan gamblang. Resobowo menilai kenalan lamanya itu sebagai nestor dan mentor dari perkembangan seni lukis yang berwatak Indonesia modern. Suatu penilaian yang penuh kesungguhan, kerna memang sesungguhnya baik Affandi dan Soedjojono maupun Resobowo, ketiganya merupakan perintis dari gerakan kebudayaan rakyat Indonesia.

Mengenai Bagong, Basuki Resobowo menilainya baik sebagai penari maupun pelukis dia seorang seniman yang tak mampu melahirkan gebrakan baru dan berperilaku penjilat. Memang Bagong sendiri menyatakan: "Saya ingin mrngikuti anjuran pejabat tinggi untuk tidak mentolerir Komunis."

Menurut Resobowo, Bagong terlalu gegabah, besar mulut tapi pengecut yang bersembunyi di bawah ketiak yang berkuasa, melontarkan tuduhan yang sekaligus juga hukuman terhadap Lekra sebagai "pengkhianat bangsa". Kerna, jika dikaji dengan jujur berdasarkan fakta-fakta, maka terbukti yang mengkhianati bangsa Indonesia adalah mereka yang menumbangkan rezim Sukarno.


*  Magusig O Bungai Bela Lekra Kecam Orba

PERTENGAHAN tahun 1989 kita terima "Serie Pers Alternatif" nomor 1 dan 2. Lagi suatu inisiatip yang menggembirakan dalam situasi sekarang ini. Oleh siapa dan di mana pun juga, segala usaha demi membangkitkan kesadaran massa mesti kita sambut. Demikian baris-baris kata lanjutan rubrik "Catatan & Berita Budaya" (hlm 6).

Kedua nomor itu memuat tulisan Magusig O Bungai. Yang pertama berjudul "Bukan kejahatan dan tidaklah nista menjadi anggota Lekra dan simpatisannya"; sedangkan yang kedua "Politik kebudayaan Orde Baru dan pembangunan kebudayaan nasional". Dalam yang pertama, sebagaimana Basuki Resobowo, Magusig juga bersuara untuk membela Lekra dan membantah tuduhan Bagong dengan menempatkannya pada posisi sebenarnya. Dalam nomor 2, dikecamnya politik kebudayaan Orde Baru yang tidak konstitusional, sangat subyektip sehingga menimbulkan dampak-dampak merusak terhadap kehidupan kebudayaan.

Mesikpun bukan tergolong seniman senior seperti B. Resobowo, Magusig O Bungai adalah salah seorang seniman rakyat yang telah banyak mengenyam asam garam dan lincah di masa kiprah budaya dahulu. Dia tahu apa yang dikemukakannya, termasuk perihal seorang macam Bagong.

Kita akan perlakukan sumbangan pikirannya yang berharga itu dengan sepantas-  pantasnya.


* 
Komentar Popo Iskandar

MENGENAI KIAS yang menghebohkan itu, kiranya patut dicatat komentar salah seorang sarjana sekaligus spelukis Popo Iskandar. Termuat dalam Majalah Tempo 12 Agustus 1989. Dia menekankan keharusan memanfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya. Dengan menunjukkan arti penting publikasi. Sebab, hal itu merupakan hidup-mati seni modern.

Sejak ribut-ribut ada atau tidaknya "cap Indonesia" pada seni lukis Indonesia sampai ke gagasan pameran KIAS itu, kata Popo, masalah-masalah lama yang tidak terselesaikan secara tuntas masih tetap saja menghantui. Terkatung-katungnya masalah ini lebih banyak disebabkan sebagian seniman kita kurang menghayati perkembangan seni modern secara menyeluruh.

Menurut Popo, kepekaan seniman Indonesia terlalu emosional dalam menanggapi komentar orang lain. Baginya, seniman bukanlah peragawan yang selalu harus dapat menanggapi dan menghayati seni yang dia sandang. Bagi peragawan, cemoohan adalah suatu kehancuran. Bagi seniman, cemoohan adalah tantangan yang harus diungguli.

Meskipun cuma 5 musium dari 30 musium yang dijajaki bersedia menampung pameran KIAS dan adanya usul-usul agar rencana itu dibatalkan saja, dengan alasan akan menjadi bahan lelucon yang memalukan bangsa, Popo berpendapat resiko apapun mesti dihadapi dan diatasi demi kesempatan yang langka itu. "Seni modern berkembang, dan akhirnya mendapatkan apresiasi melalui cemoohan" kata Popo. "Sejarah seni bukan perkembangan dalam arti penimbunan kumulatif dari penemuan dan pemikiran yang berkesinambungan seperti halnya ilmu pengetahuan, tetapi merupakan mararantai tak berkesudahan antara aksi dan reaksi."


*
  Senirupa Jakarta


RESMI dan bukan resmi, di ruang pameran seperti lazimnya atau di pasaran, di ruang sekolah, kantor-kantor dan sebagainya para kreator seni rupa Indonesia menurut kemampuannya masing-masing terus berusaha memamerkan kreasi mereka. Selain ada yang mampu tampil dengan pameran tunggal, tapi juga seringkali dalam pameran bersama. Untuk memecahkan berbagai problim, mereka berusaha mendapatkan sponsor dan bergabung dalam koperasi-koperasi. Seperti Koperasi Seniman & Perajin (Kopsera).

Sebagian kecil pelukis Indonesia telah berhasil dalam eksistensi mereka dengan menikmati hasil kreasinya, namanya mencuat. Tapi sebagian besar mesti terus bertarung untuk mengatasi seribu satu kesulitan. Sama halnya di bidang-bidang kesenian lainnya.

Sejumlah kreator seni rupa yang menampilkan diri di Jakarta dalam kondisi demikian antara lain tercatat nama-nama lama dan baru seperti: Adi Munardi, Adhy T, Agus Salim St, Agus Djaja, Abdulrachman, Amrus Natalsya, Arsono RM Suarso, Astari Rasyid, Aswir Azhari, Bramasto, Bambang Aryanto, Bernali Pulungan, Budi SR, Dimaz Pras, Dwidjo Widiyano, Djen Arip, D. Panulu H., Dede Eri Supria, Gulton, G.M. Sudarta, Godod Sutejo, Hardi, Hary Prakosa, Harry Susanto, Harry Pribadi, Harlim, Hatta Hambali, Hardjanto, Henky, Herry Mujiono, Hasto Prasojo, Irsam, Ibnu Nurwanto, Imam Subekti, Idran Yusuf, Kartini Basuki, Kismono, Lim Tek Lam, Lugiono, Mansjur, Moelyadi, Mustika, Muryoto Hartoyo, Nunung Ws, Nashar, Nanang Sukmara, Nordono, Nisan Kristiyanto, Otto Djaya, Rabet MS, Suparto, Salim M, Sampurno, Sukamto DS, Sarnadi Adam, Sorentoro, Samudra, Sri Warso Wahono, Semsar Siahaan, Sri Hartono, Simon Simorangkir, Suhartono H, Siti Roelijati S, Siti Adiati, Sigit Setiarso, Supriyadi, Sugiarto, Sunandar Agus, Sukaptiyanto, Sudarwoto, Sudaryono S, Sedijadi, Syawalludin MG, Tantio Adjie Ar, Tarmizi Firdaus, Titiek Sunarti, Ugo Haryono, Wahyoe Wijaya, Wiwiek Y, Zaenal Ahmad, T. Ginting S., T. Komara, Kidro, Erman S, M. Ismail, B. Suwarto, Studio Grafisia.


*
  Penjara Bagi Intelektual Muda BBB

KATAKANLAH merah merah putih putih. Menyatakan merah putih sebagai warna tanah air. Kata seorang penyair dalam menyanyikan kebenaran dari kenyataan. Tapi memang ada konsekwensinya -- bukan bagi penyair atau sastrawan belaka, tapi juga bagi yang awam.

Begitulah resiko yang ditanggung oleh Bambang Isti Nugroho dan Bambang Subono. Kedua mahasiswa itu dituntut hukuman 10 tahun penjara oleh aparat pengadilan Orba di Yogyakarta lantaran menyebarkan buku terlarang karya Pramoedya Ananta Toer dan mengetengahkan buah pikiran mereka dalam diskusi mengenai situasi Indonesia yang diselenggarakan oleh Kelompok Studi Sosial Pelagan. Aktivitas itu dianggap subversiv, kerna adanya konstatasi bahwa pendidikan di Indonesia cenderung menjadi elitis dan tidak demokratis, kondisi wanita pedesaan adalah paling jelek kebanding di kota-kota, perkembangan ekonomi belum sampai pada anggota masyarakat yang paling miskin, sistim pemerintah tidak demokratis dan terdapat jurang perbedaan antara yang miskin dan yang kaya yang sering menyebabkan problim sosial.

Bambang Isti Nugroho dan Bambang Subono ditangkap bulan Juni 1989, seorang intelektual muda lainnya bernama Bonar Tigor Naipospos juga ditangkap. Dalam kaitan tuduhan sama.

Betapa tegarnya kebenaran itu! Sehingga untuk melindungi kemunafikan dan kepalsuannya rezim Orba mesti selalu menggunakan pentung garda negara!


* 
Tas Pilihan Putu Oka Sukanta

TAS Pilihan Putu Oka Sukanta (terbitan Stichting Budaya Amsterdam 1989) berisi sebuah cerpen dan sekumpulan sajak yang kami pilih secara subyektip. Sebagai sambutan kami ala kadarnya atas kreativitas luarbiasa seorang seniman yang telah memberikan sumbangan berharga pada khasanah kebudayaan Indonesia dan yang tahun ini mencapai usia setengah abad.

Putu Oka Sukanta lahir di Singaraja, Bali, pada 29 Juli 1939. Sejak masa remaja telah menulis sajak dan cerpen. Mula-mula di suratkabar daerahnya, lalu di berbagai suratkabar dan majalah Yogyakarta, Semarang dan Jakarta. Sejumlah karyanya telah diterjemahkan kedalam bahasa Belanda, Jerman, Perancis, Inggris, Rusia dan Cina. Buku-bukunya yang sudah terbit: I. Belog (1980, kumpulan cerita anak-anak Bali), Selat Bali (1982, kumpulan sajak), Salam (1985, kumpulan sajak), Tembang Jalak Bali (1986, kumpulan sajak), Tas (1986, kumpulan cerpen) dan Luh Galuh (kumpulan cerpen).

Selain kritikus dalam negeri, juga kritikus luar negeri seperti Keith Foulcher dan David T. Hill telah menghargai sepantasnya kreasi Putu Oka. Sedangkan seorang penyair terkemuka Malaysia Usman Awang menyatakan, bahwa "Meskipun kebanyakan puisi Putu Oka begitu pribadi sifatnya, namun segala pengalaman yang dituangkannya tetap mempunyai hubungan kaitan dengan kehidupan yang lebih luas, sehingga pembaca sama merasakan kehinaan, sama merasakan kepedihan, dan sama pula menumpang harapan."

Selain menulis Putu Oka juga aktip di teater dan deklamasi. Sebagai deklamator terbaik di Bali pada tahun 1958, pemenang II dalam lomba bercerita Dongeng Lingkungan Hidup Jakarta. Karenanya ia sempat diundang untuk mengikuti Popular Theater Workshop di Srilangka pada tahun 1982 dan di Bangladesh pada tahun 1983. Pada tahun 1985 ia memenuhi undangan Dewan Bahasa dan Pustaka Kuala Lumpur untuk membacakan sajak-sajaknya. Dalam tahun itu juga ia diundang untuk selain berceramah tentang sastra Indonesia juga membacakan sajak-sajaknya di beberapa universitas Australia. Sedangkan di Jakarta, ia telah beberapa kali membacakan kreasinya di Goethe Institut.

Seniman Indonesia yang telah dan terus menghasilkan kreasi bermutu tinggi ini adalah seorang yang tangguh sekaligus berperasaan halus. Seperti halnya Pramoedya, Banda, Apin, Hersri dan banyak seniman rakyat lainnya, Putu Oka juga pernah menghuni Hotel Prodeo Orde Baru. Selama 10 tahun! Lembaran sejarah hidupnya yang istimewa itu mempunyai pengaruh besar dalam aktivitasnya secara umum maupun dalam kreativitas seninya. Hal mana dapat kita cicipi isi Tas Pilihan ini.

*  JORIS IVENS

JIKA dalam abad Ke-XX ini ada orang Belanda yang karena aktivitas dan kreativitasnya dijuluki Pelanglang Buana, seniman berkaliber raksasa yang berjiwa luhur maka tak lain kecuali yang bernama Joris Ivens.

Sampai usia 91 tahun Ivens masih aktip dan peredaran filmnya yang terbaru merupakan suatu evenement. Judulnya "Une histoire de vent", Kisah Sang Bayu. Suatu kreasi yang cemerlang dan puitik serta mengandung arti mendalam.

Sebelum itu, Ivens telah menyutradarai berpuluh-puluh film. Tersebar di seluruh dunia. Temanya aneka ragam. Diantaranya berjudul Jembatan, Pemecah, Hujan, Nyanyian Pahlawan, Indonesia Calling, Persahabatan dan seterusnya.

Pelanglang buana kelahiran Nimegen ini kehidupannya merupakan legenda. Kenal Berlin di zaman Bauhaus, Brecht, Murnau dan Frits Lang. Pernah bermukim di rumah Eisenstein dan menyelami Moskow di waktu malam bersama generasi yang merupakan avantgarde revolusi dunia. Pada tahun 1938 dia mengirimkan sebuah kamera untuk pasukan Mao Zedong agar supaya Long March terabadikan. Dan seribu satu macam kisah lainnya lagi. Seperti "Indonesia Calling" yang merupakan bukti sikap perbuatannya yang tepat terhadap rakyat Indonesia yang berjuang melawan penjajahan demi kemerdekaan. Dengan konsekwensi dikecam sebagai pengkhianat bangsa dan paspornya dicabut oleh penguasa kolonial Belanda waktu itu.

Dari pengalamannya yang kaya, saksi dari konflik-konflik di dunia dalam abad Ke-XX ini, terkesan bahwa Joris Ivens adalah seorang yang amat optimis. Tapi dia sendiri bilang sesungguhnya dia tidak terlalu optimis. Buktinya dapat disimak dalam film terakhirnya itu. Lelaki tua dalam film itu berkata bahwa hidup di zaman ini bisa cukup mengandung arti asal saja orang mampu mencengkam arti suci-nya, keselarasan antara manusia dengan langit, dan yang terutama sekali percaya pada kekuatan diri sendiri serta berani menerima resiko bagi pelaksanaan cita-citanya sampai akhir...

"Kalau saya bilang 'ke-suci-an' itu janganlah dihubungkan kata ini dengan keagamaan dengan fanatismenya yang merupakan teror itu," ujar Ivens. "Angin sejarah mendorong ummat manusia maju. Dalam hal ini saya seorang yang optimis: manusia telah maju sejak hidupnya dalam gua-gua. Manusia selalu membakar buku-buku, membakar manusia, namun perlahan-lahan, manusia menuju kearah lebih baik. Abad Ke-XXI akan lebih baik daripada abad Ke-XX. Mungkin manusia mengertilah bahwa sesuatu hal yang besar di dunia ini bukanlah ilmu belaka. 'Sesuatu' itu adalah hubungan kosmologis. Kini manusia berkemampuan banyak, hampir keterlaluan: terdapat kekosongan antara ilmu dan kondisi sosial. Kekosongan ini mesti diisi dengan seni dan budaya. Jika hal ini dimengerti orang, maka segalanya akan baik. Jika tidak, saya kira, konsekwensinya akan menyedihkan."

Pada tanggal 28 Juni 1989 Joris Ivens Pelanglang Buana, seniman humanis berkaliber raksasa wafat dengan meninggalkan warisan kreasinya yang tak ternilai. Hidupnya sungguh mengandung arti mendalam.


*  G. SIMENON

SENIMAN kaliber raksasa universal lainnya meninggal dunia tahun ini, pada tanggal 4 September, bernama Georges Simenon. Kreasi yang diwariskannya sebanyak 500 judul buku dengan oplah 500 juta (setengah milyar !) eksemplar. Seratus dua belas judul ditandatangani dengan nama aslinya, selebihnya dengan nama samaran sebanyak 20-an. Selain telah diterjemahkan kedalam seratusan bahasa, banyak pula yang telah diadaptasi kedalam bentuk seni film.

Pengarang yang menjalani hidupnya selama 86 tahun itu dilahirkan di Liege, Belgia. Pada usia 13 tahun dia berkenalan dengan kreasi pengarang terkenal Rusia seperti Gogol, Dostoievski, Tchekov dan Gorki. Usia 16 tahun telah menulis selaku wartawan "Gazette de Liege". Tahun berikutnya melahirkan romannya yang pertama. Daya imajinasinya amat hebat. Dia mampu menyelesaikan buku setebal 80 halaman dalam 3 hari. Malah ada masanya menulis 8 kisah tiap hari. Dia konsisten pada motip kepengarangannya untuk "memahami manusia sebagaimana adanya". Dan mendapat julukan "Balzac di Abad Ke-XX". Salah seorang penelaah kreasinya, Georges Steiner menyatakan, "satu-satu-nya pengarang roman yang dapat menandingi raksasa-raksasa di abad Ke-19 adalah Georges Simenon. Roman-romannya merupakan sejumlah pengalaman manusia yang sedemikian rupa, hingga seandainya bisa selamat dari malapetaka bom atom, maka para sejarawan di masa datang, dengan menelaahnya tak akan terlalu keliru dalam memahami mentalitas dan kehidupan manusia di zaman kita."


*  Kreasi Puisi Malam Bintang Di Hatiku Tak Bisa Lupa Kedung Ombo

KREASI puisi nomor 3 1989 ini antara lain menyajikan sajak-sajak berjudul "Tak Bisa" Suprijadi, "Bintang Di Hatiku" Z. Afif, "Malam" HR Bandaharo dan sajak "Kedung Ombo" Nusantari yang menggemakan kesan sarat akan pesan bagi pembaca yang memiliki daya apresiasi kesusastraan yang signifikan (hlm 16--21).

  *  Malam

Oleh: HR Bandaharo

aku melawan malam, memusuhi kelam
yang menyembunyikan wajah-wajah jelek
yang menyuburkan kebejatan
yang mengaburkan kemunafikan.
aku membenci malam
bila anjing-anjing melolongi langit
selagi bintang-bintang gemerlapan.

malam dan kegelapan
sama dengan pemalsuan.
penyulapan putih menjadi hitam
penyajian mesum sebagai suci
pengkhianatan sebagai bakti
yang palsu sebagai yang sejati.

tapi akupun dilahirkan malam
ketika kelam menyelimuti kekasih berpelukan
dan kerinduan mendengus kepuasan.
malam seperti ini menjadi teman
ketika pikiran menjusupi jalan-hidup
yang ditempuh -- larut dalam kenangan.
bila kemilau bintang-bintang menjadi redup
kumbang bercumbu berhenti berdengung
nyamuk-nyamuk kekenyangan menggelimpang tiada berdaya
aku lena tertelungkup --
air-liurku membasahi lembaran-lembaran kafka
dan embun subuh membasahi kawat-duri.


*  Bintang Di Hatiku

    Oleh: Z. Afif

ada bintang berenang di hatiku
kala kelam menekuk-nekuk
tahukah kau
bintang itu bisa memilih pihak
?                    

*  Hdup Ini Tantangan Memang

hidup ini tantangan memang
menyerah
raga hina jiwa
berlawan
bebas untuk membebaskan!

hidup ini tantangan memang
pada pilihan tempat tegak
jelas sudah
arah anjak!

*  Tak Bisa

Oleh: Suprijadi Tomodihardjo

Anak-anak belajar angka
satu, dua, tiga
Sekarang pandai bertanya,
-- sampai berapa

Bapak-bunda tak pernah lupa
dulu, kini, kapan saja
Maka jawabnya,
-- lebih sejuta

Anak-anak mencatat bulan
tujuh, lapan, sembilan
Pun masih nanyakan,
-- kapan?

Bapak-bunda menunjuk kalender
Disebutkannya,
-- September

Anak-anak dan bapak-bunda dihanyut waktu
Gerimis di mata tak sederas dulu
Tapi ada catatan lama,
-- sembilanbelasenamlima
yang dibunuh lebih sejuta

Anak-anak dan bapak-bunda
bersama-sama belajar lupa
lupa
lupa
lupa
Tak bisa!

(1987)

*  Kedung Ombo

Oleh: Nusantari

aku di sini, tuan,
masih di sini
di desa kesayanganku
di dekapannya aku lahir
di pelukannya peluhku leleh mengalir

aku di sini, tuan,
masih di sini
di tanah tumpah darahku
di bulir-bulir padinya kasihku semi
di lagu lesungnya langitku tidak kan mendung

aku di sini, tuan,
masih di sini
walau air tuan tumpahkan
dan senjata tuan todongkan
menjadi tumbal memang kutentang
bagi pembangunan yang sendiri tidak aku nikmati

aku bukan pembangkang, tuan,
bukan pula pemberontak
ganti tempat kuminta yang imbang
dan ganti rugi jumlahnya layak

subversif? sama sekali aku bukan, tuan,
bukan kontra-revolusi
bukankah revolusi dulu berapi
berminyakkan keringat petani?

aku di sini, tuan,
tetap di sini
sebab aku tidak lagi tegak sendiri
di mana-mana aku berada
di tengkuk tuan pun aku berdiri

aku di sini, tuan,
tetap di sini
meskipun waduk terus-menerus tuan isi
aku tidak tenggelam, tuan,
tetapi tuan sendiri

(1989)

*  Naskah Prosa, Esai & Kreasi Opini Lainnya

SETELAH Catatan & Berita Budaya dan sajak-sajak, mulai halaman 22 sampai 88, Majalah Kreasi nomor 3 1989 menyajikan kreasi prosa berupa cerpen berjudul "Jujur" oleh Derita Lbs, "Panggil Dia Fajar" oleh Suprijadi Tomodihardjo, "Kekuasaan" oleh Alan Hogeland dan "Petrus" oleh Astama alias Aziz Akbar. Keempat cerpen itu dilengkapi oleh kreasi opini berupa naskah berjudul "Tapol -- Apa Itu?" oleh Tapol NS.3196; resensi buku "Ilalang Suprijadi" oleh I. Sartika; esai "Kapan Sastra Modern Indonesia Hadir" oleh Alan Hogeland dan "Widji Thukul" oleh Sumirah.

Berkenaan dengan cerpen dan esai tersebut, akan kita bicarakan pada saatnya yang lebih cocok di kemudian hari -- ketika menelaah terbitan kumpulan-kumpulan tulisan para penulis tersebut masing-masing.

Sementara itu, kiranya ada baiknya kita simak sejenak naskah berjudul "Tapol -- Apakah Itu?" yang disusun oleh sang Tapol sendiri yang oleh penguasa Orba namanya diganti menjadi nomor, yakni NS 3196. Sebagai salah seorang dari belasan ribu tapol Kamp Konsentrasi Kerjapaksa Pulau Buru. "Tapol," tegasnya, "ialah satu kata kependekan dari dua kata: tahanan politik. Sebuah istilah baru yang lahir sebagai anak kandung, sekaligus ciri istimewa, pemerintah militer di Indonesia sejak terjadinya apa yang dinamakan Peristiwa G30S 1965. Gestok, kata Bung Karno. Gestapu-PKI, kata Abdul Haris Nasution. G30S/PKI, kata pemerintah Orde Baru Suharto. Sambil mendengung-dengungkan semboyan 'orde baru', kaum militer Indonesia yang bersatu (atau mungkin lebih tepat: menunggangi) golongan kanan, bergerak membasmi kekuatan demokratis dan khususnya kaum komunis di Indonesia, dengan tekad 'tumpas habis sampai ke akar-akarnya'. Maka berjuta-juta orang pun jatuh menjadi kurban. Dibunuh, ditangkap, ditahan, dibuang, dipecat dari pekerjaan, disunat dan dipaksa ganti nama (untuk saudara-saudari sebangsa keturunan Tionghwa), dan dicabut gelar kesarjanaan dan hak-hak kewarganegaraan mereka yang paling asasi. Begitu saja. Tanpa proses. Tanpa basa-basi sekalipun. Atas nama orde baru segala sesuatunya seoleh menjadi sah dengan sendirinya. Hanya beberapa orang yang mereka anggap sebagai tokoh (tokoh-tokoh sebenarnya sudah ditembak mati tanpa proses), yang barangkali tak sampai lima puluh orang di seluruh Indonesia, disidangkan perkaranya melalui lembaga peradilan yang dinamakannya 'Mahmilub', Mahkamah Militer Luar Biasa, yang notabene memang luar biasa benar-benar itu. Demikianlah keadaan umum yang telah melahirkan hikayat tentang tapol. (hlm 22--23).

Selanjutnya Sang Tapol NS 3196 menguraikan betapa metode biadab diberlakukan oleh penguasa Orde Baru yang dilaksanakan dengan segala cara oleh para interogator yang semata-mata untuk memeras pengakuan. "Tujuannya bukan untuk menyingkap kebenaran kejadian, tetapi untuk membangun kisah seperti telah tersusun dalam skenario mereka."

Akhirnya, tak kurang menariknya pula naskah esai ringkas berjudul "Widji Thukul" oleh Sumirah. Dengan menggemakan sudah sejak awal mula betapa pentingnya makna kehadiran sang penyair muda yang militan dalam kehidupan gerakan kebudayaan rakyat itu, hingga mengalami konfrontasi berulang kali dengan penguasa-penguasa setempat karena pembacaan sajak-sajak dan kegiatan lainnya. Malah sampai terjadinya pelarangan untuk membacakan sajak-sajak di kampungnya sendiri. Kenapa? Sumirah antara lain telah berhasil menemukan beberapa kreasi puisi Thukul yang dalam bahasa Jawa, yang salah sebuahnya tersajikan sebagai berikut:

Geguritan Iki Mung Pengin Kandha

geguritan iki mung pengin kandha
ing njaba ana wong sambat ngaluara
sajake bubar dipulasara
swarane orang cetha
gremeng-gremeng in petengan
cangkame pecah
awak sakojur abang biru
apa kowe ora krungu?
coba lirihna omonganmu
mbok menawa kowe ngerti
apa karepe

geguritan iki mung aweh kabar
ing njaba bathang besok pirang-pirang
apa irungmu ora mambu

thok! thok! thok!
sing teka aku kanca
lawangmu ngakna

Solo, 8.6.87

(Terjemahannya)

Corat Coret Ini Cuma Ingin Bilang

corat-coret ini cuma ingin bilang
di luar seseorang sedang mengerang
agaknya telah disiksa
tak begitu jelas suaranya
menggumam dalam gelap
mulutnya pecah
bilur-bilur biru di sekujur tubuh
takkah kaudengar?
coba pelankan bicaramu
mungkin bisa kau fahamkan
apa yang dia harapkan

corat-coret ini cuma mau bilang
di luar mayat membusuk tak terbilang
takkah tercium bau itu olehmu?

thok! thok! thok!
akulah yang datang, kawan
bukakan pintu

Solo, 8.6.87

*
DEMIKIANLAH percikan kreasi puisi penyair Widji Thukul yang tertulis-gemakan kurang lebih dua dasa warsa yang lalu. Karya tulis yang melengkapi lukisan suasana yang diutarakan oleh Sang Tapol NS.3196. Suasana zaman kegelap-pengapan rezim teroris Orde Baru yang dampak buruk bau busuknya masih belum usai bahkan sampai detik naskah ini rampung disusun. *** (27.03.2008)

Tags: esaikohar, esai, kreasi, stm

Prev: Jakarta dalam Bahaya. Selamatkan Jakarta!

 reply                share
2 Comments  Chronological   Reverse   Threaded

reply eminxsgallery wrote today at 11:16 AM

saya beberapa kali bercengkrama dengan "penemu" Widji Thukul (kalau nggak salah ) beliau adalah mas Halim HD, foto-fotonya ada diblog saya...

reply 16j42 wrote today at 12:08 PM

eminxsgallery said

saya beberapa kali bercengkrama dengan "penemu" Widji Thukul (kalau nggak salah ) beliau adalah mas Halim HD, foto-fotonya ada diblog saya..

.

perhatian sekalian infonya cukup menggelitik; nanti saya kunjungi sembari larak lirik, deh.

salam,
(kohar)


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help