Islam for Beginners
http://yulian.firdaus.or.id/2006/10/18/islam-for-beginners/Rabu, 18 Oktober 2006M 25 Ramadhan 1427H
“Di era global, Islam jangan hanya dipahami secara klasik, melainkan Islam harus dipahami sebagai etika yang dinamis, misalnya jika kita makan tomat di mal yang ternyata tomat produk Amerika, bagaimana hal itu dipahami secara etik?” katanya.
[Ziauddin Sardar, dari liputan NU Online, 2005]
Profesor Ziauddin Sardar adalah penulis terkemuka di Inggris yang menekuni perkembangan masa depan Islam sebagaimana masa depan sains dan teknologi. Ia pernah tinggal di Saudi Arabia selama 5 tahun dan kini dianggap sebagai pakar dalam wacana Islam berkaitan dengan dunia modern yang berfokus pada topik keilmuan dan teknologi.
He is a polymath. A seeker of knowledge; a polymath is someone who is already in possession of great knowledge.
Ia banyak menulis buku, salah satunya adalah Introducing Islam yang diterjemahkan oleh penerbit Mizan berjudul Mengenal Islam for Beginners. Buku setebal 176 halaman ini bercerita singkat tentang Islam lahir hingga perkembangannya hingga kini. Sesuai judulnya buku ini singkat padat ditulis dengan berbagai ilustrasi yang membantu, tidak detil namun cukup membantu konsep-konsep dasar lahirnya Islam beserta perkembangannya terhadap dunia modern. Bisa saya katakan terbatas pada mengenalkan Islam dan dunianya dalam konteks logika, keilmuan dan teknologi yang telah berkembang, bukan tentang keagamaan atau syariat Islam.
Namun di dunia modern saat ini yang semakin banyak orang berpikiran maju; buku ini cocok untuk mengenalkan Islam dan sejarahnya kepada mereka yang non-muslim, serta kepada para muslim yang juga banyak tak mengenal sejarah Islam itu sendiri, terutama dalam sejarah perkembangan sains dan teknologi. Muslim sendiri banyak yang mempunyai kecenderungan antipati terhadap perkembangan sains dan teknologi saat ini meskipun jika menilik sejarahnya banyak sains dan teknologi ditemukan dan dikembangkan orang Islam atas keseriusan mereka dalam membaca dan menafsirkan Al-Quran sebagai petunjuk dalam kehidupan, sebagai implementasi dari firman pertama yang turun, “Bacalah, atas nama tuhanmu yang menciptakan.”
Salah satu pembahasan dalam buku ini adalah tentang prasarana kemajuan sains dan teknologi itu sendiri, yaitu penerbitan buku jauh sebelum Johannes Gutenberg menemukan mesin cetak kertas. Berawal dari ditulisnya kembali Al-Quran dengan teknologi kertas, digandakan dan disebar ke seluruh koloni bangsa Arab dan Timur Tengah. Dengan tulis tangan penerbitan buku sebelum abad ke-10 berkembang pesat hingga melahirkan profesi warraq, yaitu mereka yang ahli dalam menggandakan naskah secara akurat dan cepat (bedakan dengan tokoh pseudonym Ibn Warraq yang kontra terhadap Islam). Kebudayaan dan kemajuan ini membuat negeri-negeri di Timur Tengah dan Persia hingga ke daratan Andalusia saat itu banyak memiliki perpustakaan-perpustakaan umum untuk publik disertai dengan lembaga-lembaga pengajaran. Namun sayang perpustakaan di kedua wilayah tersebut sebagian hancur saat Persia diserang Mongol dan runtuhnya Andalusia di akhir Perang Salib.
Di luar konteks buku pengantar Islam ini, sang penulis sempat singgah ke Indonesia tahun lalu, singgah di Surabaya dan Jakarta atas sponsor British Council. Dari berbagai ceramahnya, Pemuda Muhammadiyah merangkum beberapa aspek yang disampaikan Ziauddin Sardar dan dibukukan ke dalam judul Islam tanpa syariat. Sangat disayangkan sebagian tokoh organisasi besar dalam pergerakan dan pemurnian Islam di Indonesia –termasuk besar dalam skala dunia– ini tidak membedakan makna toleransi lakum diinukum wa liyadiin dengan pluralisme, atau mungkin terkesima dengan pemikiran ilmiah yang liberal dari Ziauddin Sardar.
Saya sendiri belum membaca buku tersebut. Lain waktu mungkin saya berkesempatan menemukan buku tersebut dan membacanya.
none. Catatan ini ditulis Rabu, 18 Oktober 2006 pada pukul 23:34 dalam kategori sains/teknologi, spirit/religi. Anda dapat mengikuti respon semua catatan melalui RSS 2.0 feed. Anda dapat menulis komentar atau menulis trackback di situs anda sendiri.
Catatan Yang Mungkin Terkait
Pancasila | Tasaro: Samita - Bintang Berpijar di Langit Majapahit | Carole Hillenbrand: Perang Salib - Sudut Pandang Islam | Masjid Raya Bandung Bergaya Taj Mahal | Remy Sylado: Sam Po Kong | Blog: Sebuah Kemajuan Literasi di Indonesia | Shalahuddin Al-Ayyubi | Idul Fithri dan Lebaran | 23 Juli: Hari Tanpa Televisi | Puasa Mengasah Mental | Aksara Jawi (Arab-Melayu) | Khairuddin Barbarossa | Bali Dibom Lagi: Teroris Pengecut! | Muhammad II Al-Fatih: Sang Penakluk Konstantinopel | Isra Miraj |
Komentar
komentar untuk catatan 'Islam for Beginners'
Abi
Kamis, 19 Oktober 2006 @ 3:49
Menarik yeuh Jay! edun sayah the pirst komen euy?
aRdho
Kamis, 19 Oktober 2006 @ 5:57
bedanya lakum dinukum dengan pluralisme itu apa? bukankah hampir sama ya?
taryan
Kamis, 19 Oktober 2006 @ 6:40
Saya sendiri belum membaca buku tersebut. Lain waktu mungkin saya berkesempatan menemukan buku tersebut dan membacanya.
Jadi penjelasannya baru kulitnya aja yah kang jay ?
edwin
Kamis, 19 Oktober 2006 @ 8:10
menarik…di-antos atuh ulasan setelah membaca buku-nyah…
jay
Kamis, 19 Oktober 2006 @ 8:41
#2: Hampir sama itu berarti berbeda.
#3: Itu soal buku “Islam tanpa Syariat”. Anda sudah membaca bukunya?
Jauhari
Kamis, 19 Oktober 2006 @ 15:23
Mari Mari …. bersikap Secara Al-Qur’an dan Hadist nanti orang orang akan faham Islam itu apa….
abiyar
Kamis, 19 Oktober 2006 @ 16:19
kalo saya lebih suka blajar islam disini
bagi non muslim, kristen, pemula atau tingkat lanjutan artikel2nya dah dikelompok-kelompokkan
http://www.salafipublications.com/fahmi jelek
Kamis, 19 Oktober 2006 @ 17:09
saya punya buku ini. isinya komplit menjelaskan islam sbg jalan hidup, bukan sekedar agama. di dalemnya ada sejarah islam, ekonomi secara islam, politik, implementasi hukum, sosial, etc, komplit.
kunderemp
Kamis, 19 Oktober 2006 @ 17:22
lakum dinukum itu bukan plurarisme. Itu justru pemisah tegas. Ada yang mirip dengan pluralisme tetapi tidak persis kata-kata orang-orang yang mendukung pluralisme dan ayatnya bukan itu melainkan 2:62, 22:17, 5:69.
Tentu saja ada penafsir (seperti Muhammad Taqiuddin al-Hilali dan Muhammad Muhsin Khan, penerjemah yang digaji Arab Saudi) yang merasa tidak sreg dengan ayat di atas dan memberi catatan kaki bahwa ayat-ayat tersebut dibatalkan (nasakh) oleh 3:85.
Lebih lengkap pernah kutulis di
http://cacianqalbukunderemp.blogspot.com/2006/02/kristen-yahudi-dan-shabi.htmlUP
Sabtu, 21 Oktober 2006 @ 14:24
Kalau banyak orang yg ngaku beragama Islam lantas tidak ngerti sejarah dan Islam sendiri, apa layak dikatakan sudah islam yah? Kalau belum layak lalu masuk golongan mana?
jay
Sabtu, 21 Oktober 2006 @ 19:52
Saya sebut antipati karena ada kecenderungan keengganan untuk tahu/paham terhadap sejarah Islam itu sendiri. Saya tak peduli terhadap jenis golongan, ibaratnya dunia universal saat ini golongan atau kategori cenderung menjadi generalisasi. Dengan sedikit indikasi orang sudah terlalu mudah menghakimi, seperti halnya Barat menganggap muslim itu teroris. Tentunya kita tak perlu membalas paradigma Barat dengan cara yang sama, apalagi kepada muslim sendiri.
Andi
Rabu, 25 Oktober 2006 @ 5:26
Sayang, sebagian masyarakat kita (masih) lebih suka mendengarkan suatu ajaran daripada membacanya.. lebih nurut apa kata Kiyai-nya daripada mencari informasi tersebut langsung dari Al Qur’an dan Hadith..Kurangnya minat baca? *sedih, bukunya belum dapat*
Aqiel
Jumat, 27 Oktober 2006 @ 11:09
Menurut saya, lebih nurut apa kata Kiyai-nya tidak mesti berkonotasi negatif.
Mengingat keterbatasan kita dalam pendalaman agama, mengapa tidak untuk ‘nurut’ kepada seseorang yang dianggap lebih ‘alim’ tentang Al Qur’an & Hadits, daripada kita.
Mungkin permasalahannya adalah, bagaimana kita mencari orang (baca: Kiyai) yang tepat untuk kita (baca: orang awam) ikuti.
Ananda Putra
Kamis, 2 November 2006 @ 0:36
Sumber utama hukum Islam itu menurut saya ada 3, yaitu Al Qur’an, Al Hadits, dan Sejarah. Namun sayangnya yg ketiga itu sering dilupakan. Padahal Al Qur’an, sekira 1/3 isinya adalah sejarah, dan Al Hadits juga merupakan catatan sejarah. Gara2 lupa sejarah, banyak juga orang Islam yg salah menafsirkan suatu hukum Islam.
mj goEdiel aNeh
Sabtu, 4 November 2006 @ 14:38
Belinya di mana yah….? trus buat yang udeh baca n’memahami semuanya tentang buku ini, kasih komentarnya yang BaGoeeesss doNk…!
Armando Mendoza
Minggu, 5 November 2006 @ 12:08
itu tergantung dari persepesi orang masing2…….
klungsu
Rabu, 8 November 2006 @ 17:04
Lakum dinukum dilakukan jika kondisi memang sudah tidak memungkinkan. Selagi masih bisa, mengapa kita tidak mengajak kafirin untuk bergabung dengan agama yang lurus? Tentu kita tidak tega saudara-saudara kita itu masuk neraka sementara kita nyaman di surga, kan?
bangkumahoni
Kamis, 30 November 2006 @ 10:16
Lakum Dinukum berarti adalah saling menghormati. Adalah benar bahwa Tuhan kita dengan mereka itu berbeda, tapi nggak perlu :” Tuhan gue yg bener, Tuhan lo salah!”. Yang jauh lebih penting adlah bagaimana Islam mengejawantah dalam domain perdamaian dan rahmatan lil alamin.
ibing
Minggu, 21 Januari 2007 @ 17:05
aku belum baca bukunya menurutku islam itu agama yang modern dan agama yang paling menerangkan tentang kebenaran.
ibing
Minggu, 21 Januari 2007 @ 17:07
menurutku islam itu mengajarkan kepada hal-hal yang modern
sumonki
Minggu, 28 Januari 2007 @ 9:00
Sejarah, Sesuatu yg takkan terlupa apabila teringat, menjadi sebuah pengalaman berharga, ttp bila dibelokkan apa jdny
anang
Rabu, 21 Maret 2007 @ 11:59
perbedaan itu indah, kenapa…? karena ada banyak suku dan budaya yang kita tidak ketahui sehingga kita menjadi egoistis dalam melirik perbedaan itu. by anang. contact person 085221324282 0k! call me….
rey
Jumat, 6 April 2007 @ 19:57
#24. pake nomor hp biar dibilang punya hp yach, jay beli bukunya sangat bagus buat nambah elmu dijamin nggga nyesel deh jay
TANGGAPAN BETA :
Sudah hampir lima tahun beta memiliki dan membaca buku ini. Bagus dan wajib dimiliki, bukan hanya oleh Moslem, tapi juga kalangan NonMuslim agar bisa memahami apa sih yang dimaksudkan dengan Islam.
Tabik Beta
Dhia Prekasha Yoedha