“… PERJUANGAN MELAWAN KEKUASAAN adalah PERJUANGAN INGATAN MELAWAN LUPA ..."

dhia_prekasha's posts with tag: abraham lincoln

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag abraham lincoln
Blog EntryLINCOLN oleh Rizal MallarangengJul 8, '08 12:57 PM
for everyone

LINCOLN

 

Penulis:  Rizal Mallarangeng

 

Kolom, TEMPO, 16 Juli 2000

Tanggal dimuat: 16 Juli 2000

Di pundak Abraham Lincoln terletak nasib Amerika Serikat pada paruh kedua abad ke-19. Saat ia dilantik menjadi presiden pada Maret 1861, sebelas negara bagian republik modern pertama itu memisalikan diri dan memproklamasikan kemerdekaa n mereka dengan membentuk negara konfederasi. Kaum separatis di negara-negara bagian di selatan ingin berdaulat penuh. Mereka menganggap perbudakan adalah bagian dari sistem sosial mereka. Dengan naiknya Lincoln, mereka curiga bahwa negeri-negeri bagian di utara akan rnemaksakan kehendak dan menghapuskan sistem sosial yang sudah berakar itu.

Gerakan separatisme itu didukung luas oleh masyarakat di selatan, kecuali oleh para budak tentunya, dan ditopang oleh kekuatan militer dan pasukan-pasukan milisi yang sangat tangguh. Mereka juga punya banyak ahli perang yang piawai, seperti Jenderal Robert E. Lee dan Jenderal Thomas "Stonewall” Jackson.

Singkatnya, Amerika Serikat pada 1861 berada pada titik tergenting dalam perjalanan sejarahnya. Dan Lincoln-lah, seorang anak petani dari Springfield, Illinois, yang kemudian menjadi pengacara sukses, yang harus memimpin negerinya mengatasi gelombang separatisme itu. Sejarah tidak memberinya pilihan: ia harus mengambil langkah-langkah besar atau negerinya akan terdampar ke tepian sejarah.

Buat Lincoln, negara bentukan Revolusi 1776 itu sudah final dan tidak dapat dipecah-pecah. "It will become one thing, or all the other", tidak ada jalan tengah. Amerika Serikat harus utuh, kalau tidak ia akan terpecah ke dalam serpihan-serpihan yang berbeda dan bermusuhan.

Pada awalnya, Lincoln memberi jalan kompromi yang cukup luas kepada kaum separatis. Ia menawarkan pembatasan, bukan pelenyapan perbudakan, sejauh kaum separatis mau bergabung lagi ke dalam negara perserikatan. Dalan pidato pelantikannya, ia mengingatkan bahwa masyarakat di selatan dan utara ditakdirkan sebagai satu bangsa dengan satu tanah air. la berharap kaum separatis tidak bertindak didorong oleh gelora perasaan semata, tetapi juga oleh kesadaran nurani yang mendalam, "the better angels of our nature”.

Tapi tawaran kompromi Lincoln ditolak. Semangat separatisme di selatan sudah terlalu bergemuruh. Mereka sudah membentuk pemerintahan sendiri. Mereka sudah mengangkat senjata dan bertekad mempertahankan "kemerdekaan" itu untuk seterusnya. Dengan sikap kaum separatis seperti itu, Lincoln tidak melihat kemungkinan lain kecuali menggunakan kekuatan militer untuk mencapai tujuan politik, yaitu keutuhan negara.

Pada Desember 1861, perang saudara pun meledak. Selama dua tahun pertama, kaum utara mengalami berbagai kekalahan dalam banyak pertempuran. Akibatnya, semakin banyak kalangan di utara yang mendukang seruan "perdamaian dengan segala konsekuensi nya”. Sebagian lagi mendesak Lincoln agar mengambil langkah yang lebih radikal dalam memerangi kaum selatan. Dalam teater militer, kaum Utara terdesak. Dalam panggung politik, dukungan bagi Lincoln semakin sempit dan terpecah.

Dalam situasi kritis itulah kepemimpinan Lincoln diuji. Kadang ia menyikut, tetapi lebih sering dengan kemampuan persuasinya yang memukau, ia melakukan berbagai hal untuk menyabarkan kaum radikal dan menyuntikkan tekad serta meniupkan harapan pada kaum pesimis yang semakin antiperang. la merangkul para pengritiknya, tanpa harus sepenuhnya menjadi boneka di tangan mereka.

Dalam melakukan semua itu, Lincoln bertindak sebagai seorang pragmatis yang diilhami oleh sebuah visi besar, yaitu keutuhan Amerika Serikat. Tetapi sesungguhnya yang membuat dia menjadi pemimpin terbesar sepanjang masa di negerinya, dan di negeri lain yang mencintai kebebasan, adalah kemampuan dia untuk berubah dan mengembangkan visinya, sambil tetap memperluas dukungan politik yang dibutuhkannya.

Visi awalnya, perang untuk negara, pada akhir tahun kedua pemerintahannya dia kembangkan menjadi perang untuk pembebasan. Yang terakhir ini dia wujudkan dengan merancang Deklarasi Emansipasi, yang kemudian menjadi dokumen historis bagi penghancuran sistem perbudakan. Dengan visi baru ini, perang sipil yang dipimpinnya menjadi bermakna lebih mendalam sekaligus berdampak lebih luas. Perang itu menjadi sesuatu yang lebih mulia, karena ia bukan lagi sekadar aksi bersenjata untuk mempertahankan keutuhan negara. Kaum patriot di utara kemudian berubah menjadi pejuang pembebasan.

Visi itu ternyata bergema jauh ke dalam sukma masyarakat di utara. la kernudian menjadi pengikat baru dan sumber motivasi yang menggelorakan, yang membantu mereka untuk bertahan, dan kemudian menghancurkan kekuatan kaum separatis pada 1864 dan 1865.

Pertikaian utara-selatan itu, dengan korban 630 ribujiwa, tercatat sebagai perang saudara terbesar sepanjang sejarah manusia, hingga kini. Tapi sejarah juga mencatat bahwa ia mengubah Negeri Paman Sam itu secara fundamental. Sejak saat itulah prinsip yang mereka junjung tinggi, yaitu bahwa setiap manusia memiliki hak yang sama, betul-betul ditanamkan dalam kesadaran nasional mereka.

Enam bulan setelah kemenangan kaum utara, Lincoln ditembak mati oleh seorang pendukung fanatik sistem perbudakan. Jasadnya memang berkalang tanah, tapi sesungguhnya ia terus hidup sepanjang masa.

*) Pengajar di Jurusan Ilmu Politik The Ohio State University --Sekarang ini penulis adalah Direktur Freedom Institute Jakarta

 

http://www.freedom-institute.org/id/index.php?page=profil&detail=artikel&detail=dir&id=75

Kembali ke atas

 ARTIKEL LAIN

Mengapa sosialisme gagal (Resensi Buku)

BAHAYA DIPLOMASI 'KANAN' HAMZAH HAZ

"HAIR SPLITTING POLITICS"

Kemenangan Saadawi

       Pelatihan Wartawan IV “Jurnalisme Pemilu 2004 ke-II"


Blog EntryPancasila, San Min Chu I, dan Lincoln Jun 4, '08 11:20 PM
for everyone

 

Pancasila, San Min Chu I, dan Lincoln


Christianto Wibisono

Hari Jumat 6 Juni adalah hari kelahiran Bung Karno yang ke-107. Menjadi presiden pada umur 44, dilengserkan merangkak 1966-1968 dan wafat dalam isolasi politik rezim Soeharto pada 21 Juni 1970. Di beranda Istana Merdeka. saya (C-W) melakukan wawancara imajiner  dengan Bung Karno (BK) mengulangi debut 1977.

CW: Selamat pagi Pak, Hari Lahirnya Pancasila telah diperingati di Monas dengan sukses oleh Megawati dan PDI-P, tapi juga diwarnai oleh insiden aksi FPI terhadap AK-KBB. Apa komentar bapak terhadap perkembangan ambivalent itu?

BK: Pancasila adalah ideologi kelas global, suatu sinergi yang memasukkan elemen dari Abraham Lincoln, a government of the people, by the people and for the people. Analog dengan San Min Chu I dari Bapak Tiongkok modern, DR Sun Yat Sen, Min Chu, Min Chuan, dan Min Sheng. Nasionalisme, Sosialisme dan Demokrasi. Dipayungi faktor iman Ketuhanan Yang Maha Esa dan penghormatan kepada kemanusiaan yang adil dan beradab. Jadi, Pancasila bukan sekadar Marhaenisme lokal, tapi bisa menjadi acuan global jika elite dan Bangsa Indonesia melakukan secara konsisten dan konsekuen.

Saya akui bahwa saya sendiri kurang berhasil menerapkan Pancasila secara faktual. Karena saya sibuk merebut Irian Barat dan energi terkuras mengatasi dua musuh bebuyutan TNI/AD dan PKI. Kata kunci ialah elite Indonesia munafik dalam menerapkan Pancasila.

Gus Dur telah memberikan reaksi terhadap aksi kekerasan 1 Juni. Saya telah berpolemik dengan Natsir sejak tahun 1926 bertema Nasionalisme, Islam dan Marxisme. Saya telah mengupayakan persatuan ketiga "ideologi" itu dalam Nasakom. Komnya dihapus total setelah G30S, maka tinggallah nasionalisme yang diwakili oleh TNI/AD menghadapi "Islam politik" dengan pelbagai pasang surut dan pragmatisme di era Orde Baru.

Dalam arsitektur awal Orde Baru, militerisme dan otoriterisme dianggap benteng paling kuat seperti Kemal Attaturk melakukan sekularisasi di Turki. Setelah konflik Soeharto-Benny Moerdani, maka Soeharto mulai berkoalisi dengan ICMI Habibie yang tidak didukung Gus Dur pluralis. Pada mandala global komunisme berantakan dan arus khilafah mulai mengglobal dengan sukses Ayatollah Khomeini mendirikan rezim mullah di Iran, disusul Taliban menggusur superpower Uni Soviet dari Afghanistan.

Teoretisi Francis Fukuyama yang terburu memproklamirkan doktrin The End of History berbasis dialektika Hegelian bahwa demokrasi liberal Barat akan menjadi jawaban sistem politik universal, akan digeser oleh doktrin benturan peradaban Samuel Huntington, the Clash of Civilizations antara tiga peradaban besar, Islam, Confucius dan Barat.

Belakangan muncul teori besar baru, yaitu Kebangkitan Asia dan Timur Tengah yang sukses membangun ekonomi dan kelas menengah, serta mengentaskan kemiskinan dan menciptakan kesejahteraan serta peluang masa depan yang lebih baik bagi 2 miliar lebih penduduk Tiongkok dan India.

Inilah gelombang baru teori Kebangkitan Asia yang didukung oleh banyak pakar dan teoretisi mulai dari Kishore Mahbubani, Parag Khanna, Amy Chua, Gabor Steingart, Fareed Zakaria, dan lain-lain. Barisan kelas menengah dan elite tercerahkan di Timur Tengah sudah mulai mengikuti jejak Deng Xiaoping dan India untuk bersikap eklektik dalam percaturan global. Sovereign Wealth Fund (SWF), pengelola Aset Timur Tengah modern, bersama Tiongkok dan India serta Singapura, sekarang ini malah menggantikan peran IMF, menyelamatkan bank-bank papan atas Eropa dan AS seperti UBS dan Citibank, sedang IMF-nya sendiri akan melakukan PHK dan menjual cadangan emas karena defisit.

Di dalam reverse renaissance ini, Asia yang menjadi penabung terbesar sedunia, sekarang dan kelak akan menjadi "penyelamat" krisis AS dan Eropa. Modernisasi dan Renaisans Asia ini jika tidak dihayati oleh elemen dogmatik fanatik abad ke-7 dan dibiarkan mengambil alih Indonesia maka percuma saja menggelar peringatan Lahirnya Pancasila. Jika di depan hidung ratusan ribu kader Pancasila, sesama anak bangsa dilecehkan dan diserang oleh elemen yang dibiarkan oleh aparat.

Saya berdoa kiranya Tuhan Yang Maha Kuasa mencerahkan elite Indonesia agar tidak terjebak pada keterkucilan dan keterbelakangan dalam pencerahan peradaban yang sedang berlangsung di Asia secara signifikan. Percuma saja Pancasila lahir bila sesama bangsa Indonesia tidak bisa toleran dan mawas diri.

Heboh Demo BBM

CW: Sebagai negarawan bapak sudah mawas diri, semoga didengar oleh elite yang sedang panik oleh kenaikan harga BBM. Ada petuah Bapak soal heboh demo BBM?

BK: Saya ikut prihatin dengan pola konfrontasi mahasiswa dan aparat yang masih timbul di era reformasi. Tahun 1966 mahasiswa sudah sampai di depan istana, karena itu Tjakrabirawa menembak, dan Arief Rahman Hakim tewas pada 23 Februari.

Esoknya Jakarta dikepung people's power dan 15 hari kemudian saya terpaksa memberikan Supersemar kepada Soeharto.

Tahun 1974 konspirasi busuk Malari makan korban rakyat.

Tahun 1978 tentara menyerbu kampus ITB karena Dewan Mahasiswa se-Indonesia menuntut Soeharto berhenti sesudah dua masa jabatan.

Perhatikan bedanya, Tjakrabirawa menembak karena mahasiswa sudah "merangsek" hingga di depan Istana Merdeka. Sedang di ITB tentara menyerbu kampus.

Setelah 20 tahun, kembali polisi menembaki mahasiswa yang sudah kembali ke kampus Trisakti. Aparat yang menyerbu, jelas bukan perbuatan bela diri .Kini 2008 polisi kembali menyerbu Unas, nafsu angkara aparat belum pupus di era reformasi.

CW: Tapi terkadang ada provokator yang mengadu domba.

BK: Itulah yang membuat saya sedih. Orde Baru telah mewariskan genetic pola kekerasan, intel, dan adu domba selama 30 tahun lebih. TNI/AD dan PKI di balik loyalitas semu kepada saya, saling menyusupkan intel dan double agent yang memprovokasi G-30-S dan kontra kudeta Soeharto.

Pola ini diteruskan di zaman Soeharto dengan korban para jenderal saling gusur. Mula-mula Sarwo Edhie, (mertua SBY) dilempar ke Medan, Irian dan Seoul, Ibrahim Adjie ke London, Kemal Idris ke Yugoslavia, Dharsono ke Bangkok dan Phnom Penh, Alamsyah ke Den Haag dan Soemitro terguling karena Malari 1974.

Pada 1976 Ibnu Sutowo dipecat, 1980 Ali Sadikin dikucilkan, 1983 giliran Ali Moertopo digusur diganti Harmoko. M Jusuf karena terlalu populer di kalangan prajurit, hanya satu periode (1978-1983) jadi Menhankam/Pangab lalu diganti oleh Benny Moerdani. Dua jenderal Angkatan Darat, Widodo dan Widjojo Suyono, tidak diberi peluang jadi Pangab.

Menurut Sudomo, di zaman kebesaran Soeharto hanya boleh ada satu "jenderal besar dari Jawa". Semua yang berpotensi jadi presiden harus direm dan digusur dari puncak ABRI. Benny Moerdani merangkap jabatan Pangab dan Pangkopkamtib karena minoritas beragama Katolik tidak mungkin jadi presiden.

Ia digusur pada 1988 karena menentang Sudharmono sebagai Wapres, tapi masih diberi jabatan Menhan, Robert Hefner menguak misteri Tragedi Mei 1998 mengacu dokumen konspirasi antara ormas berbasis agama dan korps militer elite sejak Januari 1998.

Setelah Soeharto lengser 21 Mei, tetap meletus tragedi Semanggi I, II lewat cara-cara intel, provokator dan kerusuhan. Saya sedih dan dari alam kekekalan, hanya bisa berdoa. Kenapa elite Indonesia masih gemar berpenyakit konspirasi busuk. Padahal, sudah reformasi dan bisa pilpres langsung. Kenapa tidak bersabar lima tahun untuk bertanding secara jantan, kesatria, sportif, bermoral, beretika. Jangan curang dan jangan ngambek kalau kalah lantas mau mengudeta dengan segala cara. Itu semua jelas bertentangan dengan moral dan jiwa Pancasila sejati.

Penulis adalah pengamat masalah nasional dan internasional

 

Last modified: 1/6/08

SUARA PEMBARUAN DAILY

THE GLOBAL NEXUS

 


 

 


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help