“… PERJUANGAN MELAWAN KEKUASAAN adalah PERJUANGAN INGATAN MELAWAN LUPA ..."

dhia_prekasha's posts with tag: abraham maslow

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag abraham maslow

T A T   T W A M   A S I

( KRITIK atas SEKULARISASI )

 

Oleh : Charis Hadiman *

 

                Pada tahun 50-an, waktu mengikuti kuliah Pengantar Ilmu Hukum dari prof. Djokosoetono SH (alm) di Fakultas Hukum UI, beliau sering menyebutkan istilah ”jurist als toeschouwer” (sarjana hukum sebagai penonton) dan ”jurist als medespeler” (sarjana hukum sebagai pemain). Pak Djoko (panggilan akrab beliau di kampus) tidak menguraikan perbedaan istilah-istilah itu, kecuali, bahwa istilah yang pertama bersangkutan dengan para pengajar/dosen/professor yang dari ruang kuliah melontarkan kritik-kritik kepada pemerintahan (“seperti saya sendiri”, kata beliau). Sedangkan, istilah yang kedua menunjuk kepada para sarjana hukum yang bekerja pada pemerintahan dan bergulat serta menyatu dengan permasalahan yang berkenaan dengan jalannya roda pemerintahan. Untuk diketahui kala kita memproklamirkan kemerdekaan sampai beberapa lama kemudian, yang menjadi menteri terbanyak para sarjana hukum. Sebab saat itu kita belum mempunyai banyak ekonom dan ahli-ahli lain.

 

Kala itu orang kebanyakan belum tahu, bahwa pada awal abad ke 20 telah terjadi pergeseran dalam paradigma sains,  yang dipelopori cabang sains paling rasional, yaitu fisika. Titik balik itu bermula dari kelahiran teori quantum yang ditemukan oleh Max Planck tahun 1900 dan teori relativitas oleh Albert Einsten tahun 1905, yang sama-sama dikenal sebagai fisika modern,  jauh berbeda dari fisika klasik/Newton. Berbeda akibat fisika yang baru itu bergerak di bidang sub-atomik di mana para pakar menemui banyak paradoks yang bertentangan dengan logika biasa.

 

Temuan fisika modern ini kemudian berimbas merubah pandangan baku kalangan Barat, sebagaimana yang sebelumnya antara lain diajarkan oleh Rene Descartes, yang terkenal sebagai filsuf modern. Banyak pakar fisika yang tidak menyadari imbas  filosofis dari penemuan itu. Baru pada tahun 70-80-an, terbitlah buku-buku, di antaranya yang terkenal adalah karya Fritjof Capra warga negara AS keturunan Austria. Buku karya pakar fisika (high energy physics) yang sering melakukan meditasi ini, berjudul The Tao of Physics, An Exploration of the Paralles between Modern Physics and Eastern Mysticism (1975).

 

Penulis lain, yang bukan pakar fisika adalah Amaury de Reincourt dengan karya berjudul ”The Eyes of Shiva. Eastern Mysticism and Science”, di mana Amaury menyebutkan terjadinya “Orientalization”.  Yaitu, bahwa cabang sains yang paling rasional yakni fisika, setelah melepaskan diri dari akar kebudayaan Barat yang melahirkannya, malahan bersekutu dengan metafisika Timur.  Karena meskipun metafisika Timur itu asing, tetapi lebih sesuai “suasananya”.

 

Kalau dalam fisika Newton diketahui bahwa “the whole” pada tingkat atom dan molekul masih bisa dibagi ke dalam bagian yang terpisah, pakar fisika modern yang mengeksplorasi dunia subatomic/partikel, justru mengeluh karena bagian-bagian yang disebut terpisah itu justru tidak dapat dipertahankan lagi. Yang ditemukan adalah apa yang lalu disebut sebagai “interconnected cosmic web”, di mana “toeschouwer/penonton” (ala Pak Djoko)/pengamat adalah juga “medespeler”.

 

Berkenaan dengan ihwal itu Gary Zukav dalam bukunya “The Dancing Wu Li Master. An Overview of the New Physics” menyebut adanya “reuni Monumental” atau penyatuan kembali secara monumental antara bagian yang rasional dari psike kita (otak kiri, red), yang “diwakili oleh sains, dengan bagian lain dari diri kita yang telah diabaikan sejak tahun 1700-an, yakni bagian irasional kita (otak kanan, red). Sehingga, realitas tak lagi digambarkan sebagai “objektif nun di sana, tapi tak lepas dari penghayatan pengamat”.

 

Paralel dengan pandangan dunia menurut fisika Newton “versus” fisika modern itu adalah apa yang ditulis oleh Abraham H. Maslow dalam bukunya ”The Psychology of Science” (psikologi Maslow disebut sebagai “Third Force Psychology” yang humanistik dan membedakan diri dari psikologi Freud dan Watson), dimana Maslow, pandangannya (menurut penulis) seperti fisika modern, yang dalam bukunya membuat skema sebagai berikut:

 

“Spectator Knowledge” yang berciri mengidealkan pemisahan pengamat dari realitas di luarnya, “aku” dan “dia “ terpisah/lain. Tidak identik dan terlepas. Pengamat adalah terasing, tidak berpartisipasi (disebut Maslow sebagai sains ortodoks). Dan sebaliknya  “Interpersonal (I-THOU) Knowledge” dengan ciri mengidealkan fusi, cair di dalamnya, bergabung. Pengamat adalah “participant-observer”.

 

Apa yang dikemukakan penulis di atas adalah suatu pengantar untuk dapat memahami Tat Twam Asi, istilah yang tercantum pada logo Departemen Sosial. Sesanti  Tat Twam Asi ini mengingatkan penulis pada kursus-kursus dari Presiden Soekarno di Istana Negara tahun 1958 mengenai Pancasila (yang penulis ikuti beberapa kali) dan di Istana Yogyakarta pada tahun 1958. Kursus-kursus ini telah dibukukan dengan judul PANTJASILA SEBAGAI DASAR NEGARA.

 

Saat menjelaskan sila Perikemanusiaan, Bung Karno menyebut Tat Twam Asi sebagai adagium Hinduisme. Tat Twam Asi berasal dari bahasa Indo-Eropa (Sansekerta) : Tat = That ; Twam atau tuam = kamu ; Asi adalah suatu kopula ”are/is”. Jadi sebagaimana penulis baca dari suatu tulisan, artinya Aku adalah Kamu. Bung Karno menguraikannya lebih luas lagi; Aku adalah Dia, Dia adalah Aku, yang dus hakekatnya tidak ada perbedaan dan perpisahan antara manusia dan alam semesta ini, bahwa segala isi alam semesta itu satu, berhubungan satu sama lain, rapat.

 

Menyinggung perikemanusiaan berkenaan dengan Tat Twam Asi, Bung Karno menyitir hadist Nabi Muhammad SAW tentang kisah seorang wanita di negeri Arab yang sehabis menimba air di sumur dan mengisi gentongnya, dalam perjalanan pulang ke rumah berpapasan dengan seekor anjing yang terengos-engos kehausan. Serta merta wanita ini memberi sebagian air yang dibawanya bagi anjing itu. Padahal waktu itu air sangat sulit di negara Arab. Begitu Nabi Muhammad SAW mendengar kisah itu, beliau langsung berkata, wanita ini pasti akan masuk surga.

 

Berdasarkan makna Tat Twam Asi itu seperti juga skema atau bagan fisika Modern dan ”Interpersonal (I-Thou) Knowledge”, apa yang disebut sebagai adagium Hinduisme yang semula mungkin dilecehkan hanya sebagai pandangan tradisional belaka, justru menurut penulis, sesanti Tat Twam Asi itu malah dapat digolongkan sebagai (bagian dari) sains. Maka dengan pergeseran paradigma sains, (menurut Zukav dalam bukunya tadi), fisika bisa menjadi cabang psikologi atau sebaliknya. Zukav dalam bukunya menyatakan ”We cannot eliminate ourselves from the picture. We are part of nature and when we study nature there is no way round the fact that nature is studying itself. Physics has become a branch of psychology or perhaps the other way round.”

 

Tat Twam Asi ini bisa dibandingkan juga dengan cara pandang Erich Fromm, psikoanalisis AS tersohor. Dalam risalahnya ”Escape From Freedom” (pada sampul belakang) Fromm menjelaskan: ”The rise of democracy set some men free politically, while at the same time giving birth to a society in which the individual feels alienated and dehumanized.” Dalam buku itu diuraikan mengapa para cerdik pandai dan industriawan Jerman yang berpendirian liberal, akhirnya mendukung rezim Nazi Hitler.

 

Dalam buku “Revolution  of Hope” pada bab Humana Experience, Fromm menulis apa yang disebut “compassion and empathy”, mungkin dapat disamakan dengan istilah (Jawa) “welas asih atau tepa selira” (kalau tidak mau dicubit karena sakit, janganlah mencubit orang lain; mungkin dapat diartikan pula sebagai tenggang rasa). Sikap demikian, diyakini Fromm, sudah tak dikenal lagi dalam perkembangan kapitalisme dan etikanya. Akibat, etika kapitalisme tiada lain adalah kemajuan ekonomi berupa pertumbuhan produksi. Menurut psikoanalisis yang sering disebut sebagai pengikut Marx, (Fromm sendiri lebih suka menyebut diri ”non-theistic religious”), inti dari ”compassion” adalah, seseorang yang ikut merasakan penderitaan orang lain. Jadi mengenal seseorang yang tidak hanya dari luarnya saja sebagai objek. Kata Fromm, itu adalah hubungan yang bukan ’from the ”I” to the “Thou”, tetapi “I am Thou”. “Compassion atau empathy” mengandung arti bahwasanya menghayati dalam diri saya sendiri apa yang dialami orang lain; maka dalam penghayatan tersebut dia dan saya adalah satu, demikian Fromm. Menurut Maslow, itulah yang disebutnya “experiential knowledge from within”, yang diketahuinya secara pribadi karena sudah menjadi bagian dari pribadinya.

 

Yang menjadi pertanyaan, apakah Tat Twam Asi hanya berlaku bagi “aku” dan “di luar aku” ? Bagaimana Tat Twam Asi bisa terwujud, kalau kita terkotak-kotak,  seperti kata Fromm mengenai manusia modern yang dihinggapi “a pathology of normalcy”. Yaitu, pemisahan/”split” antara fungsi “cerebral-intellectual” dari yang “affective-emotional”, pemisahan antara “cipta-rasa” (thought-feeling). Pemisahan antara “thought-feeling”, ”cipta rasa”, sudah lama menjadi mode dalam ilmu-ilmu sosial (termasuk ekonomi), karena mengikuti metode fisika klasik/Newton untuk memikirkan masalah manusia yang lepas dari perasaan yang berhubungan dengan masalah tersebut. Adalah sudah menjadi semacam dalil, bahwa objektivitas ilmiah mengehendaki, bahwa pemikiran dan teori-teori.mengenai manusia harus dibersihkan dari segala macam emosi.

 

Dari apa yang dibaca penulis, hal itu adalah warisan dari apa yang dicanangkan pada waktu Revolusi Ilmiah 16-17 oleh pemukanya, yaitu Galileo. Yang kemudian ditegaskan oleh Rene Descartes, ahli matematika yang dianggap sebagai filsuf modern Barat, yaitu supaya para ilmuwan jangan menekuni masalah-masalah yang tidak dapat dihitung dan diukur dengan angka.

 

Al Gore pada waktu menjadi Wapres, dalam bukunya yang berjudul “Earth in The Balance Ecology and The Human Spirit” menyebutnya sebagai pedoman yang menyesatkan yang orang kenal sebagai “cogito ergo sum” a la Descartes, yang artinya “saya berpikir maka saya ada”,  yang juga berarti “feeling” yang merupakan penghubung antara “mind” (jiwa/intelek) dan “body” dipisahkan satu sama lain. Maka menurut Al Gore, terjadilah pemisahan pula antara manusia dan alam. Alam dengan demikian hanya dianggap sebagai kumpulan dari benda mati yang boleh dieksploitir sekehendak hati manusia.

 

Berhadapan dengan “disembodied intellect” adalah kesatuan jiwa-raga seperti selalu dipegang teguh oleh Bung Karno. *Dalam buku yang berjudul “Sukarno Membangun Bangsa” yang ditulis oleh DR. Sutamto Dirjosuparto disebutkan, bahwa, dalam membangun Indonesia, Sukarno selalu mengutip bait-bait lagu kebangsaan Indonesia Raya, yaitu : “Bangunlah Jiwanya” yang menurut Bung Karno  jiwa merupakan isi dan semangat dari wadah. Maksudnya wadah berupa bangsa Indonesia itu harus memiliki jiwa. Dari pokok-pokok pikiran seperti itu menurut Sutamto, Bung Karno membangun konsep pembangunan bangsa yang ia rumuskan dengan  “National and Character Building”,  yaitu:  Berdaulat dalam Politik, Berdikari dalam Ekonomi, dan Berkepribadian dalam Budaya yang kesatuan ketiganya kemudian dikenal juga dengan istilah Trisakti.  * * *

 

 

Catatan: Sains (termasuk fisika Newton) tidak membutuhkan mistik dan begitu juga sebaliknya. Tetapi manusia memerlukan kedua-duanya, tetapi tidak dalam bentuk sintese, tetapi “a dynamic interplay between mystical instituition and scientific analysis”, kata Capra.

* penulis adalah mantan diplomat Pensiunan Deplu

+ (vide Harian Suara Pembaruan tanggal 12-8-2001) di bawah judul “Bung Karno dan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya” oleh Charis Hadiman.

 


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help