dhia_prekasha's posts with tag: bangsa pejoeang
 | Category: | Books | | Genre: | Biographies & Memoirs | | Author: | Editor: Iman Toto Raharjo dan Herdianto |
Visi Pax Humanika Bung Karno Judul: Bung Karno dan Tata Dunia Baru, Editor: Iman Toto Raharjo dan Herdianto WK, Penerbit:Grasindo, Jakarta, 2001, Tebal: (xiii + 367) halaman. ________________________________________ IKLIM politik mondeal ketika Soekarno berkuasa senantiasa diliputi pertarungan ideologis, kolonialisme, dan perang dingin. Poros kekuasaan dunia secara diametral terbagi menjadi Blok Barat dan Blok Timur, masing-masing berupaya membangun kekuatan dengan menyebar pengaruhnya ke negara-negara Dunia Ketiga.Soviet dengan komunisnya dan Amerika dengan liberal-kapitalismenya menjadikan dunia sebagai ajang untuk berebut penganut ideologis mereka. Korbannya adalah negara-negara berkembang, dengan tingkat dependensi yang luar biasa. Lalu, di mana koordinat Indonesia saat itu? Koordinat Indonesia saat itu dapat dilihat dari kiprah internasional Bung Karno sebagai Presiden RI. Sepak terjang Bung Karno di kancah politik internasional ternyata menampilkan ide-ide strategis, dengan sasaran pokoknya menempatkan kemanusiaan sebagai agenda penting perjuangan menuju tata dunia baru. Bagaimana gagasan besar itu dikumandangkan oleh Presiden Pertama Republik Indonesia itu, dapat diikuti dalam buku Bung Karno dan Tata Dunia Baru yang diterbitkan Grasindo. Bagi Bung Karno, tata dunia baru harus dirumuskan sebagai dunia yang damai, adil, sejahtera, tanpa imperialisme dan kolonialisme. Di halaman 226 buku tersebut, ia tegas-tegas menyatakan bahwa "imperialisme dan kolonialisme adalah buah dari sistem negara Barat.... Saya benci imperialisme." Bahkan jauh sebelum itu, dalam Suluh Indonesia Muda 1928 Soekarno dengan hebat menegaskan pentingnya makna kemerdekaan sebuah bangsa. "Kita, oleh karena kaum nasionalis, tidak mau menutup mata kita di atas kenyataan bahwa nasib kita ialah buat sebagian bersandar pada pekerjaan bersama antara kita dengan bangsa-bangsa Asia yang lain, pekerjaan bersama kita dengan bangsa-bangsa yang menghadapi satu musuh dengan kita, pekerjaan bersama dengan semua kekuatan di luar batas negeri kita yang melawan dan melemahkan musuh-musuh kita," begitulah ia menulis dengan gaya khasnya, seperti kalau berpidato. *** APA yang dikatakan Soekarno itu, bukan bualan omong kosong seorang presiden yang sok hebat. Dia memang hebat betulan. Ucapannya ia buktikan dengan peran kreatifnya menggalang kekuatan antikolonialisme. Dengan kekuatan yang dibayangkan itu ia hendak menata dunia yang disandardasarkan kepada kemanusiaan. Gagasan seperti itu bukan hanya untuk lingkup kecil, regional, tetapi sudah mondeal, mencakup kepentingan dunia. Juga, kalau ditilik secara saksama, bukan saja diwilayah ideologis, melainkan jauh lebih mulia merambah ranah humanisme. Untuk mencapai tujuan luhur tersebut Bung Karno membangun sebuah komunitas dunia yang bercita-cita menata perdamaian dan keadilan. Langkah strategisnya adalah menggalang poros Asia-Afrika lewat Konferensi Asia-Afrika tahun 1955 di Bandung. Lalu, ia mencari jalan tengah bagi konflik ideologis global dengan Gerakan Non-Blok pada tahun 1961 dan rencana menumbuhkan kekuatan melalui The New Emerging Forces pada tahun 1964. Manifestasi ideologi alternatif ia terjemahkan ke dalam konsep yang terkenal dengan Nasakom di dalam negeri. Tetapi, ideologi alternatif inilah yang akhirnya menjadi penyebab kejatuhannya pada tahun 1965/1966. Bagi Soekarno, semangat nasionalisme mesti digayutkan dengan nilai-nilai universal tentang kemanusiaan. Ia membuat sebuah ilustrasi yang mencoba menghubungkan nasionalisme Indonesia dengan konsep Pan-Asiatisme. Itulah konsep-konsep yang bisa kita temukan dalam buku tersebut. Bung Karno menyatakan bahwa nasionalisme kita bukanlah nasionalisme yang sempit, bukan nasionalisme yang timbul dari kesombongan belaka. Nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme yang dalam kelebaran dan keluasannya memberi tempat cinta pada bangsa lain, sebagaimana lebar dan luasnya udara yang memberi tempat segenap sesuatu yang perlu untuk hidupnya segala hal yang hidup (hlm 4). Visi pax humanika Soekarno juga ia proyeksikan melalui pandangannya terhadap politik warna kulit, sebagai sesuatu yang adikodrati, tanpa menafikan pentingnya upaya-upaya penentuan nasib berdasarkan potensi diri. Dalam mencari-cari hubungan dengan lain-lain bangsa kulit berwarna itu, kita tak boleh lupa sekejap pun bahwa akhirnya nasib kita terletak dalam besar-kecilnya usaha kita sendiri (hlm 5). Satu hal lagi, pemikiran jernih Bung Karno adalah mengenai humans right atau hak asasi manusia. Ia jelaskan bahwa konsep hak asasi manusia bukan terminologi khas Barat dan menjadi hegemoni dan dominasi tafsir oleh Barat pula. Konsep tentang hak asasi manusia itu benar-benar yang bersifat universal, bagi seluruh umat manusia. *** SELANJUTNYA, dalam konfigurasi perpolitikan nasional yang sekarang tengah carut-marut seperti ini, rasanya cukup relevan dan banyak gunanya menggali kembali pemikiran-pemikiran cemerlang para pemimpin masa lalu. Membaca dan merenungkan konsep-konsep mendunia seperti itu, akan mengikis kekerdilan atau rendah diri. Buku yang khusus menampilkan pemikiran-pemikiran Bung Karno tentang hubungan internasional tersebut, kalau diplot dengan kenyataan sekarang, membuat kita terkagum. Waktu itu, tahun 1960-an, tatkala konflik Timur-Barat atau Soviet-Amerika tengah memuncak, ternyata ada pemikir Indonesia yang sudah melampaui zamannya, jauh ke depan. Apa yang dipikirkan Bung Karno tentang humanisme itu kini menjadi kebutuhan karena jurang negara kaya dengan negara miskin kian dalam dan lebar. Penerbitan buku ini juga merupakan referensi kritis bagi pemimpin dan generasi muda, agar dapat berupaya mereperkusikan kembali, mendentangkan lagi, peran Indonesia dalam pergaulan internasional. Indonesia di masa lalu bukan sebagai bangsa terpengaruh, melainkan menjadi bangsa yang berpengaruh. Semangat itulah yang harus ditumbuhkan kembali. Buku ini dapat pula dimaknai sebagai media pelurusan dan perluasan cakrawala sejarah bangsa, menggugah kejujuran kita untuk mengakui bahwa Bung Karno memang pencetus ide-ide besar. Dari segi penyuguhan, buku ini menyampaikan materi-materi pikiran Soekarno secara apa adanya, artinya naskah yang berupa teks pidato Bung Karno dalam berbagai kesempatan itu tetap ditulis dalam format pidato. Tidak ada deformasi. Penyajian seperti ini dapat membawa pembaca untuk membayangkan bagaimana gaya oratorisnya Bung Karno saat berpidato. Pembaca akan lebih tahu term-term dan intonasi kalimat saat Bung Karno berdiri di mimbar. (Topan Setiawan, penggemar buku, tinggal di Surakarta ). KOMPAS >Sabtu, 18 Agustus 2001 http://www.kompas.com/kompas-cetak/0108/18/dikbud/visi27.htmTANGGAPAN BETA: Sebaiknya jika anda punya dana dan waktu, milikilah buku ini. Paling tidak bisa untuk melangkapi kepustakaan di rumah anda. Sehingga setiap saat bisa anda buka dan baca, manakala anda perlu suatu rujukan yang memadai, saat menghadapi sesuatu. Terutama yang berkenaan dengan masalah-msalah ideologis dalam berngsa dan bernegara, yang tercerminkan dan termanifestasikan dalam praktek kehidupan kita sehari-hari. Tabik Beta Dhia Prekasha Yoedha 
Demokrasi dan Nasionalisme Hatta Antara Menang dan Kerbau Oleh : Indra J Piliang MOHAMMAD HATTA tanggal 11 Juni 1957 menegaskan, "Revolusi kita menang dalam menegakkan negara baru, dalam menghidupkan kepribadian bangsa. Tetapi revolusi kita kalah dalam melaksanakan cita-cita sosialnya.... Krisis ini dapat diatasi dengan memberikan kepada negara pimpinan yang dipercayai rakyat! Oleh karena krisis ini merupakan krisis demokrasi, maka perlulah hidup politik diperbaiki, partai-partai mengindahkan dasar-dasar moral dalam segala tindakannya. Korupsi harus diberantas sampai pada akar-akarnya, dengan tidak memandang bulu. Jika tiba di mata tidak dipicingkan, tiba di perut tidak dikempiskan. Demoralisasi yang mulai menjadi penyakit masyarakat diusahakan hilangnya berangsur-angsur dengan tindakan yang positif, yang memberikan harapan kepada perbaikan nasib." (Deliar Noer, Mohammad Hatta: Biografi Politik, LPE3S, Jakarta, 1990, halaman 504-505. Bandingkan, Mohammad Hatta, Bung Hatta Berpidato Bung Hatta Menulis, Penerbit Mutiara, Jakarta, 1979, halaman 73-93) Barangkali, dari beragam sumbangan pemikiran, perilaku, tindakan, dan capaian kehidupan Hatta, yang terus akan berkembang dan bermasalah menyangkut demokrasi dan nasionalisme di Indonesia. Rujukan Hatta tentang demokrasi juga beragam, mulai dari alam pikiran Yunani, sampai alam pedesaan Indonesia. Atas dasar demokrasi dan nasionalisme, Perhimpunan Indonesia (PI) menerbitkan buletin paling terkenal di Belanda, Indonesia Merdeka, yang menyebabkan Hatta dan kawan-kawan diadili yang, uniknya, justru tak dibela kalangan komunis Belanda yang getol berbicara tentang kolonialisme (MR JEW Duijs, Membela Mahasiswa Indonesia Di Depan Pengadilan Belanda, PT Gunung Agung, Jakarta, 1985, halaman 3), sebagaimana dukungan yang diterima oleh Ibrahim Tan Malaka ketika ditangkap dan dibuang ke Belanda, lalu menetap di Moskwa, Uni Soviet. (Harry A Poeze, Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik (I), PT Pustaka Utama Grafiti, Jakarta, 1988, halaman 263) Di bidang ekonomi, Hatta tak lupa mencantumkan demokrasi ekonomi, lalu menemukan bentuk ideal koperasi berdasarkan ritual perjalanannya di negara-negara Skandinavia dan akarnya dalam masyarakat desa. Begitupun dalam sosialisme, ia tak lupa mencantumkan sosialisme demokrasi. Tanpa demokrasi, sosialisme akan kehilangan arah, dukungan, dan tujuan. Dari keseluruhan bangunan pikiran itu, Hatta dengan tegas menyebutkan agama yang ia anut, Islam, sebagai fundamen. Ia menjadikan sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa, sebagai roh atau landasan tauhid sila-sila berikutnya. Ini juga sesuai dengan falsafah utama alam Minangkabau, adat basandi syara' (agama, syariat), dan syara' basandi Kitabullah (Al Quran). Demi penghormatan atas demokrasi, Hatta mundur dari pemerintahan, mengubah dwitunggal menjadi dwitanggal, di alam kemerdekaan. Sekalipun para pendukungnya meradang, lalu meletuskan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang berbasis di kampung kelahirannya, yang didominasi oleh panglima militer di Sumatera dan Sulawesi, juga Partai Sosialis Indonesia (PSI) dan Masyumi, Hatta menolak bergabung. Sebaliknya, ia mengecam kekerasan militer dalam memadamkan pembangkangan itu. Hatta menulis risalah kecil bernama "Demokrasi Kita" (DK). "Apa yang terjadi sekarang ialah krisis daripada demokrasi. Atau demokrasi dalam krisis. Demokrasi yang tidak kenal batas kemerdekaannya, lupa syarat-syarat hidupnya dan melulu menjadi anarki, (yang) lambat laun digantikan oleh diktator. Ini adalah hukum besi dari sejarah dunia! (Sri Edi Swasono dan Fauzie Ridjal (penyunting), Mohammad Hatta: Beberapa Pokok Pikiran, UI Press, Jakarta, 1992, halaman 112) Ketika Hatta mengecam Bung Karno yang tidak mendorong proses demokratisasi, ia tidak mengalami tindakan fisik, berupa penahanan. Padahal, Sutan Sjahrir, Muhammad Natsir, Ida Anak Agung Gde Agung, dan tokoh Masyumi dan PSI lainnya masuk penjara. Soekarno hanya menyindir Hatta, berdasarkan bisikan orang-orang di sekelilingnya. Hatta juga tak memilih kawan bergaul, saking demokratis dan egaliternya. Ia "tersandung" dalam kasus Sawito yang sebetulnya kasus biasa, tetapi menjadi luar biasa ketika tokoh-tokoh seperti Hatta, Buya Hamka, Kardinal Justinus Darmojuwono, dan TB Simatupang ikut menandatangani dokumen yang dijadikan oleh Soeharto untuk menyatakan konspirasi politik penggulingannya. Padahal, usia Hatta sudah 74 tahun bahkan ia harus memakai kaca pembesar untuk membaca. (Tempo, 2 Oktober 1976) Sikap Hatta yang 'kurang teliti' itu mendapat perlakuan buruk. Ia dipaksa menandatangani konsep surat yang bukan ditulisnya sendiri, sehingga tidak menggambarkan kekhasan bahasanya. Ia "diinterogasi" oleh Jaksa Agung lewat surat tanggal 18 Desember 1976. Ia juga ditanya soal pemberian maaf untuk Soekarno. Hatta mengalami gangguan yang tak masuk akal, diusik, untuk sekadar pertaruhan politik di sekitar pembantu-pembantu Soeharto. Hatta juga dikenal sebagai nasionalis sejati. Ia berjuang di Belanda dan daratan Eropa, bersama dengan pejuang-pejuang lain dari beragam garis ideologi dan negara di tengah bangkitnya kerja sama antikolonialisme di kalangan kaum pergerakan di berbagai belahan Dunia Ketiga. Ia amat percaya Indonesia pasti merdeka. Demi tujuan itu, Hatta rela untuk tidak menikah. Pepatah klasik adat Minangkabau, "Kawinilah ibumu sebelum kawin dengan orang lain!" hidup dalam dirinya. Mengawini ibu ini maksudnya adalah mencukupi kebutuhan ibu kandung, bahkan kalau bisa mencari uang agar ibu bisa pergi ke tanah suci, Mekah, Arab Saudi. Hatta menerapkannya dengan cara yang lain, tidak menikah sebelum Ibu Pertiwi merdeka. Parameter pencapaian kemerdekaan hakiki, langsung melekat dalam dirinya, sebagaimana ukuran lain dalam kedisiplinan, ketelitian, pendidikan, demokrasi, agama, dan kemajemukan. Hatta tidak hanya menulis dan berpidato, tetapi langsung memakainya. Hatta bisa disebut "buah pikiran yang berjalan". Ia hidup dari pikiran-pikirannya, dan pikiran-pikirannya hidup dari dia. Satu kombinasi yang kemudian secara tajam diterjemahkan oleh Nurcholis Madjid sebagai sufi dalam bidang agama Islam (Nurcholish Madjid, Bung Hatta: Dari Demokrasi Minangkabau ke Demokrasi Indonesia, pada Pidato Kebudayaan untuk Acara Peringatan 100 Tahun Bung Hatta, Lembaga Studi dan Pengembangan Etika Usaha Indonesia, Jakarta, 7 Juni 2002). Tepatnya, sikap zuhud terhadap dunia. Dari mana Hatta memperoleh seluruh esensi demokrasi dan nasionalisme itu? Kenapa nasib demokrasi dan nasionalisme meredup, atau menyimpang? Sebaiknya kita menyelam ke masa silam, menyangkut pergumulan Sumatera Barat (Sumbar) dalam awal abad ke-20, ketika kaki Gunung Merapi dan Singgalang dikuasai oleh bangsa kulit putih, sejak tahun 1837. Sumbar pada tahun-tahun itu menjadi muntahan lava berbagai bentuk pemikiran. Sekolah gabungan modern dengan tradisional sedang marak. (Taufik Ismail et.al., (ed), Manusia Dalam Kemelut Sejarah, LP3S, Jakarta, 1978, halaman 219-243) Kaum adat dan kaum agama menjadikan sekolah dan media massa sebagai arena perdebatan. (Khairul Jasmi, Surat Kabar Minang: Konfigurasi Pemikiran Menakjubkan, dalam majalah Pantau, Tahun II Nomor 022 - Februari 2002, Jakarta, halaman 56-59) Di Batavia, sastrawan-sastrawan Minang sedang riuh-rendahnya memikirkan, merenungkan, mengolok-olok, atau merumuskan kebudayaan modern. (Pamusuk Eneste, Leksikon Kesusasteraan Indonesia Modern, edisi baru, cetakan ke-3, Djambatan, Jakarta, 1990, halaman xii-xiv). Padang, Medan dan Jakarta adalah segitiga pertumbuhan pengetahuan dan kebudayaan dalam skala massif, dengan lingua franca Melayu yang egaliter. Sementara, Belanda sedang mengalami pendinginan arah invasi teritorial, setelah lelah menghadapi perjuangan rakyat Aceh yang baru berakhir tahun 1904. Dalam tingkat global, Jepang baru saja mengalahkan Rusia dalam perang tahun 1905. Kekalahan Rusia adalah awal kebangkitan Asia atas dominasi bangsa-bangsa kulit putih Eropa. Dunia Eropa-Amerika juga sedang bergejolak dengan Perang Dunia Pertama dan dilanjutkan dengan Perang Dunia Kedua. Nasionalisme dan demokrasi Hatta adalah tipikal manusia yang berjalan lurus. Satu pepatah Minang mungkin hidup dalam dirinya, sejauh-jauhnya terbang bangau, pasti kembali ke kubangan. Sekalipun terkenal sebagai orang yang berpendidikan Belanda dan modern, Hatta tak kehilangan jati dirinya. Ia hanya mengambil apa yang dianggap perlu dari pemikiran, struktur pemerintahan, sampai konsepsi demokrasi dan nasionalisme yang didapatkan dari pengembaraan di Eropa. Hampir keseluruhan rujukannya dapat dipulangkan ke Nagari asal, sekaligus kontra interpretasinya. Dari Nagari, Hatta menemukan prototipe dari Indonesia, kebudayaannya, juga bentuk hubungan kekuasaan dalam bingkai demokrasi. Ketika bercerita tentang pasar di Bukittinggi, Hatta menulis, "Pasar dan pekan (pasar-Red) itu teratur baik". Bukan pemerintah setempat yang mengaturnya, melainkan Nagari menurut tradisi. Waktu politik mulai masuk ke daerah Minangkabau sering terdengar perkataan orang di pasar Bukittinggi dengan menunjuk ke rumah Asisten Residen yang tidak jauh dari situ: 'Beliau itu di situ berkuasa, memerintah seluruh Agam, tetapi di sini kita yang kuasa. Ini anak negeri yang punya. Di sini masih berlaku Plakat Panjang, yang sudah dirobek-robek oleh Belanda." (Mohammad Hatta, Memoir, Tintamas, Jakarta, 1979, halaman 4). Hatta termasuk salah satu pemikir besar Indonesia yang tak memutuskan mata rantai atau tali-temali budaya dari daerah asalnya, termasuk dari dunia pertamanya. Ia tak mengalami sindroma budaya, sebagaimana digambarkan dalam novel Salah Asuhan. Hatta juga bercerita tentang linglungnya orang-orang Indo yang sekapal dengannya ketika sampai di Pelabuhan Rotterdam (Mohammad Hatta, op.cit., halaman 104). Tetapi ia juga tak terjebak dengan simbol-simbol adat, sebagaimana juga tidak dalam posisi anti-asing secara kurang proporsional. Dalam berpakaian, Hatta malah lebih dikenal dengan pakaian resmi, dan tidak pernah menggunakan pakaian adat. Istri Hatta bahkan menggunakan kebaya dan tidak menggunakan kerudung yang tertutup ketika menikah tanggal 18 November 1945, sebagai tanda ia bukanlah orang yang terjebak dengan simbol-simbol agama. Hatta tak punya dan tak memakai gelar Datuk (penghulu). Ia mengaku lupa nama suku ibunya, padahal suku penting bagi orang Minang, mungkin juga sebagai penghormatan kepada ayah tirinya Mas Agus Haji Ning yang merupakan keturunan ketujuh dari Pangeran Sidang Bajak, atau bisa jadi sebagai kritikan atas adat istiadat yang tak sesuai lagi dengan perkembangan zaman. Keadaan ini sangat berbeda dengan Orde Baru, ketika Minang mengalami Golkarisasi dan feodalisasi, yang terlihat dari penggunaan gelar Datuk oleh hampir seluruh pejabat di Minang, bahkan juga turut dilekatkan kepada pejabat di luar Minang. Dalam demokrasi, Hatta malah pernah berpolemik tajam dengan seorang penulis yang menyebut nama "Si Rakyat" yang menulis di majalah Persatoean Indonesia. "Si Rakyat" mengkritik penggunaan nama Volkssouvereiniteit sebagai bahasa Belanda dan menyimpulkan demokrasi Indonesia sebagai barang impor. Hatta membalas: "...perkataan 'demokrasi' yang dipakai oleh Si Rakyat tidak asli. Perkataan itu juga import!....Partai-partai Indonesia disuruh memakai semboyan 'Demokrasi Indonesia'... "Sebagai contoh disebutnya pengertian demokrasi di Minangkabau: Sepakat. .... ia mengutip suatu pepatah Minangkabau, yaitu: 'Kemenakan beraja (tunduk seperti diperintah raja-Red) ke mamak, mamak beraja ke penghulu, penghulu beraja ke mufakat'. Mufakat siapa? Bukan mufakat rakyat, melainkan mufakat penghulu saja. ... sudah banyak benar sekarang jumlah kemenakan yang tiada mau lagi 'beraja' ke mamak dan penghulu...." (Mohammad Hatta, Kumpulan Karangan, Penerbit Bulan Bintang, Jakarta, 1976, cet. 2, halaman 123-129) Inilah kritik Hatta atas model "permufakatan" adat yang esensinya tidak melibatkan masyarakat. Idealisasi Hatta atas adat Minang dalam sejumlah hal justru bertentangan dengan pemahaman orang banyak. Hatta tak mengalami semangat nasionalisme radikal, sebagaimana label yang diberikan kepada Tan Malaka. Ia juga tak berubah menjadi seorang yang sangat liberal, sekalipun pengacaranya berasal dari kalangan liberal Belanda, apalagi nasionalisme puritan ala Soekarno yang terkenal dengan Trisaktinya (merdeka di bidang politik, mandiri di bidang ekonomi, dan berdaulat di bidang budaya). Ia tak suka menggado-gadokan berbagai aliran ideologi yang saling bertentangan, sebagaimana dilakukan oleh Soekarno atas Marxisme, Islamisme, dan nasionalisme, yang berubah menjadi Nasakom (nasionalis, agama, dan komunis) di usia tua. Dalam membangun pemikiran, Hatta amat hati-hati, nyaris kompromis. Tetapi kompromismenya bukan tanpa batas, ketika ia mundur dari kursi Wapres, juga tidak bersedia bergabung dengan PRRI, atau memilih Pendidikan Nasional Indonesia (PNI), ketimbang bergabung dalam Partai Rakyat Indonesia (Partindo) dalam urusan koperasi dan nonkoperasi dengan Belanda. Hatta bukan orang yang melampaui batas-batas yang sanggup dijalani. Dalam nasionalisme, ia tahu dan mengerti mana yang tubuh, mana bayangan dari tubuh ketika diterpa matahari. Ia tak melangkah melebihi bayangan diri sendiri, atas nama utopianisme semu. Makanya, ia jarang terjerembab. Dalam demokrasi, ia memilih pendekatan kemanusiaan, walau sering disatu-nafaskan dengan pemikiran sosialisme. Dasar kerakyatan Hatta dalam demokrasi, dibangun atas kesadaran rakyat sendiri, dan bukan elite. Dalam bentuk negara, pemikiran Hatta berkembang menjadikan Indonesia sebagai negara serikat, walau gagal. Tetapi ia tetap mampu memasukkan Pasal 18 dalam UUD 1945, juga berbagai catatan di seputar UUD 1945, dalam Aturan Penjelasan dan Aturan Peralihan. Hatta juga dikenal sebagai penggagas awal desentralisasi dalam skala luas, termasuk desentralisasi partai politik dan pemilu sistem distrik. Minang, memang terkenal dengan susunan Nagarinya, membentuk "pemerintahan" berdasarkan konfederasi Nagari. Demokrasi model Hatta juga bukan demokrasi yang bersifat tunggal. Ia suka demokrasi multipartai, dengan melahirkan Maklumat X tahun 1945, untuk menolak fasisme Jepang. Namun ia kecewa Pemilu 1955 tidak menghasilkan pimpinan-pimpinan politik yang andal, akibat banyak anggota DPR yang sebetulnya "ditunjuk" oleh partainya, bukan langsung dipilih rakyat. Yang dipilih rakyat ialah partai atau kelompok dalam daftar Pemilu. Sistem daftar seperti ini mengurangi demokrasi, katanya, dan malah cenderung pada oligarki. Tapi Hatta juga bukan tokoh yang anti pada partai, atau bermaksud menguburkan partai-partai. Hatta malah mengingatkan berbahayanya sistem kepartaian yang dibangun oleh Soeharto, yang membatasi jumlah partai dan melahirkan massa mengambang. Dalam nasionalisme, Hatta tak berlaku chauvinistik. Ia bukan lagi orang pemerintah ketika Soekarno atas nama Demokrasi Terpimpin mengusir 40.000 orang Belanda dari Indonesia, dan melakukan nasionalisasi atas perusahaan-perusahaan Belanda di bidang perkebunan dan eksploitasi minyak tahun 1957. Ia tak punya peran ketika Indonesia keluar dari Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) awal tahun 1965 dan Soekarno mempersiapkan suatu konferensi besar New Emerging Forces (Conefo). Padahal, sebelumnya, Hatta penyumbang konsep "Mendayung di Antara Dua Karang", lalu prinsip itu lebur termuat dalam Dasasila Bandung dalam Konferensi Asia Afrika tahun 1955. (Mohammad Hatta-Gde Agung, Surat Menyurat Hatta dan Anak Agung: Menjunjung Tinggi Keagungan Demokrasi dan Mengutuk Kelaliman Diktatur, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1987, halaman) Hatta juga menggagas Program Ekonomi Benteng, mirip dengan yang dilakukan oleh Mahathir Mohamad di Malaysia, untuk melindungi ekonomi pribumi. Dalam metode perjuangan yang terbagi menjadi koperasi dan nonkoperasi di masa Jepang, Hatta memilih menempuh cara koperasi, lalu bergabung dalam Poetera (Pusat Tenaga Rakyat). Bersama Soekarno dan Ki Bagus Hadikusumo, ia pergi ke Tokyo bulan November 1943, lalu bertemu Tenno Heika. Ketiganya dianugerahi Bintang Ratna Suci, Kelas II untuk Soekarno, dan kelas III untuk Ki Bagus dan Hatta, hingga menggemparkan golongan Kempetai (polisi rahasia) Jepang. Tetapi ketika dibuang ke Bangka, dengan tegas Hatta menolak menemui pimpinan Belanda di Jakarta untuk berunding, karena ia wakil presiden. "Bukan aku yang perlu bicara dengan PM Drees, tetapi mungkin ia yang perlu dengan aku. Sebab itu ia mesti datang ke Bangka," kata Hatta. (Mohammad Hatta, Memoir, op.cit., halaman 546) Hatta tak kehilangan gagasan-gagasannya, dalam dua rezim otoriter pribumi. Ia bergerak dengan cara tersendiri. Ia tetap menulis surat kepada Soekarno, juga ke berbagai orang dekat dan jauh. Ia rajin mendatangi tempat-tempat di seluruh negeri, lantas menuliskan pemikirannya atas masalah yang dihadapi rakyat. Di masa Orde Baru, ia nyaris sangat miskin, tak mampu membayar kebutuhan rumah tangganya. Gubernur DKI Ali Sadikin, atas dasar keprihatinan, membantu Hatta untuk mendapatkan keringanan biaya listrik dan air untuk rumahnya dengan terlebih dahulu minta persetujuan DPRD DKI Jakarta. (Ramadhan KH, Bang Ali: Demi Jakarta 1966-1977, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1992, halaman 240) Ia jarang berkunjung ke luar negeri, dan memilih membaca dan menulis. Ia tak mengalami sindroma apapun, setelah tak lagi aktif, dan tetap disiplin dalam hidupnya, dengan bangun pagi. Masa depan nasionalisme dan demokrasi KetikaHatta meninggal tahun 1980, jutaan rakyat Indonesia menangisi kepergiannya. Penyanyi Iwan Fals membuatkan lagu khusus untuknya. Iwan seperti mengeluh pada Tuhan dengan lirik lagunya; "Tuhan, begitu cepat semua. Kau panggil satu-satunya yang tersisa, proklamator tercinta. Jujur, lugu, dan bijaksana, mengerti apa yang tersimpan dalam jiwa, Indonesia. Hujan air mata dari pelosok negeri, waktu mendengar engkau pergi. Berjuta kepala tertunduk haru, mengenang seorang sahabat..." Padahal, Iwan jarang memuja orang. Hatta pergi, tetapi tidak hilang dari ingatan orang-orang. Di tengah krisis nasionalisme, dalam arus globalisasi yang menghempaskan identitas primordial dan sektarian, apa yang bisa dipelajari dari Hatta? Banyak, sekalipun realisasinya sungguh tak ada, kalau kita melihat dangkalnya nilai perdebatan di kalangan pemimpin Indonesia kini. International Monetary Fund (IMF) hendak ditendang, padahal Indonesia berutang. Indonesia kini adalah sebuah negeri yang sangat miskin, korupsi menggurita, juga penuh dengan konflik vertikal, horizontal, dan komunal yang ironisnya berpusar pada elitisme dan egoisme chauvinistik. Metode nasionalisasi diulangi, bahkan dalam bentuk sempit kedaerahan, dalam kasus Maklumat Rakyat Sumbar tanggal 1 November 2001, tanpa kejelasan apakah keuntungan yang didapatkan dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Semen Padang jauh lebih besar dari mudaratnya, atau hanya menguntungkan segelintir kalangan. Di tingkat nasional, politisi yang sekaligus negarawan sungguh jarang menyampaikan visi tentang Indonesia kini dan masa depan, sekaligus menyelamatkan agar perahu retak Indonesia tak lantas tenggelam. Lalu, apa manfaat dari mempelajari riwayat Hatta? Keprihatinan. Ia telah menyusun bangunan pikiran tentang Republik Indonesia. Hampir tak ada yang terlewatkan. Prinsip-prinsip nasionalisme dan demokrasi telah ia tegaskan dan perjuangkan. Menonton apa yang terjadi di negeri ini, sungguh tak sebanding dengan apa yang telah dikerjakan Hatta. Mengingat Hatta, dalam kondisi elite negeri ini yang lebih suka berbeda untuk persoalan yang sudah jelas, seperti korupsi, hanyalah menonton sampah-sampah kehidupan yang tak berarti apa-apa bagi pembangunan (kembali) demokrasi. *Indra J Piliang Peneliti politik dan perubahan sosial Center for Strategic and International Studies (CSIS) Jakarta Jumat, 9 Agustus 2002 http://www.kompas.com/kompas-cetak/0208/09/nasional/anta41.htm
Mohammad Hatta, Pemimpin Bangsa yang Bijak Oleh : ROY SEMBEL dan TIM MANDIRI Bulan Agustus ini adalah bulan keramat bagi bangsa Indonesia yang memasuki usia 57 tahun. Salah satu proklamator kita, Bung Hatta, jika beliau masih hidup, tanggal 12 Agustus nanti akan memasuki usia 100 tahun. Tidak salah kalau rubrik kita kali ini menyoroti keteladanan sang pemimpin bangsa yang senantiasa berjuang bagi kepentingan negara kesatuan Indonesia. Berprinsip Teguh Bung Hatta yang dikenal jujur, sabar, cerdas, dan penuh ide ini memegang teguh prinsip yang diyakininya. Sebagai contoh adalah prinsip demokrasi yang diyakini beliau dapat membantu perbaikan kehidupan bangsa. Untuk itu beliau ikut memperjuangkan status Indonesia sebagai negara kesatuan yang dapat mengakomodasi aspirasi semua golongan tanpa kecuali. Beliau ikut mendukung dicabutnya pengusulan pembentukan negara yang memihak pada golongan tertentu saja. Keteguhan Pak Hatta dalam memegang prinsip bukan semata-mata untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk kepentingan bangsa. Ketika beliau berseberangan prinsip dengan pemerintah yang sedang berkuasa saat itu, beliau rela mengundurkan diri guna mempertahankan kesatuan bangsa. Berjuang Tanpa Kekerasan Bung Hatta yang lembut hati, selalu mencari strategi untuk berjuang tanpa kekerasan. Senjata ampuh yang digunakan tokoh proklamator kita ini adalah otak dan pena. Dari pada melawan dengan kekerasan beliau lebih memilih untuk menyusun strategi, melakukan negosiasi, lobbying, dan menulis berbagai artikel dan buku untuk memperjuangkan nasib bangsa. Prinsip tanpa kekerasan ini muncul karena rasa hormat Bung Hatta pada sesama manusia, baik kawan atau pun lawan. Walaupun Bung Hatta tidak setuju dengan pendapat atau pun seseorang, beliau tidak lalu membenci orang tersebut, tetapi tindakan dan pendapatnyalah yang tidak beliau setujui. Misalnya saja, Bung Hatta yang sangat kuat keteguhan beragamanya tidak menyukai hal-hal yang berbau duniawi yang pada saat itu umumnya berasal dari negeri seberang. Tapi bukan berarti dia lalu membenci orang-orang asing. Beliau memiliki banyak teman bangsa asing dan banyak pemikiran bangsa asing yang positif (disiplin, etos kerja positif) yang beliau adaptasi untuk kemajuan bangsa. Sikap ini menyebabkan Bung Hatta dihormati oleh semua orang: kawan atau pun lawan. Berusaha Sebaik Mungkin Bung Hatta selalu berusaha melakukan yang terbaik dalam segala hal, misalnya dengan bersikap hati-hati dan melakukan perencanaan yang matang. Semua tugas-tugas yang dibebankan kepadanya dilakukan dengan sepenuh hati, dan direncanakannya dengan sebaik mungkin agar memperoleh hasil yang maksimal. Semua pidato dan kata-kata beliau untuk publik pun disiapkan secara profesional. Keputusan-keputusan diambil setelah sebelumnya dipikirkan dengan saksama dan didukung dengan data dan informasi yang cukup. Beliau tidak menginginkan terjadinya kegagalan yang disebabkan kecerobohan atau pun karena kurang persiapan. Berkarya Nyata Bung Hatta merupakan tokoh yang selalu berkarya nyata. Salah satu karya monumental beliau adalah bentuk koperasi. Pemikiran ini dituangkan pada pembentukkan koperasi pengusaha batik, yang akhirnya sukses sampai saat ini. Koperasi tersebut berhasil mendorong kemajuan bagi pengusaha batik dan memberi mereka kesempatan untuk memperluas usaha dengan ekspor. Karya-karya lainnya adalah berbentuk tulisan. Pada saat bangsa Indonesia masih berkutat untuk menumbuhkan minat baca, beliau sudah jauh lebih maju, yaitu dengan memberikan teladan bagi bangsa Indonesia untuk menumbuhkan budaya menulis. Kegiatan tulis-menulis ini telah beliau lakukan sejak masih belajar di negeri Belanda sampai akhir hayatnya. Tak terhitung lagi jumlah artikel dan buku yang telah beliau tulis. Sebuah monumen intelektual berupa perpustakaan di Bukittinggi pun telah didirikan untuk mengenang Pak Hatta. Walaupun Bung Hatta sudah tiada, beliau tetap hidup melalui pemikiran, prinsip, dan kualitas pribadi beliau yang positif. Menjelang peringatan hari kemerdekaan Indonesia, bersamaan dengan 100 tahun kelahiran tokoh proklamator kita ini, sudah selayaknyalah kita teladani sisi positif kualitas kepemimpinan beliau yang berpegang teguh pada prinsip, berjuang tanpa kekerasan, berusaha melakukan yang terbaik, dan senantiasa berkarya untuk kepentingan bangsa. Merdeka! /Copyright © Sinar Harapan 2002 http://www.sinarharapan.co.id/ekonomi/mandiri/2002/081/man02.html
Bali Post, Sun Jun 24, 2007 4:38 am (PST) ”Eine Nation Von Kuli und Kuli Unter Den Nationen” (Bukan hanya di luar negeri bangsa kita diperlakukan sewenang-wenang, bahkan di negeri sendiri juga tidak berbeda) DULU, pembantu rumah tangga (PRT) disebut "babu" kalau perempuan dan dipanggil "jongos" kalau laki-laki. Sekarang, kedua sebutan yang berkesan feodalistis dan diskriminatif yang bertentangan dengan HAM, tidak lagi digunakan. Namun, apa pun panggilannya kini, ternyata tenaga kerja wanita (TKW) yang dikirim ke luar negeri, khususnya yang dipekerjakan sebagai PRT, lebih sering pulang membawa kisah sedih daripada gembira. Diperkosa, disiksa, tidak dibayar sesuai kontrak dan diperlakukan jauh di bawah standar manusiawi. Sebutan keren dan nama "Ceria" tidak berperan mengubah nasib buruk Ceriyati (34) yang melarikan diri dari rumah majikannya berlantai 15 di Kuala Lumpur, Malaysia, Minggu (17/6). Wanita asal Brebes, Jawa Tengah, yang bersuami Ridwan (39), ibu dari Ade Nuriman (15) dan Anggun Wiana Rizki (5) itu nyaris tewas kalau tidak diselamatkan Tim Bomba, regu kebakaran dan penyelamatan Malaysia. Sebab, sobekan kain dan selimut yang disambungnya hanya mampu mengantarkan wanita itu hingga ke lantai 12, sehingga dia harus menggelayut di ketinggian cukup lama, sampai K. Balasupramaniam dari Tim Bomba berhasil mengevakuasinya. "Di Kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kuala Lumpur, Ceriyati mengaku sudah tidak tahan lagi menerima siksaan majikan wanitanya, Ivone Siew, yang pialang real estate. Dia telah bekerja selama lima bulan dan belum menerima gaji sepeser pun, namun sering dipukul majikan karena kekesalannya di tempat kerja. Malah kalau dia dianggap salah, selain dipukul berulang-ulang, juga tidak dikasih makan. Tidurnya di lantai dan setiap kali majikan keluar, pintu dikunci dari luar. Nah, ketika berhasil diselamatkan, Ceriyati yang luka-luka dan memar di sekujur tubuhnya diobati di rumah sakit," tutur Rincug. "Wajah Ceriyati adalah wajah bangsa Indonesia secara umum. Demikian pula senyumnya, yang dikatakan K. Balasupramaniam selalu ceria, seperti diungkap Bali Post, adalah senyum bangsa Indonesia yang sulit diduga maknanya. Bangsa yang peramah dan pemarah sekaligus! Itulah wajah bersungging senyum, tapi menangis dalam hati. Di dalam negeri dia dipuji sebagai pahlawan devisa, tapi di tempat kerjanya di luar negeri kadar kemanusiaannya direndahkan ke tingkat hewan," sahut Rubag. "Aku dengar, ada sekitar 300 ribu WNI yang jadi pembantu di Malaysia, konon sedikitnya 1.200 orang yang melarikan diri dari rumah majikannya setiap bulan. Tragisnya, PRT itu bekerja tanpa perlindungan hukum, baik dari pemerintah Indonesia maupun Malaysia, sehingga para majikan memperlakukan mereka sekehendak hati. Apalagi paspor disetor pada majikan saat mereka mulai bekerja, sehingga untuk melarikan diri pun mereka takut dijebak tuduhan 'pendatang haram'. Lucunya lagi, ketika kasus Ceriyati terkuak, seorang petinggi di Jakarta berteriak, hentikan sementara pengiriman TKI ke Malaysia. Ini ucapan reaktif yang sudah jadi budaya di negeri ini," komentar Jernat. "Ya, seperti petinju pemula yang terdesak di sudut ring, lalu berspekulasi melontarkan pukulan ngawur. Maunya sih mengusir lawan, tapi lawannya bukan petinju ayam sayur yang mudah digertak. Agaknya, jangankan menghentikan pengiriman, andaikata seluruh TKI yang ada di Malaysia ditarik pulang pun, kukira, negeri jiran itu tak keberatan. Sebab, kita yang dalam posisi membutuhkan, sedangkan mereka, kalau tidak ada TKI, bisa saja menggunakan tenaga kerja lain. Mungkin prinsip Malaysia, mau datang dengan kondisi yang dimilikinya, silakan, kalau tidak, mangga! Ceriyati bukan korban pertama dan satu-satunya, tapi banyak kasus lain yang terjadi sebelumnya, namun tidak bisa dituntaskan, " ujar Lonjong. "Kita sudah sering mendengar slogan 'bangsa serumpun' bahkan terikat dalam satu asosiasi bernama Asean, malah bahasa Indonesia tidak terlalu berbeda dengan bahasa Malaysia, namun dalam kedudukan, kita seperti golongan proletar dan mereka borjuis. Kita buruh, mereka majikan. Malah TKI kita diuber-uber karena dianggap pendatang ilegal dan dideportasi paksa, sedangkan upah mereka yang tak terbayar akibat melarikan diri dikejar imigrasi, menjadi keuntungan pengusaha. Rupa-rupanya pendatang haram diharapkan datang ke negeri jiran itu agar bisa diperlakukan sewenang-wenang. Di negeri ini, cuma ada dua pendatang haram dari Malaysia, yang juga dikejar-kejar petugas, yakni Noordin M. Top dan Dr. Azahari yang sudah almarhum didor Densus 88," kata Rincug. "Helfferich punya istilah, 'eine nation von kuli und kuli unter den nationen' artinya 'sebuah bangsa kuli dan jadi kuli bangsa-bangsa lain' Meskipun Bung Karno sering mengutip istilah itu dalam pidatonya, namun dia tidak mengharapkan bangsa yang diproklamasikan kemerdekaannya menjadi budak bangsa-bangsa lain. Tapi, kenyataan berkata lain. Bukan hanya di luar negeri bangsa kita diperlakukan sewenang-wenang, bahkan di negeri sendiri juga tidak jauh berbeda. Malah sebelum istilah 'globalisasi' banyak dilontarkan, seorang buruh wanita Marsinah jadi korban kekejaman majikan. Sayang, peristiwa itu sudah dilupakan kebanyakan orang, bahkan oleh kaum pekerja sendiri," ulas Rubag. "Kini kita sudah melangkah ke kawasan pasar terbuka dengan kompetisi bebasnya, yang disebut globalisasi. Pembangunan tidak lagi dipimpin pemerintah, tapi diserahkan pada mekanisme pasar dan campur tangan pemerintah dikurangi. Nah, kalau pemerintah saja bisa didikte, apalagi asosiasi-asosiasi pekerja. Perancang globalisasi tidak lagi menganggap pekerja sebagai buruh, tapi wiraswasta. Artinya, orang-orang yang berani menanggung risiko dalam pekerjaannya, termasuk lembur tanpa dibayar, dikurangi upahnya dan di-PHK tanpa pesangon. Bahkan kini, hampir semua rekrutmen dalam pekerjaan melalui outsourcing dengan sistem kontrak. Dengan demikian pengusaha terhindar dari segala tuntutan jaminan sosial kecuali gaji dan pekerja yang dianggap membangkang tidak diperpanjang kontraknya untuk tahun berikutnya. Dengan sistem ini, tanpa dibubarkan pun organisasi-organisa si buruh bubar sendiri. Inilah eine nation von kuli!" tambah Jernat. "Wah, pantas di setiap demo, para buruh sering hanya dihadapi aparat berpentung dan berperisai, kadang-kadang dilengkapi water canon. Jadi, apakah cuma untuk urusan jadi bemper, peran pemerintah masih diharapkan? Lucunya lagi, hampir dalam semua pertikaian antara buruh dan majikan, kemenangan selalu pada pihak pengusaha. Apakah kalau buruh dimenangkan, dikhawatirkan para pengusaha akan menutup usahanya, lalu pindah ke luar negeri?" tanya Rincug. "Kira-kira begitu! Apalagi para pejabat kita sering mendewa-dewakan investor asing sebagai penggerak utama untuk mendorong perekonomian yang kini mengalami stagflasi. Akibatnya, banyak investor bertipe footloose (ringan kaki) dan runaway (melarikan diri) rebutan menanam modal di negeri ini. Namun investor seperti ini, seperti namanya ringan kaki, akan segera menutup usahanya untuk melarikan diri, bila mendapat goncangan sedikit saja, baik karena gejolak sosial politik maupun masalah perburuhan. Makanya, mereka tidak membangun pabrik-pabrik permanen yang padat modal, tapi bangunan sederhana yang kalau diterlantarkan tidak rugi banyak. Inilah penyebab pengangguran, yang di antaranya terpaksa menjual tenaga ke luar negeri, baik secara legal maupun ilegal," ulas Rubag. "Di luar negeri kita kuli, di dalam negeri tetap kuli, malah kini kuli unter den nationen atau kuli bangsa-bangsa lain," ujar Jernat sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. * * *
 | Category: | Books | | Genre: | Religion & Spirituality | | Author: | ir soekarno |
Waspadai Redefinisi Nasionalisme Jakarta, Kompas – Senin, 25 Juni 2007
Pengaruh ideologi global membuat pemaknaan terhadap faham kebangsaan Indonesia bergeser. Nasionalisme religius yang menjadi ciri nasionalisme Indonesia mulai berubah mengarah kepada nasionalisme kosmopolitan.
"Nasionalisme religius seperti yang dicetuskan Bung Karno (Soekarno) adalah nasionalisme yang tumbuh dari budaya Indonesia," kata Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Ma’ruf Amin dalam bedah buku Bung Karno Islam Pancasila NKRI yang diselenggarakan Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia NU, Jumat (22/6).
Nasionalisme religius merupakan perpaduan antara semangat kebangsaan dan keberagamaan. Nasionalisme Indonesia bersumber kepada Pancasila, sedangkan semangat religius bersumber kepada ajaran Islam yang menjadi agama mayoritas masyarakat. Antara nilai-nilai Pancasila dan Islam dapat saling dikompromikan dan tidak berbenturan.
"Kedua unsur tersebut saling mengisi yang melahirkan semangat nasionalisme yang beragama dan semangat beragama yang nasionalis," kata Ma’ruf.
Namun, pengaruh berbagai ideologi global membuat nasionalisme religius mulai dimaknai secara berbeda oleh sebagian kelompok. Makna religius mulai dipengaruhi oleh berbagai faham keagamaan global dan faham sekularisme. Nasionalisme religius pun bergeser menjadi nasionalisme kosmopolitan.
Buku Bung Karno Islam Pancasila NKRI berisi tentang surat, artikel, ceramah, dan pidato Bung Karno tentang Islam dalam konteks Pancasila dan Negara Kesatuan RI. (MZW)
TANGGAPAN BETA : Karena berisi kumpulan pidato, ceramah, sambutan, dan surat, yang disampaikan langsung oleh Bung Karno sebagaimana biasa, pasti isi buku ini mudah dicerna. Dia tidak akan sepelik buku ilmiah, juga tidak serepot (bagi pembaca yang tidak memahami bahasa Arab atau khatam Al Quran) membaca buku uraian tentang ajaran agama. Lho mengapa kok menjadi semudah itu ? Jawabannya sederhana, karena buku itu bukan kumpulan makalah, tapi ceramah lisan dan pidato dari Bung Karno yang dengan segala kiat dan kelihayan ssang orator yang memukau membuat pembaca gampang menjiwai teks tertulis di buku itu, sebagaimana juga para pendengar yang langsung mendengarkan ceramah, pidato, dan sambutan Bung Karno pada masa itu. Buku ini sudah bisa diperoleh di berbagai toko buku terkemuka di Indonesia, seperti Gramedia, Gunung Agung dll Siapapun yang tertarik dengan isu nasionalisme, islamisme, maupun ideologis, saran beta sebaiknya segera memilikinya. Sebab meskipun ihwal itu disampaikan Bung Karno pada 40 tahun yang lampau, namun semua isinya teryata sangat relevan dengan perkembangan dunia saat ini.
Tabik Beta Dhia Prekasha Yoedha

| Bung Karno Mandi Air Kencing di Pesawat Fakta seputar PROKLAMASI KEMERDEKAAN oleh Iwan Satyanegara: Selasa, 12 Agustus 2003M 13 Jumadil Akhir 1424H +++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Mungkinkah Revolusi Kemerdekaan Indonesia disebut sebagai revolusi dari kamar tidur? Coba simak ceritanya. +++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Pada 17 Agustus 1945 pukul 08.00, ternyata Bung Karno masih tidur nyenyak di kamarnya, di Jalan Pegangsaan Timur 56, Cikini. Dia terkena gejala malaria tertiana. Suhu badannya tinggi dan sangat lelah setelah begadang bersama para sahabatnya menyusun konsep naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda. Pating greges, keluh Bung Karno setelah dibangunkan de Soeharto, dokter kesayangannya. Kemudian darahnya dialiri chinineurethan intramusculair dan menenggak pil brom chinine. Lalu ia tidur lagi. Pukul 09.00, Bung Karno terbangun. Berpakaian rapi putih-putih dan menemui sahabatnya, Bung Hatta. Tepat pukul 10.00, keduanya memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dari serambi rumah. “Demikianlah Saudara-saudara ! Kita sekalian telah merdeka !”, ujar Bung Karno di hadapan segelintir patriot-patriot sejati. Mereka lalu menyanyikan lagu kebangsaan sambil mengibarkan bendera pusaka Merah Putih. Setelah upacara yang singkat itu, Bung Karno kembali ke kamar tidurnya. masih meriang. Tapi sebuah revolusi telah dimulai… Upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ternyata berlangsung tanpa protokol, tak ada korps musik, tak ada konduktor dan tak ada pancaragam. Tiang bendera pun dibuat dari batang bambu secara kasar, serta ditanam hanya beberapa menit menjelang upacara. Tetapi itulah, kenyataan yang yang terjadi pada sebuah upacara sakral yang dinanti-nantikan selama lebih dari tiga ratus tahun! Bendera Pusaka Sang Merah Putih adalah bendera resmi pertama bagi RI. Tetapi dari apakah bendera sakral itu dibuat? Warna putihnya dari kain sprei tempat tidur dan warna merahnya dari kain tukang soto! Setelah merdeka 43 tahun, Indonesia baru memiliki seorang menteri pertama yang benar-benar orang Indonesia asli. Karena semua menteri sebelumnya lahir sebelum 17 Agustus 1945. Itu berarti, mereka pernah menjadi warga Hindia Belanda dan atau pendudukan Jepang, sebab negara hukum Republik Indonesia memang belum ada saat itu. “Orang Indonesia asli” pertama yang menjadi menteri adalah Ir Akbar Tanjung (lahir di Sibolga, Sumatera Utara, 30 Agustus 1945), sebagai Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga pada Kabinet Pembangunan V (1988-1993). Menurut Proklamasi 17 Agustus 1945, Kalimantan adalah bagian integral wilayah hukum Indonesia. Kenyataannya, pulau tersebut paling unik di dunia. Di pulau tersebut, ada 3 kepala negara yang memerintah! Presiden Soeharto (memerintah 4 wilayah provinsi), PM Mahathir Mohamad (Sabah dan Serawak) serta Sultan Hassanal Bolkiah (Brunei). Hubungan antara revolusi Indonesia dan Hollywood, memang dekat. Setiap 1 Juni, selalu diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila semasa Presiden Soekarno. Pada 1956, peristiwa tersebut “hampir secara kebetulan” dirayakan di sebuah hotel Hollywood. Bung Karno saat itu mengundang aktris legendaris Marylin Monroe, untuk sebuah makan malam di Hotel Beverly Hills, Hollywood. Hadir di antaranya Gregory Peck, George Murphy dan Ronald Reagan (25 tahun kemudian menjadi Presiden AS). Yang unik dari pesta menjelang Hari Lahir Pancasila itu, adalah kebodohan Marilyn dalam hal protokol. Pada pesta itu, Maryln menyapa Bung Karno bukan dengan “Mr President” atau “Your Excellency”, tetapi dengan Prince Soekarno! Ada lagi hubungan erat antara 17 Agustus dan Hollywood. Judul pidato 17 Agustus 1964, Tahun Vivere Perilocoso (Tahun yang Penuh Bahaya), telah dijadikan judul sebuah film The Year of Living Dangerously. Film tersebut menceritakan pegalaman seorang wartawan asing di Indonesia pada 1960-an. Pada 1984, film yang dibintangi Mel Gibson itu mendapat Oscar untuk kategori film asing! Naskah asli teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang ditulis tangan oleh Bung Karno dan didikte oleh Bung Hatta, ternyata tidak pernah dimiliki dan disimpan oleh Pemerintah! Anehnya, naskah historis tersebut justru disimpan dengan baik oleh wartawan B. M. Diah. Diah menemukan draft proklamasi itu di keranjang sampah di rumah Laksamana Maeda, 17 Agustus 1945 dini hari, setelah disalin dan diketik oleh Sajuti Melik. Pada 29 Mei 1992, Diah menyerahkan draft tersebut kepada Presiden Soeharto, setelah menyimpannya selama 46 tahun 9 bulan 19 hari. Ketika tiba di Pelabuhan Sunda Kelapa 9 Juli 1942 siang bolong, Bung Karno mengeluarkan komentar pertama yang janggal didengar. Setelah menjalani pengasingan dan pembuangan oleh Belanda di luar Jawa, Bung Karno justru tidak membicarakan strategis perjuangan menentang penjajahan. Masalah yang dibicarakannya, hanya tentang sepotong jas! “Potongan jasmu bagus sekali!” komentar Bung Karno pertama kali tentang jas double breast yang dipakai oleh bekas iparnya, Anwar Tjikoroaminoto, yang menjemputnya bersama Bung Hatta dan segelintir tokoh nasionalis. Rasa-rasanya di dunia ini, hanya the founding fathers Indonesia yang pernah mandi air seni. Saat pulang dari Dalat (Cipanasnya Saigon), Vietnam, 13 Agustus 1945, Soekarno bersama Bung Hatta, dr Radjiman Wedyodiningrat dan dr Soeharto (dokter pribadi Bung Karno) menumpang pesawat fighter bomber bermotor ganda. Dalam perjalanan, Soekarno ingin sekali buang air kecil, tetapi tak ada tempat. Setelah dipikir, dicari jalan keluarnya untuk hasrat yang tak tertahan itu. Melihat lubang-lubang kecil di dinding pesawat, di situlah Bung Karno melepaskan hajat kecilnya. Karena angin begitu kencang sekali, bersemburlah air seni itu dan membasahi semua penumpang. Byuuur… Berkat kebohongan, peristiwa sakral Proklamasi 17 Agustus 1945 dapat didokumentasikan dan disaksikan oleh kita hingga kini. Saat tentara Jepang ingin merampas negatif foto yang mengabadikan peristiwa penting tersebut, Frans Mendoer, fotografer yang merekam detik-detik proklamasi, berbohong kepada mereka. Dia bilang tak punya negatif itu dan sudah diserahkan kepada Barisan Pelopor, sebuah gerakan perjuangan. Mendengar jawaban itu, Jepang pun marah besar. Padahal negatif film itu ditanam di bawah sebuah pohon di halaman Kantor harian Asia Raja. Setelah Jepang pergi, negatif itu diafdruk dan dipublikasi secara luas hingga bisa dinikmati sampai sekarang. Bagaimana kalau Mendoer bersikap jujur pada Jepang? Kali ini, Bung Hatta yang berbohong demi proklamasi. Waktu masa revolusi, Bung Karno memerintahkan Bung Hatta untuk meminta bantuan senjata kepada Jawaharlal Nehru. Cara untuk pergi ke India pun dilakukan secara rahasia. Bung Hatta memakai paspor dengan nama “Abdullah, co-pilot”. Lalu beliau berangkat dengan pesawat yang dikemudikan Biju Patnaik, seorang industrialis yang kemudian menjadi menteri pada kabinet PM Morarji Desai. Bung Hatta diperlakukan sangat hormat oleh Nehru dan diajak bertemu Mahatma Gandhi. Nehru adalah kawan lama Hatta sejak 1920-an dan Gandhi mengetahui perjuangan Hatta. Setelah pertemuan, Gandhi diberi tahu oleh Nehru bahwa “Abdullah” itu adalah Mohammad Hatta. Apa reaksi Gandhi? Dia marah besar kepada Nehru, karena tidak diberi tahu yang sebenarnya. “You are a liar ! ” ujar tokoh kharismatik itu kepada Nehru * Bila 17 Agustus menjadi tanggal kelahiran Indonesia, justru tanggal tersebut menjadi tanggal kematian bagi pencetus pilar Indonesia. Pada tanggal itu, pencipta lagu kebangsaan “Indonesia Raya”, WR Soepratman (wafat 1937) dan pencetus ilmu bahasa Indonesia, Herman Neubronner van der Tuuk (wafat 1894) meninggal dunia.* Bendera Merah Putih dan perayaan tujuh belasan bukanlah monopoli Indonesia. Corak benderanya sama dengan corak bendera Kerajaan Monaco dan hari kemerdekaannya sama dengan hari proklamasi Republik Gabon (sebuah negara di Afrika Barat) yang merdeka 17 Agustus 1960. Jakarta, tempat diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia dan kota tempat Bung Karno dan Bung Hatta berjuang, tidak memberi imbalan yang cukup untuk mengenang co-proklamator Indonesia. Sampai detik ini, tidak ada “Jalan Soekarno-Hatta” di ibu kota Jakarta. Bahkan, nama mereka tidak pernah diabadikan untuk sebuah objek bangunan fasilitas umum apa pun sampai 1985, ketika sebuah bandara diresmikan dengan memakai nama mereka. Gelar Proklamator untuk Bung Karno dan Bung Hatta, hanyalah gelar lisan yang diberikan rakyat Indonesia kepadanya selama 41 tahun! Sebab, baru 1986 Permerintah memberikan gelar proklamator secara resmi kepada mereka. Kalau saja usul Bung Hatta diterima, tentu Indonesia punya “lebih dari dua” proklamator. Saat setelah konsep naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia rampung disusun di rumah Laksamana Maeda, Jl. Imam Bonjol no 1, Jakarta, Bung Hatta mengusulkan semua yang hadir saat rapat din hari itu ikut menandatangani teks proklamasi yang akan dibacakan pagi harinya. Tetapi usul ditolak oleh Soekarni, seorang pemuda yang hadir. Rapat itu dihadiri Soekarno, Hatta dan calon proklamator yang gagal: Achmad Soebardjo, Soekarni dan Sajuti Melik. “Huh, diberi kesempatan membuat sejarah tidak mau”, gerutu Bung Hatta karena usulnya ditolak. Perjuangan frontal melawan Belanda, ternyata tidak hanya menelan korban rakyat biasa, tetapi juga seorang menteri kabinet RI. Soepeno, Menteri Pembangunan dan Pemuda dalam Kabinet Hatta, merupakan satu-satunya menteri yang tewas ditembak Belanda. Sebuah ujung revolver, dimasukkan ke dalam mulutnya dan diledakkan secara keji oleh seorang tentara Belanda. Pelipis kirinya tembus kena peluru. Kejadian tersebut terjadi pada 24 Februari 1949 pagi di sebuah tempat di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Saat itu, Soepeno dan ajudannya sedang mandi sebuah pancuran air terjun. Belum ada negara di dunia yang memiliki ibu kota sampai tiga dalam kurun waktu relatif singkat. Antara 1945 dan 1948, Indonesia memiliki 3 ibu kota, yakni Jakarta (1945-1946), Yogyakarta (1946-1948) dan Bukittinggi (1948-1949). Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia Jenderal Soedirman, pada kenyatannya tidak pernah menduduki jabatan resmi di kabinet RI. Beliau tidak pernah menjadi KSAD, Pangab, bahkan menteri pertahanan sekalipun! Wayang ternyata memiliki simbol pembawa sial bagi rezim yang memerintah Indonesia. Betapa tidak, pada 1938-1939, Pemerintah Hindia Belanda melalui De Javasche Bank menerbitkan uang kertas seri wayang orang dan pada 1942, Hindia Belanda runtuh dikalahkan Jepang. Pada 1943, Pemerintah Pendudukan Jepang menerbitkan uang kertas seri wayang Arjuna dan Gatotkoco dan 1945, Jepang terusir dari Indonesia oleh pihak Sekutu. Pada 1964, Presiden Soekarno mengeluarkan uang kertas baru seri wayang dengan pecahan Rp1 dan Rp2, 5 dan 1965 menjadi awal keruntuhan pemerintahannya menyusul peristiwa G30S/PKI. Perintah pertama Presiden Soekarno saat dipilih sebagai presiden pertama RI, bukanlah membentuk sebuah kabinet atau menandatangani sebuah dekret, melainkan memanggil tukang sate! Itu dilakukannya dalam perjalanan pulang, setelah terpilih secara aklamasi sebagai presiden. Kebetulan di jalan bertemu seorang tukang sate bertelanjang dada dan nyeker (tidak memakai alas kaki). “Sate ayam lima puluh tusuk!”, perintah Presiden Soekarno. Disantapnya sate dengan lahap dekat sebuah selokan yang kotor. Dan itulah, perintah pertama pada rakyatnya sekaligus pesta pertama atas pengangkatannya sebagai pemimpin dari 70 juta jiwa lebih rakyat dari sebuah negara besar yang baru berusia satu hari. Kita sudah mengetahui, hubungan antara Bung Karno dan Belanda tidaklah mesra. Tetapi Belanda pernah memberikan kenangan yang tak akan pernah dilupakan oleh Bung Karno. Enam hari menjelang Natal 1948, Belanda memberikan hadiah Natal di Minggu pagi, saat orang ingin pergi ke gereja, berupa bom yang menghancurkan atap dapurnya. Hari itu, 19 Desember 1948, ibu kota Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda. Sutan Sjahrir, mantan Perdana Menteri RI pertama, menjadi orang Indonesia yang memiliki prestasi “luar biasa” dan tidak akan pernah ada yang menandinginya. Waktu beliau wafat 1966 di Zurich, Swiss, statusnya sebagai tahanan politik. Tetapi waktu dimakamkan di Jakarta beberapa hari kemudian, statusnya berubah sebagai Pahlawan Nasional Indonesia. ******************************************************************************* Diambil dari: Arsip mailing list Friendship none. Catatan ini ditulis Selasa, 12 Agustus 2003 pada pukul 6:35 dalam kategori nusantara. Anda dapat mengikuti respon semua catatan melalui RSS 2.0 feed. Anda dapat menulis komentar atau menulis trackback di situs anda sendiri. ******************************************************************************************************* Catatan Yang Mungkin Terkait Kesederhanaan Sang Proklamator | Dari Rengasdengklok ke Pegangsaan Timur | 74 Tahun | Nyanyian Tentang Indonesia | Gajah Mail | Pancasila | Dirgahayu Indonesia | Teknologia | Gajah Mada: Perang Bubat | Jepretan Seputar Ledakan | Rusaknya Moral, Awal Hancurnya Suatu Kaum | Ensiklopedi Kucing | Blog dan Budaya Baca | Pembunuhan John F. Kennedy | Bandung Lautan Api | http://yulian.firdaus.or.id/2003/08/12/fakta-seputar-proklamasi/ ******************************************************************************************************* BACA JUGA: (lebih MENARIK dan MENYEGARKAN kita) 115 komentar untuk catatan 'Iwan Satyanegara: Fakta seputar proklamasi' ******************************************************************************************************* |
|
|