“… PERJUANGAN MELAWAN KEKUASAAN adalah PERJUANGAN INGATAN MELAWAN LUPA ..."

dhia_prekasha's posts with tag: nasionalisme

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag nasionalisme

100 Tahun Kebangkitan Nasional

Kebangsaan: Imajinasi Masa Lalu

 

Oleh : BRE REDANA

 

Kompas/Home/ Senin, 19 Mei 2008 | 03:00 WIB

 

Apakah sebuah gagasan - katakanlah gagasan mengenai nasionalisme - bisa berfungsi seperti sebuah ayat, yang dengan itu lalu terjadi semacam proses nubuatan, sebuah bangsa kemudian bangkit, mengepalkan tangan, satu padu bulat tekad menuju merdeka? Banyak hal membuktikan, kesadaran bangkit disebabkan hal-hal kecil, dari perubahan-perubahan yang sering tak teramati karena sifat kesehariannya, yang betapapun di baliknya sebenarnya tersimpan gerak modernisasi.

 

Pada mulanya, pembangunan Grote Postweg—sebuah jalan raya yang menyisir Pulau Jawa di bagian utara, dari Anyer sampai Panarukan, oleh Herman Willem Daendels, ketika yang bersangkutan menjadi Gubernur Jenderal Hindia-Belanda tahun 1808-1811.

Pembangunan jalan itu adalah untuk menahan kemungkinan invasi Inggris dari laut (utara). Dengan pembangunan jalur itu—yang dirancang sebagai jalur militer—bisa disusun strategi untuk memobilisasi manusia, dari satu wilayah permukiman ke permukiman lain.

 

Lalu, semua berlangsung tak terduga. Bukan saja tumbuhnya jalan berarti juga tumbuhnya jalur perdagangan, tetapi peta kekuasaan bahkan sakralitas kekuasaan diacak-acaknya.

 

Dalam konsep kekuasaan sebelumnya, infrastruktur semacam alun-alun yang dikelilingi oleh keraton, masjid, adalah simbol sebuah domain politik. Hanya saja, apa peduli ”Tuan Guntur” (begitu Daendels dijuluki karena ketegasannya dan barangkali perintahnya yang keras meledak seperti guntur di langit)?

 

Alun-alun, seperti di Pati dan Demak, dia terjang dengan proyek jalan rayanya. Dalam catatan Peter JM Nas dan Pratiwo (Java and De Groote Postweg, La Grande Route, The High Military Road, Leiden/Jakarta, 2001), di alun-alun yang terbelah itu lalu muncul kegiatan perdagangan, katakanlah lahirnya domain ekonomi baru, merongrong domain politik lama keraton.

 

Kalau menurut budayawan Sardono W Kusumo, pembangunan jalan raya oleh Daendels juga mengalienasi keraton-keraton di Jawa, yang kemudian memilih jalur ke selatan saja, berhubungan dengan Laut Selatan, dengan Ratu Kidul.

 

Mithosisasi Nyi Roro Kidul modus masturbasi 

ideologi sekaligus sarana tabir pengaburan kekalahan politik para raja Mataram menghindari sikap kritis rakyat 

 

Bisa ditebak, apa implikasinya, kalau di belahan utara dunia bergerak dalam kegairahan perdagangan, sementara di jalur selatan raja asyik-masyuk bermasturbasi dengan Ratu Kidul, maka kekuasaan lama harus segera tutup buku. Tancep kayon.

 

Pada periode sejak awal 1800-an itulah disebabkan berbagai sebab benih-benih antikolonialisme menemukan bentuknya dalam perlawanan yang baru—bukan sekadar kisruh berebut kekuasaan seperti di zaman-zaman keraton lama sebelumnya. Menurut Denys Lombard (Nusa Jawa: Silang Budaya, Warisan Kerajaan-kerajaan Konsentris, Gramedia Pustaka Utama, 1996), perang yang dilancarkan oleh Pangeran Diponegoro, yang sering juga disebut sebagai ”Perang Jawa” dari 1825-1830, adalah ”batas historis antara periode ’konflik-konflik feodal’ dan ’periode modern’”. Lombard mengaksaentuasi pendapat Peter Carey, bagaimana perang tadi meletus bukan pada waktu krisis, tetapi justru pada waktu pembangunan ekonomi berjalan pesat.

 

”Yang terjadi bukanlah pemberontakan petani yang tercetus karena kelaparan dan kesengsaraan, tetapi pemberontakan terencana, yang dikobarkan oleh beberapa orang bangsawan dan secara sadar didukung oleh sebagian elite pedesaan,” demikian Lombard menulis.

Ihwal mengenai Diponegoro ini juga menarik perhatian pelukis tersohor, Raden Saleh Sjarif Boestaman (1807-1880), yang banyak bergaul dengan elite bangsawan maupun para intelektual Eropa. Politik representasi sudah beroperasi pada zaman itu. Pelukis Belanda, JW Pieneman, melukis peristiwa penangkapan Diponegoro, dengan menggambarkan sang pangeran berdiri dengan dua tangan terbentang seolah kehilangan akal, sementara di belakangnya, Jenderal de Kock berkacak pinggang menunjuk kereta tahanan, seolah memerintahkan penahanan Diponegoro.

 

Penangkapan Diponegoro (1857) karya reinterpetatif Raden Saleh 

 

Statemen berbeda diberikan oleh Raden Saleh. Dalam lukisan karyanya berjudul ”Penangkapan Diponegoro”, Sang Pangeran berdiri tegak dengan kerut wajah tegas berwibawa, tangannya memegang tasbih dengan kencang. Jenderal de Kock dilukiskan tetap menaruh hormat, selain penggambaran kepalanya yang gede (seluruh orang Belanda dalam lukisan itu kepalanya terlihat besar melebihi proporsi. Mungkin ini semacam ”penghinaan”, menggambarkan Belanda seperti para buto seberang dalam pewayangan).

 

Politik representasi ini bukankah merupakan gejala amat modern? Sebagaimana pelukis-pelukis dan seniman-seniman pada zaman berikutnya menyampaikan pesan politisnya di balik karya?

 

Para peserta Kongres Pemoeda II di jalan Kramat Raya, Meski pakaian mereka telah berupa pantalon, jas, dan dasi gaya Eropa, tapi ada juga yang ber-peci kopiah dan atau malah menggunkan blangkon. 

 

Awal tahun 1900-an, Hindia Belanda menyaksikan perubahan tata cara berpakaian sejumlah kalangan pribumi. Yang disebut ”new breed” atau bibit-bibit baru dari Indonesia modern nantinya mulai mengenakan pantalon dan juga topi seperti kalangan Belanda. Nantinya, peci menjadi semacam simbol identitas kebangsaan. Melalui mode, sebuah bangsa mulai mendefinisikan dirinya sendiri—bukan didefinisikan pihak lain. Seperti kata Baudelaire, modernitas jangan-jangan berasal dari mode.

Nasionalisme, diteorikan Ernest Gellner seperti dikutip oleh Benedict Anderson dalam bukunya yang terkenal, Imagined Communities (Verso, London-New York, 1983), bukanlah hal kebangkitan bangsa-bangsa pada suatu kesadaran diri, (tapi) ia menemukan (invent) bangsa-bangsa yang sebenarnya tidak eksis.

Atau selanjutnya dalam tesis Anderson, sebuah bangsa, sebuah komunitas, sekecil apa pun, sebenarnya adalah soal ”terbayangkan” (imagined) karena toh pada dasarnya kita tidak pernah kenal, bertemu, atau tahu-menahu sebagian besar anggota komunitas itu, terlebih kalau diluaskan sebagai bangsa.

Jadi, memang harus ada proses imajiner yang mampu membentuk affinity sekaligus perasaan percaya—trust dalam istilah Fukuyama—bahwa kita terikat menyongsong masa depan bersama. Nyatanya, proses itu sekarang disabot para penguasa, dirongrong dari para pengutil sampai para tikus garong yang meng-korup kekayaan bangsa secara besar-besaran. Sebagian besar dari kami telah kalian miskinkan.

Grote Postweg sudah terkubur sejarahnya (dari sepanjang jalur ini di seluruh Jawa, adakah sepenggal saja yang dinamai Jalan Raya Daendels?). Bersama terkuburnya sejarah, tinggallah kebangsaan—sebagai suatu konsep imajiner—juga menjadi imajinasi: imajinasi masa lalu.

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/05/19/01094657/kebangsaan.imajinasi.masa.lalu


       Relevansi

Pemikiran Religius Bung Karno

Untuk Membantu Kita Berimajinasi

oleh
Th Sumartana

http://www.geocities.com/year100bungkarno/halamanresensithsumartana.htm

 

BUNG Karno kira-kira berkata begini, "Tubuh bisa ditiadakan, tetapi roh tidak". Bung Karno telah tiada, tapi rohnya, bahasa dan spiritnya masih hidup, tidak bisa ditiadakan, bahkan tidak bisa dibiarkan berlalu tanpa tarikan empati, lebih-lebih masa sekarang.

Di tengah krisis serba muka seperti yang terjadi beberapa tahun terakhir ini, roh Soekarno hidup kembali, seolah-olah berkata: "Katakanlah sekarang tentang apa yang telah saya katakan waktu dahulu".

Yang kita butuhkan sekarang adalah "kata" atau wacana, yang membawa proses penyadaran, pencerahan, dan membuat kita berpikir, berimajinasi.
 
Kiranya tak berlebihan apabila saya sebutkan bahwa Bambang Noorsena dengan tulisannya tentang Religi & Religiusitas Bung Karno (Institute for Syriac Christian Studies, Malang, Jawa Timur, 2000) telah menunjukkan kepekaannya untuk merespons ajakan untuk berkata-kata tentang roh yang hidup itu.

Bambang Noorsena (BN) sebagai anak bangsa yang sadar tentang hari kemarin, tampak sadar pula bahwa sebuah keharusan sejarah, apabila ia mau berpikir tentang masa depan, dan harus mau bicara dengan "orang tua" yang telah turut melahirkan bangsanya. Bicara tentang atau dengan Bung Karno sebagai roh yang hidup, tak bisa tidak, kita akan bertemu dengan ratusan riwayat yang telah ditulis, baik oleh orang asing maupun oleh penulis dalam negeri.

***

 

Percakapan BN dengan Bung Karno dalam buku ini banyak didasarkan atas kajian yang dilakukan oleh para pengamat luar negeri, yang tak bisa disangkal banyak kali lebih jeli ketimbang penulis dalam negeri. Tetapi, dengan buku ini BN menunjukkan dengan terang bahwa sekalipun ia banyak memakai kajian-kajian dari para ahli di luar negeri, namun ia tetap ingin menemui Soekarno "dari dalam", Khususnya dari kepentingan yang didorong oleh kebutuhan masyarakat untuk mencari perspektif demi melihat hubungan antar-etnis dan antar-agama secara baru di negeri ini.

Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam pidato pelantikannya pada 20 Oktober 1999, sebagaimana dikutip oleh BN, berkata,

"Kita tengah didera oleh perbedaan faham yang sangat besar. Dan longgarnya ikatan-ikatan kita sebagai bangsa. Apa yang oleh Bung Karno diajarkan, ... kita mempunyai alasan untuk menjadi satu bangsa...".

Dalam kutipan ini kita memperoleh titik tolak yang sungguh kena untuk berbicara tentang pikiran-pikiran utama Bung Karno tentang religi dan religiusitas. Adapun alasan utama yang tampak menggejala di masyarakat adalah bahwa perbedaan faham yang besar itu juga terdapat dalam kehidupan beragama. Kenyataan ini pula turut menyebabkan longgarnya ikatan kita sebagai bangsa.

Apa yang dilakukan oleh BN bukan sekadar mengedepankan apa yang dikatakan oleh Bung Karno. Tetapi, berusaha memakai umpan baru untuk memancing pemikiran Bung Karno tentang berbagai hal yang merisaukan dalam konteks kehidupan masyarakat sekarang.

BN melakukan "penggeseran-penggeseran" tertentu atas gagasan-gagasan Bung Karno, dan menamainya dengan term baru yang lebih kontemporer. Posisi spiritual Bung Karno dilapisi dengan kata-kata baru agar lebih tinggi supaya tampak oleh banyak orang.

Ungkapan-ungkapan seperti passing over, etika global, holistic spirituality, panentheisme, sakramentalis, teologi kerukunan, dialog, dan lain-lain merupakan upaya untuk memperoleh roh yang hidup dari Bung Karno.

Pemahaman yang dilakukan oleh BN memang dimungkinkan oleh posisi Bung Karno sendiri yang terbuka, dan seolah-olah berstatus selaku bahan yang belum "jadi", serta tersedia bagi para pemikir kreatif generasi sesudahnya. Gagasan Bung Karno laksana bahan bangunan yang tersedia bagi para arsitek untuk membentuknya menjadi bangunan yang diingininya. Baik fungsinya maupun keindahannya.

***

Pada tataran pemikiran keagamaan yang begitu luas, kaya dan bermacam ragam, pilihan-pilihan untuk memahami religi dan religiusitas Bung Karno terbentang lebar. Lebih-lebih lagi bila pikiran-pikiran Bung Karno didekati dari sisi spiritualitas. Akan segera tampak bahwa kehidupan spiritual Bung Karno dari sejak masih muda tidak hanya diilhami oleh agama-agama semitik yang dikenal sebagai Abrahamic faiths yang berciri monoteis, misioner, doktriner, reaksional, dan bercorak politis.

Ternyata, religiusitas Soekarno juga dibentuk oleh pertemuannya dengan "agama-agama Timur" yang memiliki karakteristik yang berbeda dengan agama-agama turunan Ibrahim atau Abraham, khususnya yang telah diperkembangkan di dunia Barat.

Latar belakang Kejawen, Hindu dan Buddhisme amat kuat mendasari spiritualitas Soekarno. Sehingga, ia jauh dari sifat "ortodoks-dogmatis" dalam pemikiran keagamaannya, dan tidak bercorak formal santri dalam keislamannya. Soekarno menyenangi bentuk sufisme yang bebas, agama yang diperlukan sebagai "bahasa kasih sayang", bahkan agama yang penuh pasi (passion) Sekalipun kita tahu bahwa kontroversi tentang hal itu juga masih terbuka untuk dijadikan diskursus yang kritis.

Setidak-tidaknya posisi keagamaan Soekarno berbeda misalnya dengan Haji Agus Salim, A Hassan, dan Mohammad Natsir, yang dikenal sebagai pemikir-pemikir Islam yang bercorak ortodoks (rasional dan bercorak doktriner).

Bernard Dahm dalam ke-"jerman"-annya bertindak terhadap Bung Karno seperti Karl May terhadap Winnetou. Menjadi jiwa yang menarik dan amat imajinatif; bukan hanya karena Dahm selama menulis tentang Soekarno belum pernah ke Indonesia, boro-boro ketemu dengan Bung Karno.

Di bayangan Dahm, Bung Karno total menjadi seorang tokoh dalam sebuah epos. Dari awal, yang bersandar ada "local genius" yang amat diapresiasikan oleh Dahm, sampai kepada keyakinan Bung Karno yang tidak ada duanya, dan amat kategoris terhadap "nasionalisme, agama,   dan marxisme". Seolah-olah ketiganya merupakan doktrin trinitas dalam agama Kristen yang tak bakal ditinggalkan sampai kapan pun dunia akan berakhir.

Bung Karno tidak mau menyerahkan apa yang sudah dimilikinya, bahwa ketiga hal tersebut merupakan kenyataan substansial dan sekaligus pilar bagi eksistensi Indonesia. Menurut Dahm, Bung Karno tak mau mundur selangkah untuk mempertahankan keyakinan tentang "ketiga yang esa" tersebut. Seolah-olah Bung Karno rela mati demi "iman" yang telah ditemukannya, Yaitu keyakinannya kepada "nasionalisme", sosialisme, dan agama".

Ideologinya, bersama dengan Pancasila baginya merupakan sesuatu yang "ultimate" untuk Indonesia - yang bersama Hatta -  ia proklamasikan. Bagaimanapun dalam kaitan ini, keadilan bagi Soekarno harus ditegakkan kembali sebagai bapak bangsa yang punya pendirian teguh dan memiliki keyakinan.

Di tengah padang spiritualitas yang mahaluas, dengan fungsinya yang khusus untuk mendukung perjuangan kemerdekaan lewat nasionalisme, Soekarno bertahan dan tidak mau bergeser sedikit pun dari tempatnya. Bung Karno menempatkan agama selaku kekuatan "revolusioner" untuk mendukung nasionalisme Indonesia.

Imajinasi Bung Karno tentang nasionalisme dan faham kebangsaan bukan sekadar olah intuisi dan imajinasi tanpa pijakan realitas.

Peristiwa proklamasi 17 Agustus 1945 merupakan titik pusat dari keberhasilan menggalang nasionalisme sejak  ia masih menjadi mahasiswa. Nasionalisme untuk melawan penjajahan, yang berupaya menemukan jati diri, "self-esteem", dan kepribadian nasional.

 

***

 

Di masa Perang Dingin, ketika blok Barat berhadapan frontal dengan blok Timur, agaknya tantangan yang dihadapi Soekarno melebihi takaran yang bisa ia tanggung. Muatan konflik yang tak terdamaikan antara kubu kapitalisme dan sosialisme di tingkat internasional agaknya terlalu besar untuk dituang dalam mangkuk konteks kehidupan politik Soekarno, yang hanya sebatas nasionalisme Indonesia. Alhasil, muatan itu meluap tumpah ruah, serta menimbulkan gejolak di dalam negeri yang tak  terbendung, serta menimbulkan korban besar di sekitar tahun 1965.

Akan tetapi, di masa pasca-Perang Dingin sekarang ini telah tiba momentum untuk memikirkan kembali relevansi pemikiran-pemikiran penting Soekarno, khususnya dalam soal hubungan agama. Sekarang terbuka kemungkinan untuk mengurai pemikiran dari "local genius" pemikir politik Indonesia tanpa rasa minder. Kita tidak lagi menanggung beban psikologis, baik yang menggejala dalam bentuk xenophobia maupun dalam bentuk sikap ketergantungan kepada bangsa lain tanpa harga diri. Saatnya telah tiba untuk menggali kembali pikiran pikiran dari para bapak dan ibu bangsa.

Yang terasa menyegarkan dari tulisan Bambang Noorsena adalah karena ia tidak hanya berhenti pada polemik tentang karya besar Clifford Geertz dari bukunya The Religion of Java, tetapi juga melanjutkan runutannya jauh ke belakang, dan sampai kepada karya Empu Tantular Sutasoma. Karya ini merupakan sebuah tradisi pemikiran yang menjadi cikal-bakal dari khazanah kebudayaan Jawa yang melahirkan Soekarno.

Dari sanalah  lahir pemikiran tentang hubungan antara negara dan agama, dan sekaligus hubungan antar-agama di masyarakat. Tantularisme, di masa yang penuh krisis dan gejolak sekarang ini memberikan inspirasi yang luar biasa kuat untuk membingkai kembali keterpecahbelahan bangsa menjadi sebuah kesatuan yang utuh.

Adapun konsep Soekarno tentang "panteisme-monoteisme" oleh BN digeser menjadi "panentheisme". Satu merupakan ekspresi dari yang lain, dan manusia tak mungkin mengenal Tuhan tanpa alam semesta, termasuk di dalamnya dunia manusia. Ungkapan lain yang barangkali akan lebih bisa diterima oleh tradisi pemikiran agama di Indonesia, adalah "panin-teisme".

Di dalam istilah "panin-teisme" ini, alam semesta dimasukkan ke dalam sebuah kepercayaan theisme. Dengan kata lain, alam semesta itu berada dalam naungan Tuhan, implikasinya adalah bahwa Tuhan adalah yang pertama dan utama, lebih besar dari alam semesta; Dan, oleh sebab itu meliputi dan menguasai alam semesta.

Sehingga secara eksplisit, bisa dikatakan bahwa alam semesta adalah ciptaan Tuhan. Tetapi Tuhan, - dalam bentuk tertentu yang bisa dikenal manusia - berada di dalamnya..Alam semesta adalah "teks" yang melukiskan kebesaran Tuhan. Kehadiran-Nya di dalam alam semesta adalah tetap kehadiran yang harus dimaknai sebagai kehadiran sebagai pencipta.

Konsep itu merupakan suatu wadah bagi kesadaran dan tanggung jawab akan alam, lingkungan, dan sesama manusia. Dan sekaligus sebagai dasar bagi kesadaran akan pluralisme agama, dialog, dan kerja sama antarpara pemeluk agama.

***

Para pengamat dan para ahli dengan penuh empati memberikan persetujuan terhadap berbagai gagasan Soekarno. Tetapi baru sedikit yang benar-benar memberikan kajian yang cukup mendalam terhadap berbagai  implikasi pemikiran Soekarno tentang religi yang ditawarkannya. Pada masa sekarang ini ketika religi dan seluruh bangsa dan negara Indonesia berada dalam krisis multidimensional, muncul sebuah kebutuhan baru untuk menggali kembali pikiran-pikiran para founding  fathers untuk memperdalam dan memperluas persepsi tentang  persoalan-persoalan yang dihadapi oleh bangsa dan negara.

Upaya-upaya  serius digelar untuk memulai wacana baru dengan pijakan pemikiran yang telah ada dalam khazanah sejarah Indonesia.

***


Bambang Noorsena telah berusaha memulai tugas penggalian terhadap salah satu founding fathers yang terpenting yaitu Soekarno. Dengan suatu pendekatan "dari dalam", dalam arti dengan penuh empati menelaah pemikiran Soekarno dan sekaligus berusaha untuk memanfaatkannya sebagai cermin untuk memahami dan mencari jalan keluar terhadap kemelut hubungan antar-etnis dan khususnya antar-agama di negeri ini, beberapa tahun terakhir ini.

Menurut saya, Bambang Noorsena berhasil memetik beberapa puncak pemikiran Soekarno tentang religi dan religiusitas guna menjembatani konflik yang sekarang ini sedang terjadi. Dengan melacak jauh ke belakang kepada pemikiran-pemikiran Empu Tantular, "Bhinneka Tunggal  Ika, Tan Hana Dharma Mangrowa", ( - berbeda beda namun tetap satu jua, Tidak ada pengabdian yang mendua - ) kita telah menemukan kearifan baru dari masa lampau yang lahir dari pengalaman dan refleksi lokal.

Tatapan terhadap "Tantularisme" tersebut telah memberikan suatu basis “universal" bagi agama-agama, khususnya agama-agama dalam tradisi Abrahamik (Yahudi, Kristen, dan Islam) untuk bercermin dalam suasana kehidupan yang penuh respek, toleransi, dialog, dan kerja sama demi mewujudkan masyarakat yang diingini bersama.

Dengan konsep "panteisme-monoteisme" yang dirumuskan oleh Soekarno sendiri, agama-agama dibuka untuk menghargai alam, baik alam maupun kehidupan manusia.

Keunggulan spiritualitas Bung Karno saya kira terletak pada kenyataan bahwa ia menyadari keterbatasan dari bentuk-bentuk ekspresi keagamaan yang menggejala (manifest) di masyarakat. Kelonggaran ini memberi peluang bagi para penganut agama yang berbeda untuk saling menghargai keunikan masing-masing keyakinan. Serta membuka kemungkinan untuk  saling memperkaya satu dengan yang lain. Dan terutama untuk saling  membuka kemungkinan untuk bekerja sama di masyarakat guna memecahkan  soal-soal kemanusiaan bersama.

Dalam buku BN, Soekarno muncul kembali sebagai "batu penjuru" yang bias   mengukur lurusnya bangunan sebuah bangsa..***


*Th Sumartana,
Direktur Institut Dian/Interfidei, Yogyakarta.

                 (Kompas, Senin, 14 Mei 2001)


PIDATO BUNG KARNO LAHIRNYA PANCASILA 1 JULI 1945

 

 GMNI CABANG KOTA PADANG

kami tidak berjuang sendiri dan tidak ingin berjuang sendiri

http://gmniandalas.blogspot.com/2007/03/pidato-lahirnya-pancasila-1-juli-1945.html

Monday, March 26, 2007

PIDATO LAHIRNYA PANCASILA 1 JULI 1945

 

KATA PENGANTAR

Dr. Radjiman Wedyodiningrat

 

Dengan perasaan gembira saya terima permintaan penerbit buku ini untuk memberikan sepatah dua patah kata pengantar, serta dengan segala senang hati saya penuhi permintaan tersebut.

 

Sebagai "Kaitjoo" (ketua) dari "Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai" (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan) saya mengikuti dan mendengar sendiri diucapkannya pidato ini oleh Bung Karno, sekarang Presiden Negara kita.

 

Oleh karena itu sungguh menggembirakan sekali maksud penerbit untuk mencetak pidato Bung Karno ini, yang berisi "Lahirnya Pancasila" dalam sebuah buku kecil.


Badan "Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai" itu telah mengadakan sidangnya yang pertama dari tanggal 29 Mei tahun 1945 sampai dengan tanggal 1 Juni 1945 dan

yang kedua dari tanggal 10 Juli 1945 sampai dengan tanggal 17 Juli 1945.

 

"Lahirnya Pancasila" ini adalah buah "stenografisch verslag" dari pidato Bung Karno yang diucapkan dengan tidak tertulis dahulu (voor de vuist) dalam sidang yang pertama tanggal 1 Juni 1945 ketika sidang membicarakan "Dasar (Beginsel) Negara Kita" sebagai penjelmaan daripada angan-angannya. Sudah barang tentu kalimat-kalimat pidato yang tidak tertulis dahulu, kurang sempurna tersusunnya. Tetapi yang penting ialah ISINYA!

 

Bila kita pelajari dan selidiki sungguh-sungguh "Lahirnya Pancasila" ini, akan ternyata bahwa ini adalah suatu Demokratisch Beginsel, suatu Beginsel yang menjadi dasar Negara kita, yang menjadi Rechtsideologie Negara kita; suatu Beginsel yang telah meresap  dan berurat-berakar dalam jiwa Bung Karno, dan yang telah keluar dari jiwanya secara spontan, meskipun sidang ada di bawah penilikan yang keras dari Pemerintah Balatentara Jepang. Memang jiwa yang berhasrat merdeka, tak mungkin dikekang-kekang!

 

Selama Fascisme Jepang berkuasa dinegeri kita, Demokratisch Idee tersebut tak pernah dilepaskan oleh Bung Karno, selalu dipegangnya teguh-teguh dan senantiasa dicarikannya jalan untuk mewujudkannya.

 

Mudah-mudahan "Lahirnya Pancasila" ini dapat dijadikan pedoman oleh nusa dan bangsa kita seluruhnya dalam usaha memperjuangkan dan penyempurnaan

Kemerdekaan Negara.


Walikukun, tertanggal 1 Juli 1947.

 

dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat

 

 

 

PIDATO BUNG KARNO


Paduka Tuan Ketua yang mulia!

 

Sesudah tiga hari berturut-turut anggota-anggota Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai mengeluarkan pendapat-pendapatnya, maka sekarang saya mendapat kehormatan dari Paduka Tuan Ketua yang mulia untuk mengemukakan pula pendapat saya.

 

Saya akan menepati permintaan Paduka Tuan Ketua yang mulia.

 

Apakah permintaan Paduka Tuan Ketua yang mulia? Paduka tuan Ketua yang mulia minta kepada sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai untuk mengemukakan dasar Indonesia Merdeka. Dasar inilah nanti akan saya kemukakan di dalam pidato saya ini.

 

Maaf, beribu maaf!

 

Banyak anggota telah berpidato, dan dalam pidato mereka itu diutarakan hal-hal yang sebenamya bukan permintaan Paduka Tuan Ketua yang mulia, yaitu bukan dasarnya Indonesia Merdeka.

 

Menurut anggapan saya, yang diminta oleh paduka Tuan Ketua yang mulia ialah, dalam bahasa Belanda: "Philoso- fische grondslag" dari pada Indonesia Merdeka.

 

Philosofische grondslag itulah pondamen, filsafat, pikiran yang sedalam-dalamnya, jiwa, hasrat yang sedalam-dalamnya untuk diatasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi.

 

Hal ini nanti akan saya kemukakan, Paduka Tuan Ketua yang mulia, tetapi lebih dahulu izinkanlah saya membicarakan, memberi tahukan kepada Tuan-tuan sekalian, apakah yang saya artikan dengan perkataan "merdeka".


Merdeka buat saya ialah: "political independence", politieke onafhankelijkheid. Apakah yang dinamakan politieke onafhankelijkheid?

 

Tuan-tuan sekalian! Dengan terus terang saja saya berkata: Tatkala Dokuritsu   Zyunbi Tyoosakai akan bersidang, maka saya, didalam hati saya banyak khawatir, kalau-kalau banyak anggota yang saya katakan di dalam bahasa asing, maafkan perkataan ini "zwaarwichtig" akan perkara yang kecil-kecil. "Zwaarwichtig" sampai kata orang Jawa "njlimet".

 

Jikalau sudah membicarakan hal yang kecil-kecil sampai njlimet, barulah mereka berani meyatakan kemerdekaan.


Tuan-tuan yang terhormat!

 

Lihatlah di dalam sejarah dunia, lihatlah kepada perjalanan dunia itu. Banyak sekali negara-negara yang merdeka, tetapi bandingkanlah kemerdekaan negara-negara itu sama lain!

 

Samakah isinya, samakah derajatnya negara-negara yang merdeka itu?

Jermania merdeka,

Saudi Arabia merdeka,

Iran merdeka,

Tiongkok merdeka,

Nippon merdeka,

Amerika merdeka,

Inggris merdeka,

Rusia merdeka,

Mesir merdeka.

 

Namanya semuanya merdeka; tetapi bandingkanlah isinya!

 

Alangkah berbedanya isi itu!

 

Jikalau kita berkata: Sebelum Negara merdeka, maka harus lebih dahulu ini selesai itu selesai, itu selesai, sampai njlimet, maka saya bertanya kepada Tuan-tuan sekalian kenapa Saudi Arabia merdeka, padahal 80% dari rakyatnya terdiri dari kaum Badui, yang sama sekali tidak mengerti hal ini atau itu.


Bacalah buku Armstrong yang menceriterakan tentang Ibn Saud! Di situ ternyata, bahwa tatkala Ibn Saud mendirikan pemerintahan Saudi Arabia, rakyat Arabia sebagian besar belum mengetahui bahwa otomobil perlu minum bensin.

 

Pada suatu hari otomobil Ibn Saud dikasih makan gandum oleh orang-orang    

Badui di Saudi Arabia itu!

Tokh Saudi Arabia merdeka!.


Lihatlah pula jikalau tuan-tuan kehendaki contoh yang lebih hebat Sovyet Rusia! Pada masa Lenin mendirikan Negara Sovyet adakah rakyat Sovyet sudah cerdas?

 

Seratus lima puluh milyun rakyat Rusia, adalah rakyat musyik yang lebih daripada 80% tidak dapat membaca dan menulis; bahkan dari buku-buku yang terkenal dari Leo Tolstoy dan Fulop Miller, tuan-tuan mengetahui betapa keadaan rakyat Sovyet Rusia pada waktu Lenin mendirikan negara Sovyet itu.

 

Dan kita sekarang di sini mau mendirikan negara Indonesia Merdeka. Terlalu banyak macam-macam soal kita kemukakan!

 

Maaf, Paduka Tuan Zimukyokutyoo!

Berdirilah saya punya bulu, kalau saya membaca tuan punya surat, yang minta  kepada kita supaya dirancangkan sampai njlimet hal ini dan itu dahulu semuanya!

 

Kalau benar semua hal ini harus diselesaikan lebih dulu, sampai njlimet, maka  saya tidak akan mengalami Indonesia Merdeka, Tuan tidak akan mengalami Indonesia Merdeka, kita semuanya tidak akan mengalami Indonesia Merdeka, sampai di lubang kubur!


(Tepuk tangan riuh)


Saudara-saudara!

Apakah yang dinamakan merdeka?

Di dalam tahun '33 saya telah menulis satu risalah.

Risalah yang ber nama "Mencapai Indonesia Merdeka".

 

Maka di dalam risalah tahun "33 itu, telah saya katakan, bahwa kemerdekaan, politieke onafhankelijkheid, political indenpendence, tak lain dan tak bukan,  ialah satu jembatan, satu jembatan emas.

 

Saya katakan di dalam kitab itu, bahwa di seberangnya jembatan itulah kita sempurnakan kita punya masyarakat.


Ibn Saud mengadakan satu negara di dalam satu malam, - in one night only,! - kata Armstrong di dalam kitabnya.

 

Ibn Saud mendirikan Saudi Arabia Merdeka disatu malam sesudah ia masuk kota Riyadh dengan 6 orang!

 

Sesudah "jembatan" itu diletakkan oleh Ibn Saud, maka di seberang jembatan, artinya kemudian daripada itu, Ibn Saud barulah memperbaiki masyarakat  Saudi Arabia.

 

Orang yang tidak dapat membaca diwajibkan belajar membaca, orang yang tadinya bergelandangan sebagai nomade yaitu orang Badui, diberi pelajaran oleh Ibn Saud jangan bergelandangan, dikasih tempat untuk bercocok tanam. Nomade dirubah oleh Ibn Saud menjadi kaum tani; -semuanya di seberang jembatan.


Adakah Lenin ketika dia mendirikan negara Sovyet Rusia Merdeka, telah mempunyai Jnepprprostoff, dam Yang maha besar di sungai Jneppr? Apa ia telah mempunyai radio station, yang menyundul ke angkasa? 

            

Apa ia telah mempunyai kereta-kereta api cukup, untuk meliputi seluruh negara Rusia?

 

Apakah tiap-tiap orang Rusia pada waktu Lenin mendirikan Sovyet Rusia Merdeka telah dapat membaca dan menulis? Tidak, Tuan-tuan yang terhormat!

 

Di seberang jembatan emas yang diadakan oleh Lenin itulah, Lenin baru mengadakan radio station, baru megadakan sekolah, baru mengadakan Creche, baru mengadakan Djnepprprostoff!

 

Maka oleh karena itu saya minta kepada tuan-tuan sekalian, janganlah Tuan-tuan gentar di dalam hati, janganlah mengingat bahwa ini dan itu lebih dulu harus selesai dengan njlmet, dan kalau sudah selesai, baru kita dapat merdeka:

 

Alangkah berlainannya Tuan-tuan punya semangat, - jikalau Tuan-tuan demikian -, dengan semangat pemuda-pemuda kita yang 2 milyun pemuda ini semua berhasrat Indonesia Merdeka Sekarang!


(Tepuk tangan riuh)


Saudara-saudara, kenapa kita sebagai pemimpin rakyat, yang mengetahui sejarah, menjadi zwaarwichtig, menjadi gentar, padahal semboyan Indonesia Merdeka bukan sekarang saja kita siarkan?

 

Berpuluh-puluh tahun yang lalu, kita telah menyiarkan semboyan Indonesia Merdeka, bahkan sejak tahun 1932 dengan nyata-nyata kita mempunyai semboyan "INDONESIA MERDEKA SEKARANG".

 

Bahkan 3 kali sekarang, yaitu

Indonesia Merdeka sekarang,

sekarang,

sekarang!

(Tepuk tangan riuh).

 

Dan sekarang kita menghadapi kesempatan untuk menyusun Indonesia Merdeka, - kok lantas kita zwaarwichtig dan gentar-hati!

 

Saudara-saudara, saya peringatkan sekali lagi, Indonesia Merdeka, political independence, politieke onathankelijkheid , tidak lain dan tidak bukan ialah satu jembatan! Jangan gentar!

 

Jikalau umpamanya kita pada saat sekarang ini diberikan kesempatan oleh Dai Nippon untuk merdeka, maka dengan mudah Gunseikan diganti dengan orang yang bernama Tjondro Asmoro, atau Soomubutyoo diganti dengan orang yang bernama Abdul Halim.

 

Jikalau umpamanya Butyoo-Butyoo diganti dengan orang-orang Indonesia,  pada sekarang ini, sebenarnya kita telah mendapat political independence,   politieke onathankelijkheid - in one night, didalam satu malam!.


Saudara-saudara, pemuda-pemuda yang 2 milyun, semuanya bersemboyan :
Indonesia merdeka, sekarang !

 

Jikalau umpamanya Balatentara Dai Nippon sekarang mennyerahkan urusan negara kepada Saudara-saudara, apakah saudara-saudara akan menolak, serta berkata "mangke rumiyin", tunggu dulu, minta ini dan itu selesai dulu, baru kita berani menerima urusan negara Indonesia Merdeka?


(Seruan : Tidak! Tidak!)


Saudara-saudara, kalau umpamanya pada saat sekarang ini Balatentara Dai Nippon menyerahkan urusan negara kepada kita, maka satu menitpun kita tidak akan menolak, sekarangpun kita menerima urusan itu, sekarangpun kita mulai dengan negara Indonesia yang Merdeka!


(Tepuk tangan menggemparkan).


Saudara-saudara, tadi saya berkata, ada perbedaan antara
Sovyet RusiaSaudi Arabia, Inggris, Amerika dan lain-lain tentang isinya: tetapi ada satu yang sama, yaitu rakyat Saudi Arabia sanggup mempertahankan negaranya. Musyik-musyik di Rusia sanggup mempertahankan negaranya. Rakyat Amerika sanggup mempertahankan negaranya. Rakyat Inggris sanggup mempertahankan negaranya.

 

Inilah yang menjadi minimum-eis Artinya, kalau ada kecakapan yang lain, tentu lebih baik, tetapi manakala sesuatu bangsa telah sanggup mempertahankan negerinya dengan darahnya sendiri, dengan dagingnya sendiri, pada saat itu bangsa itu telah masak untuk kemerdekaan.

 

Kalau bangsa kita, semua siap sedia mati, mempertahankan tanah air kita Indonesia, pada saat itu bangsa Indonesia adalah siap-sedia, masak untuk Merdeka.

(Tepuk tangan riuh).


Cobalah pikirkan hal ini dengan memperbandingkannya dengan manusia. Manusiapun demikian, Saudara-saudara!

 

Ibaratnya, kemerdekaan saya bandingkan dengan perkawinan.

 

Ada yang berani kawin, lekas berani kawin, ada yang takut kawin. Ada yang berkata: Ah, saya belum berani kawin, tunggu dulu gaji F. 500. Kalau saya sudah mempunyai rumah gedung, sudah ada permadani, sudah ada lampu listrik, sudah mempunyai tempat tidur yang mentul-mentul, sudah mempunyai sendok garpu perak satu kaset, sudah mempunyai ini dan itu, bahkan sudah mempunyai kinder-uitzet, barulah saya berani kawin.

 

Ada orang lain yang berkata: saya sudah berani kawin kalau saya sudah mempunyai meja satu, kursi empat, yaitu "meja makan", lantas satu zitje, lantas satu tempat tidur.

 

Ada orang yang lebih berani lagi dari itu, yaitu saudara-saudara Marhaen! Kalau dia sudah mempunyai gubug saja dengan satu tikar, dengan satu periuk: dia kawin.

 

Marhaen dengan satu tikar, satu gubug : kawin. Sang klerk dengan satu meja, empat kursi, satu zitje, satu tempat Lidur : kawin. Sang nDoro yang mempunyai rumah gedung, electrische kookplaat, tempat-tidur, uang bertimbun-timbun: kawin.

 

Belum tentu mana yang lebih gelukkig, belum tentu mana yang lebih bahagia, Sang nDoro dengan tempat tidurnya yang mentul-mentul, atau Sarinen dan Samiun yang hanya mempunyai sätu tikar satu periuk, saudara-saudara!     


(Tepuk tangan, dan tertawa).


Tekad hatinya yang perlu, tekad hatinya Samiun kawin dengan satu tikar dan satu periuk, dan hati Sang nDoro yang baru berani kawin kalau sudah mempunyai gerozilver satu kaset plus kinderuitzet, - buat 3 tahun lamanya! 


(Tertawa).

Indonesia Merdeka ! Saudara-saudara, soalnya adalah demikian: - kita ini berani merdeka atau tidak? Inilah, saudara-saudara sekalian, Paduka tuan Ketua yang mulia, ukuran saya yang terlebih dulu saya kemukakan sebelum saya bicarakan hal-hal yang mengenai dasarnya satu negara yang merdeka.

 

Saya mendengar uraian Paduka Tuan Soetardjo beberapa hari yang lalu, tatkala ,enjawab apakah yang dinamakan merdeka, beliau mengatakan: kalau tiap-tiap orang di dalam hatinya telah merdeka, itulah kemerdekaan.

 

Saudara-saudara jika tiap-tiap orang Indonesia yang 70 milyun ini lebih dulu harus merdeka di dalam hatinya, sebelum kita dapat mencapai political independence, saya ulangi lagi, sampai lebur kiamat kita belum dapat 


(Tepuk tangan riuh)


Di dalam Indonesia Merdeka itulah kita memerdekakan rakyat kita! Di dalam Indonesia Merdeka itulah kita memerdekakan hatinya bangsa kita! Di dalam Saudi Arabia Merdeka, Ibn Saud memerdekakan rakyat
Arabia satu persatu. Di dalam Sovyet Rusia Merdeka Stalin memerdekakan hati bangsa Sovyet-Rusia satu persatu.

 

Saudara-saudara!

 

Sebagai juga salah seorang pembicara berkata: kita bangsa Indonesia tidak sehat badan, banyak penyakit malaria, banyak disentri, banyak penyakit hongerudeem, banyak ini banyak itu. "Sehatkan dulu bangsa kita, baru kemudian merdeka".

Saya berkata, kalau inipun harus diselesaikan lebih dulu, 20 tahun lagi kita belum merdeka. Di dalam Indonesia Merdeka itulah kita menyehatkan rakyat kita, walaupun misalnya tidak dengan kinine, tetapi kita kerahkan segenap masyarakat kita untuk menghilangkan penyakit malaria dengan menanam ketepeng kerbau.

 

Di dalam Indonesia Merdeka kita melatih pemuda kita agar supaya menjadi kuat, di dalam Indonesia Merdeka kita menyehatkan rakyat sebaik-baiknya.

 

Inilah maksud saya dengan perkataan "jembatan". Di seberang jembatan, jembatan emas, inilah, baru kita leluasa menyusun masyarakat Indonesia Merdeka yang gagah, kuat, sehat kekal dan abadi.


Tuan-tuan sekalian! Kita sekarang menghadapi satu saat yang maha penting. Tidaklah kita mengetahui, sebagaimana telah diutarakan oleh berpuluh-puiuh pembicara, bahwa sebenarnya international recht, hukum internasional, menggampangkan pekerjaan kita?

 

Untuk menyusun, mengadakan, mengakui satu negara yang merdeka, tidaklah diadakan syarat yang neka-neka, yang menjlimet, tidak!

 

Syaratnya sekedar bumi, rakyat, pemerintah yang teguh! Ini sudah cukup untuk international recht. Cukup, saudara-saudara. Asal ada buminya, ada rakyatnya, ada pemerintahnya, kemudian diakui oleh satu negara yang lain, yang merdeka, inilah yang sudah bernama: merdeka.

 

Tidak perduli rakyat dapat baca atau tidak, tidak perduli rakyat hebat ekonominya atau tidak, tidak perduli rakyat bodoh atau pintar, asal menurut hukum internasional mempunyai syarat-syarat suatu negara merdeka, yaitu ada rakyatnya, ada buminya dan ada pemerintahannya, - sudahlah ia merdeka.


Janganlah kita gentar, zwaarwichtig, lantas mau menyelesaikan lebih dulu 1001 soal yang bukan-bukan!

 

Sekali lagi saya bertanya:

Mau Merdeka apa tidak?

Mau merdeka atau tidak'?


(Jawab Hadirin: Mau)


Saudara-saudara!

Sesudah saya bicarakan tentang hal "merdeka", maka sekarang saya bicarakan tentang hal dasar


Paduka Tuan Ketua yang mulia!

Saya mengerti apakah yang Paduka Tuan Ketua kehendaki! Paduka Tuan Ketua minta dasar, minta philosophische grondslag, atau, jikalau kita boleh memakai perkataan yang muluk-muluk, Paduka Tuan Ketua yang mulia meminta suatu "Weltanschauung", di atas mana kita mendirikan negara Indonesia itu.


Kita melihat dalam dunia ini, bahwa banyak negeri-negeri yang merdeka, dan banyak diantara negeri-negeri yang merdeka itu berdiri di atas suatu Wettanschauung".

 

Hitler mendirikan Jermania di atas "national-sozialistische Weltanschauung", - filsafat nasional-sosialisme telah menjadi dasar negara Jermania yang didirikan oleh Adolf Hitler itu.

 

Lenin mendirikan negara Sovyet di atas satu "Weltanschauung", yaitu Marxistische, Historisch-Materialistische "Weltanschauung". "Nippon mendirikan negara Dai Nippon di atas satu "Weltanschauung", yaitu yang dinamakan, "Ten noo Koodoo Seishin". Di atas "Tennoo Koodoo Seishin" inilah negara Dai Nippon didirikan.

 

Saudi Arabia, Ibn Saud, mendirikan negara Arabia diatas satu "Weltanschauung", bahkan di atas satu dasar agama, yaitu Islam.

 

Demikian itulah yang diminta oleh Paduka Tuan Ketua yang mulia: Apakah "Weltanschauung" kita, jikalau kita hendak mendirikan Indonesia yang merdeka?

Tuan-tuan sekalian, "Weltanschauung" ini sudah lama harus kita bulatkan di dalam hati kita dan di dalam pikiran kita, sebelum Indonesia Merdeka datang.

 

Idealis-idealis diseluruh dunia bekerja mati-matian untuk mengadakan bermacam -macam "Weltanschauung" bekerja mati-matian untuk me-"realiteitkan" Weltanschauung" mereka itu.

 

Maka oleh karena itu sebenarnya tidak benar perkataan anggota yang terhormat Abikoesno, bila beliau berkata bahwa banyak sekali negara-negara merdeka didirikan dengan isi seadanya saja, menurut keadaan.

 

Tidak!

Sebab misalnya, walaupun menurut perkataan John Reed : "Sovyet-Rusia didirikan di dalam 10 hari oleh Lenin c.s.", John Reed, di dalam kitabnya: "Ten days that shock the world" "sepuluh hari yang menggoncangkan dunia"  Walaupun Lenin mendirikan Sovyet-Rusia di dalam 10 hari, tetapi "Weltanschauung"nya telah tersedia berpuluh-puluh tahun.

 

Terlebih dulu telah tersedia "Weltanschauung"nya, dan di dalam 10 hari itu hanya sekadar direbut kekuasaan, dan ditempatkan negara baru itu di atas "Weltanschauung" yang sudah ach.

 

Dari 1895 "Weitanschauung" itu telah disusun. Bahkan dalam revolusi 1905, Weltanschauung itu "dicobakan", di "generale-repetitie"-kan. Lenin di dalam revolusi tahun 1905 telah mengerjakan apa yang dikatakan oleh beliau sendiri "generale-repetisi" daripada revolusi tahun 1917. Sudah lama sebelum 1917, "Weltanschauung" itu disedia-sediakan, bahkan diihtiar-ihtiarkan.

 

Kemudian, hanya dalam 10 hari, sebagai dikatakan oleh John Reed. Hanya dalam 10 hari itulah didirikan negara baru, direbut kekuasaan, ditaruhkan kekuasaan itu di atas "Weltanschauung" yang telah berpuluh-puluh tahun umurnya itu.

 

Tidakkah pula Hitler~demikian ? Di dalam tahun 1933 Hitler menaiki singgasana kekuasaan, mendirikan negara Jermania di atas National-sozialistische weltanschauung.Tetapi kapankah Hitler mulai menyediakan dia punya "Weltanschauung" itu?.

 

Bukan di dalam tahun 1933, tetapi di dalam tahun 1921 dan 1922 beliau telah bekerja, kemudian mengihtiarkan pula, agar supaya Naziisme ini, “Weltanschauung" ini, dapat menjelma dengan dia punya "Munchener Putch", tetapi gagal.

 

Di dalam 1933 barulah datang saatnya yang beliau dapat merebut kekuasaan, dan negara diletakkan oleh beliau di atas dasar "Weltanschauung" yang telah dipropagandakan berpuluh-puluh tahun itu.

 

Maka demikian pula, jika kita hendak mendirikan negara Indonesia Merdeka, Paduka Tuan Ketua, timbullah pertanyaan: Apakah "Weltanschauung" kita, untuk mendirikan negara Indonesia Merdeka di atasnya? Apakah nasional-sosialisme? Apakah historisch materialisme? Apakah San Min Chu I, sebagai dikatakan oleh Doktor Sun Yat Sen?


Di dalam tahun 1912 Sun Yat Sen mendirikan negara Tiongkok merdeka, tetapi "Weltanschauung"nya telah siap dalam tahun 1885, kalau saya tidak salah, dipikirkan, dirancangkan.

 

Di dalam buku "The three peoples's principles" San Min Chu I - Mintsu, Minchuan, Min Sheng, - nasionalisme, demokrasi, sosialisme, telah digambarkan oleh Doktor Sun Yat Sen Weltanschauung itu, tetapi baru dalam  tahun 1912 beliau mendirikan negara baru di atas "Weltanschauung" San Min Chu I itu, yang telah disediakan terdahulu berpuluh-puluh tahun.


Kita hendak mendirikan negara Indonesia Merdeka diatas "Weltanschauung" apa? Nasional-sosialismekah, Marxismekah, San Min Chu I kah atau Weltanschauung” apakah?


Saudara-saudara sekalian, kita telah bersidang tiga hari lamanya, banyak pikiran telah dikemukakan, - macam-macam, tetapi alangkah benarnya perkataan Dr. Soekiman, perkataan Ki Bagoes Hadikoesomo, bahwa kita harus mencari persetujuan, mencari persetujuan faham.