“… PERJUANGAN MELAWAN KEKUASAAN adalah PERJUANGAN INGATAN MELAWAN LUPA ..."

dhia_prekasha's posts with tag: nugroho notosusanto

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag nugroho notosusanto
Blog EntryG30S: De-Soekarnoisasi Jilid Dua Mar 30, '08 7:05 PM
for everyone

G30S: De-Soekarnoisasi Jilid Dua

Oleh : Asvi Warman Adam

 

Beberapa buku yang terbit belakangan ini mengarah kepada upaya de-Soekarnoisasi, menjadikan mantan Presiden RI pertama sebagai dalang peristiwa G30S/1965 dan bertanggung jawab atas segala dampak kudeta berdarah itu. Proses ini terkesan sebagai pengulangan dari yang dilakukan terhadap Bung Karno tahun 1970-an.


Pada 17 November 2005, di Jakarta diluncurkan buku Sukarno File, Berkas-Berkas Soekarno 1965-1967, dan Kronologi Suatu Keruntuhan yang ditulis Antonie CA Dake. Bukan hanya sekadar mengatakan bahwa Bung Karno biang yang sebenarnya dari apa yang terjadi pada paruh akhir 1965, Dake juga menuding bahwa sang proklamator secara langsung harus memikul tanggung jawab atas pembunuhan enam jenderal dan secara tidak langsung untuk pembantaian antara komunis dan bukan komunis yang berlangsung kemudian.


Tuduhan Dake itu didasarkan pada hasil pemeriksaan ajudan Presiden Soekarno, Bambang Widjanarko, oleh Teperpu (Team Pemeriksa Pusat) Kopkamtib yang mengungkapkan bahwa tanggal 4 Agustus 1965 Bung Karno memanggil Brigjen Sabur dan Letkol Untung ke kamar tidurnya dan menanyakan apakah mereka bersedia menerima perintah yang akan mencakup tindakan terhadap para jenderal yang tidak loyal. Untung menyatakan kesediaannya.

 

Keterangan Bambang Widjanarko itu yang dijadikan alasan Dake untuk menyimpulkan bahwa Soekarno bertanggung jawab secara langsung atas pembunuhan enam jenderal.

Dokumen Widjanarko itu sangat lemah dari sudut metodologi sejarah. Sebab, beberapa tahun setelah itu, ketika mendiskusikan buku Sewindu Bersama Bung Karno, Widjanarko mengakui bahwa dia mengalami siksaan selama ditahan dan pengakuan tersebut diberikan secara paksa.

Pengakuan Widjanarko itu diterbitkan dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris dengan kata pengantar dari Antonie Dake tahun 1974 di Belanda dengan judul The Devious Dalang.

 

Yang menarik, Dake mengaku menerima laporan pemeriksaan itu di hotelnya di Jakarta melalui pos dengan tanpa alamat pengirim. Siapa yang mengirim dokumen itu?

Orang dekat Nasution

Dalam buku Lambert Giebels, Pembantaian yang Ditutup-tutupi, Peristiwa Fatal di Sekitar Kejatuhan Bung Karno (2005 hal 151)  disebutkan, Hampir pasti bahwa seseorang yang dekat dengan Nasution yang menaruh bungkusan itu dalam kotak surat hotel.

 

Mengapa Giebels berkesimpulan demikian? Tahun 1972 dalam sebuah acara televisi Nasution menuduh Bung Karno terlibat dalam kup Gestapu dengan menunjuk kepada interogasi Widjanarko. Kalau interogasi tersebut dianggap palsu atau telah diolah, maka Giebels lagi-lagi menuduh bahwa itu berasal dari Nasution (hal 152).

Buku Lambert Giebels itu bukan saja mendukung tesis keterlibatan Soekarno dalam G30S, tetapi juga mengungkapkan hal- hal yang bersifat pribadi. Mengenai istri beliau yang lebih dari satu, itu sudah diketahui umum.

 

Tetapi, Giebels juga menuduh bahwa dalam kunjungan ke Sumatera Selatan tahun 1963, disediakan gadis-gadis berumur 16-17 tahun untuk melayani Presiden sewaktu makan dan harus siap bila bapak presiden masih mempunyai kebutuhan-kebutuhan lain (hal 42).

 

Lambert tidak segan mengutip majalah gosip Jerman, Aktuell, yang menulis, Presiden Indonesia telah mengajak empat pramugari ke konferensi di Beograd dan untuk masing-masing disediakan apartemen di Hotel Metropole.

Sebelumnya terbit buku Victor Miroslav Fic yang menulis buku Kudeta 1 Oktober 1965, Sebuah Studi Tentang Konspirasi. Penulisnya adalah profesor emeritus ilmu politik pada Brock University, Kanada, yang berasal dari Cekoslovakia.

 

Fic dua kali datang ke Indonesia dengan difasilitasi Nugroho Notosusanto tahun 1968 dan 1971. Ia memperoleh banyak dokumen antara lain dari Letkol Djiwo Soegondo dari Teperpu Kopkamtib.

 

Tahun 1996-1997 ia menjadi visiting fellow di CSIS Jakarta untuk merampungkan buku yang telah dimulai lebih dari 30 tahun sebelumnya. Buku tersebut bertujuan menjelaskan ancaman paling serius dari pemberontakan PKI terhadap pluralisme yang telah berkembang di Nusantara sejak dahulu kala.

 

Buku yang kontroversial ini diluncurkan di Jakarta 30 September 2005 dengan pembahas Prof Taufik Abdullah yang memuji karya tersebut.

Menurut Fic,

1) Mao yang memerintahkan Aidit tanggal 5 Agustus di Beijing untuk melakukan kup; dan

2) Aidit membicarakan perintah Mao itu dengan Soekarno di Istana Bogor tanggal 8 Agustus 1965;

3) Soekarno setuju dengan usul Aidit dia akan membiarkan PKI mengambil alih kekuasaan negara. Setelah Aidit diangkat menjadi Perdana Menteri dengan kabinet mayoritas PKI, maka Soekarno akan beristirahat di Danau Angsa di China.

Tiga klaim Victor Fic ini luar biasa. Namun persoalannya, mana dokumen atau arsip yang mendukung pernyataan itu. Apakah mungkin Mao memerintah Aidit? Bagaimana mungkin Soekarno dengan sukarela melepaskan kursi presiden, untuk apa?

Soehartoisasi

Apa yang ditampilkan hari- hari ini merupakan pengulangan dari de-Soekarnoisasi (jilid satu) yang telah dimulai pasca-G30S/ 1965.

 

Kelihatan makin sistematis sejak tahun 1970 dengan pelarangan peringatan hari lahir Pancasila 1 Juni 1970 dan penerbitan leaflet Nugroho Notosusanto tentang lahirnya Pancasila. Bukan Bung Karno yang pertama berpidato, tetapi didahului oleh M Yamin dan Supomo.

 

Pada saat yang sama diangkat kehebatan Soeharto dalam kasus Serangan Umum 1 Maret 1949 dengan mendirikan dua monumen peringatan. Belum lagi beberapa film untuk menonjolkan Soeharto, seperti Pengkhianatan G30S dan Janur Kuning.

Yang menarik adalah upaya de-Soekarnoisasi belakangan ini seakan seiring dengan Soehartoisasi, yaitu memulihkan nama baik Soeharto seperti yang berkembang dalam Rapimnas Partai Golkar minggu lalu.

 

Apakah ini suatu kebetulan atau memang sebuah rekayasa?

* Penulis: Asvi Warman Adam Ahli Peneliti Utama LIPI,

 

Harian Kompas 3 Desembar 2005

Monday, December 05, 2005 HTtp://analisakebudayaan.blogspot.com/

 

 


KECULASAN SOEHARTO DAN ABRI-NYA MENGADU DOMBA BUNG KARNO DENGAN BUNG HATTA DAN BUNG SJAHRIR

Kolom IBRAHIM ISA -- SAKSIKAN ORBA MEREKAYASA SEJARAH!

Posted by: "isa" i.bramijn@chello.nl   ibrahim_isa1

Tue Jul 24, 2007 9:53 am (PST)

 

Kolom IBRAHIM ISA
Selasa, 24 JUli 2007


SAKSIKAN ORBA MEREKAYASA SEJARAH!
<Baca Aswi Adam: 'Kasus Biografi Sukarno'>



                                                   
 ** * **

 

Karena kesibukan beberapa hari ini, hampir saja terluput artikel cendekiawan generasi muda Indonesia, ASWI WARMAN ADAM, berjudul  'KASUS BIOGRAFI SOEKARNO' (Kompas, 6 Juni 07).

 

Dalam pada itu 14 Juli y.l. sudah muncul lagi tulisan baru Aswi Adam mengenai tokoh pejuang kemerdekaan nasional Mr Amir Syarifudin, berjudul 'Revolusi Memakan Anaknya Sendiri!'.  Mudah-mudahan artikel mengenai Mr Amir Syarifuddin ini, yang mengisahkan tentang peranan beliau dalam perjuangan kemerdekaan, dan jasa-jasanya, kemudian nasibnya di hadapan regu tembak tentara tanpa proses pengadilan apapun, akan kubicarakan dalam kesempatan berikutnya.

Kali ini yang hendak dibicarakan adalah artikel Aswi mengenai 'Kasus Biografi Sukarno'. Artikel ini kuanggap penting sekali karena telah mengungkap beberapa hal yang memerlukan perhatian dan pemikiran lebih mendalam. Agar kita bisa menarik pelajaran yang bermanfaat mengenai rezim Orba di bawah Jenderal Suharto.

Tiga point seperti yang diajukan berikut di bawah ini yang menjadi pertimbangan untuk menganggap bahwa artikel Aswi Adam tsb penting.

Pertama
,

bahwa Aswi, sejarawan muda Indonesia yang melakukan kegiatannya a.l. sebagai 'Pengurus Masyarakat Sejarawan Indonesia',  kita ikuti selama ini ia dengan teliti dan tekun menstudi sejarah bangsa kita. Khususnya sejarah modern Indonesia.

 

Sejarawan Aswi Adam menaruh perhatian khusus terhadap tokoh dan peranan Bung Karno, teristimewa sekitar periode ketika kekuasaan Presiden Sukarno 'digoyang', 'disekat dan diisolasi ketat yang memisahkannya secara 'hermetis' dari kontak-kontak dan dukungan bangsa', -- kemudian diserobot Jendral Suharto dengan cara, seperti ditulis oleh banyak pakar-pakar peneliti sejarah, nasional maupun mancanegara, yang
disebut, 'creaping coup d'etat', 'kup merangkak'. Yaitu perebutan kekuasaan negara secara perlahan-lahan.

 

Kedua,

bahwa, Aswi Adam menemukan 'kejanggalan' dalam edisi bahasa Indonesia buku BIOGRAFI SOEKARNO. 'Kejanggalan tsb mengungkap hal yang lebih dalam dan fundamental. Bukan sekadar 'kejanggalan' .

 

Judul asli (bahasa Iggris) Otobiografi Sukarno tsb, adalah: 'SOEKARNO, AUTOBIOGRAPHY, AS TOLD TO CINDY ADAMS', Indianapolis: Bobbs-Merril (1965).

Edisi Indonesia terbit setahun kemudian,1966. Penerbitnya GUNUNG AGUNG. Judulnya: 'BUNG KARNO PENYAMBUNG LIDAH RAKYAT INDONESIA'.

 

Pasti dari kalangan generasi perjuangan kemerdekaan masih ingat, ketika Bung Karno masih hidup, beliau memang pernah menegaskan bahwa, pada saatnya harus meninggalkan dunia yang fana ini, beliau ingin dimakamkan di daerah Bogor. Selanjutnya, beliau minta diatas batu-nisan, supaya ditulis sekadar teks berikut ini: 'BUNG KARNO PENYAMBUNG LIDAH RAKYAT'.

Memang, edisi Indonesia dari buku BIOGRAFI SOEKARNO tsb, menunjukkan 'kejanggalan' yang menyolok sekali.

Suatu keanehan yang menjurus ke sesuatu misteri.

Buku Bung Karno, sebuah otobiografi, terbit di zaman Orba, sampai 5 kali.

Bukankah hal ini sesuatu yang benar-benar aneh, janggal dan sulit difahami??

 

Ketiga,

inilah yang paling istimewa dari studi Aswi Adam:

Sejarawan Aswi Warman Adam menemukan suatu 'kejanggalan' , yang kiranya pantas disebut suatu 'bikinan'.

Namun, bila dikuak lagi, menjadi jelas, yang dikatakan 'misteri' itu, tersimpul dalam jawaban apa yang diberikan atas pertanyaan berikut ini:

Mengapa ---- ? ? ?

Sekali lagi mengapa, penguasa militer di bawah Jendral Suharto ketika itu (1966), (yang menimbulkan orang menjadi heran) tokh mengizinkan PENCETAKAN Edisi bahasa Indonesia buku tentang Bung Karno.

Bukan saja mengizinkan terbit edisi Indonesia, buku tentang Bung Karno, bahkan, Jendral Suharto sendiri yang memberikan semacam 'kata pengantar'.

 

Siapapun tidak mungkin 'menelan'  begitu saja kejanggalan ini.

Soalnya, karena, pada saat yang bersamaan itu juga, fihak militer di bawah Jendral Suharto (orang yang sama itu juga) sedang sibuk-sibuknya melancarkan kampanye pemfitnahan terhadap Presiden Sukarno (dibilang terlibat, bahkan  'dalang G30S', dsb).

 

Kampanye anti-Sukarno ini dikenal sebagai 'character asassination' . Tujuan tunggal, menghitamkan nama baik dan peranan Bung Karno sebagai pemimpin bangsa. Kampnye fitnah terhadap Presiden Sukarno mereka perlukan sebanyak mungkin, sebagai 'alasan' dan dalih, sebelum sepenuhnya menggulingkan Bung Karno dari kepresidenan Republik Indonesia.

Sulit menemukan jawaban lain terhadap pertanyaan tsb, selain jawaban ini:

 

Diterbitkannya buku Bung Karno edisi Indonesia tsb, ditengah-tengah sedang gencar-gencarnya kampanye 'anti Bung Karno'(1966), ialah, bahwa hal itu merupakan bagian dari kampanye untuk menghitamkan nama baik Bung Karno.

 

Maksud lainnya penerbitan buku itu, adalah untuk memecahbelah lebih lanjut kekuatan nasional bangsa kita.

 

Kongkritnya menimbulkan pertentangan dan konflik serta saling benci, antara pendukung Presiden Sukarno, lawan pendukung mantan Wakil Presiden Dr Moh Hatta.

                                                           
* * *


Mengapa dikatakan penerbitan buku Bung Karno edisi Indonesia itu (terbitan pertaman 1966), adalah untuk menghitamkan nama baik Bung Karno dan memecah-belah lebih lanjut, mempertajam pertentangan dan saling benci antara pendukung Bung Karno dan pendukung Moh Hatta?

 

Bisa diambil kesimpulan demikian, karena di dalam buku edisi Indonesia terdapat 'kalimat-kalimat selundupan', yang diselundupkan oleh (siapa?? tanya Aswi Adam), yang di dalam edisi asli buku tsb SAMASEKALI TAK ADA!

 

Jadi suatu rekayasa, suatu p e m a l s u a n , suatu pemelintiran fakta-fakta sejarah. Suatu 'karangan',  'cerita bikinan sendiri', 'suatu isapan jempol' yang sengaja dijejalkan dalam buku Bung Karno edisi Indonesia.

 

Semakin jelas maksud yang merekayasa dan memelintir fakta sejarah itu bila dibaca, kalimat-kalimat yang bagaimana yang diselundupkan ke dalam buku Bung Karno itu.

Dalam tulisannya seperti yang dilampirkan di bawah, Aswi Adam menjelaskan sbb:

'Pada halaman 341 tertulis,

 

"Rakyat sudah berkumpul. Ucapkanlah Proklamasi "  Badanku masih panas, akan tetapi aku masih dapat mengendalikan diriku. Dalam suasana di mana setiap orang mendesakku, anehnya aku masih dapat berpikir dengan tenang. "Hatta tidak ada," kataku. "Saya tidak mau mengucapkan proklamasi kalau Hatta tidak ada." "Dalam detik yang gawat dalam sejarah inilah Sukarno dan tanah-air Indonesia menunggu kedatangan Hatta".  <Ini adalah kata-kata Sukarno, I.I.>

 

Namun, di antara kedua kalimat itu ternyata disisipkan dua alinea yang tidak ada dalam buku asli berbahasa Inggris yaitu: (dua alinea berikut yang 'disisipkan' , direkayasa. Aswi menunjukkan dua alinea yang di bawah ini cetak-miring), sbb:


/"Tidak ada yang berteriak Kami menghendaki Bung Hatta. Aku tidak memerlukannya. Sama seperti aku tidak memerlukan Sjahrir yang menolak untuk memperlihatkan diri di saat pembacaan Proklamasi.  Sebenarnya aku dapat melakukannya seorang diri dan memang aku melakukannya sendirian. Di dalam dua hari yang memecahkan urat saraf itu maka peranan Hatta dalam sejarah tidak ada." /

/"Peranannya yang tersendiri selama masa perjuangan kami tidak ada. Hanya Sukarno-lah yang tetap mendorongnya ke depan. Aku memerlukan orang yang dinamakan pemimpin ini karena satu pertimbangan. Aku memerlukannya oleh karena aku orang Jawa dan dia orang Sumatera dan di hari-hari yang demikian itu aku memerlukan setiap orang denganku. Demi persatuan aku memerlukan seorang dari Sumatera. Dia adalah jalan yang paling baik untuk menjamin sokongan dari rakyat pulau yang nomor dua terbesar di Indonesia." /

 

/ Soekarno tidak memerlukan Hatta dan Sjahrir bahkan "peranan Hatta dalam sejarah tidak ada". ( Dua alinea tsb ternyata bukan kata-kata Bung Karno  tetapi sisipan, selundupan) /

 

Dua alinea tsb diatas, menurut Aswi, adalah dua alinea 'tambahan',  yang DI DALAM EDISI ASLI  BERBAHASA INGGRIS SAMA SEKALI TAK ADA.

 

Dua alinea (selundupan) tsb yang hendak memberikan gambaran (keliru) itu adalah yang ditampilkan sebagai 'sikap dan penilaian negatif Bung Karno terhadap mantan Presiden Moh. Hatta dan mantan Perdana Menteri Sutan Syahrir'.

 

Siapapun yang kenal dan tahu, apalagi ambil bagian langsung dalam perjuangan kemerdekaan, jujur dan menghormati kebenaran, sedikitpun tak bisa terima 'pemelintiran fakta-fakta sejarah' demikian rupa.

 

Kenyataan edisi bahasa Indonesia buku Bung Karno disertai semacam KATA PENGANTAR dari Jendral Suharto, bisa dipastikan bahwa sisipan selundupan dua alniea itu, paling tidak DIKETAHUI Suharto, kalau bukan orangnya Suharto sendiri yang menyelundupkannya, atas perintah Suharto.

Pemelintiran fakta-fakta dan pemalsuan fakta sejarah, menyajikan pemalsuan sebagai kebenaran,
cara ini 100 persen sama dengan pemalsuan fakta sejarah lainnya yang dilakukan Orba.

 

Seperti a.l. yang bersangkutan dengan: siapa tokoh nasional yang memprakarsai  'SERANGAN UMUM 1 MARET 1949, TERHADAP JOGYAKARTA. Sejarawan Orba sesumbar bahwa pemrakarsanya adalah Letkol Suharto.

 

Tetapi kenyataan sejarah berbicara lain. Yang benar ialah, bahwa pemrakarsa SERANGAN UMUM 1 MARET 1949 ATAS JOGYAKARTA, adalah SRI SULTAN HAMENGKUBUWONO IX.

 

Juga sama dengan pemelintiran fakta sejarah lainnya oleh rezim Orba, ketika sejarawan TNI-AD Jendral Prof. Dr Nugroho Notosusanto, mengklaim bahwa adalah Prof Moh Yamin yang mencipta 'Pancasila', dan bukan Bung Karno.

 

Padahal, asal saja mau membacaPidato LAHIRNYA PANCASILA oleh Bung Karno, serta merta akan mengerti bahwa PANCASILA adalah ide falsafah strategis yang diajukan oleh Bung Karno, untuk dijadikan dasar falsafah dari negara Indonesia yang akan kita bentuk.

 

Juga menjadi terungkap pemalsuan dan rekayasa fakta sejarah lain-nya, yaitu, ketika pers Orba menyebarluaskan bahwa 'perempuan-perempuan Gerwani melakukan orgi, kemudian memotong-motong kemaluan jenazah para jenderal, mencungkil matanya' dsb. Untuk memberikan alasan melakukan pengejaran dan pembunuhan masal kejam terhadap orang-orang PKI, dan yang dianggap simpatisan pendukung PKI.

 

Rekayasa dan pemalsuan fakta oleh tentara sekitar 'perempuan-prempuan GERWANI' ini telah diungkap dan terbantahkan oleh pakar Belanda Prof Dr Saskia Wieringa, dalam bukunya mengenai 'The Birth of the New Order State in Indonesia Sexual Politics and Nationalism' .


                                                           
* * *

Demikianlah adanya: Maka sungguh adillah tuntutan, usaha dan kegiatan untuk MELURUSKAN SEJARAH, atau MENGKLARIFIKASI FAKTA-FAKTA SEJARAH,
ataupun MENULIS KEMBALI SEJARAH ---
'what is in a name', kata pujangga penyair Inggris William Shakespeare, --- MASALAH INTINYA ialah selama periode Orba, sudah berlangsung pemalsuan, rekayasa, pemelintiran, pembohongan dalam penulisan sejarah bangsa kita.

 

Maka hal itu, bila hendak jujur dan ada niat baik untuk meninggalkan penulisan sejarah yang benar mengenai bangsa kita, praktek-praktek pemalsuan seperti yang dilakukan sementara sejarawan zaman Orba, itu SEPANTASNYA DIKOREKSI, secepat mungkin! Ini adalah suatu tantangan, sekaligus tugas bagi sejarawan muda kita!


                                                           
* * *

Di bawah ini artikel lengkap ASWI WARMAN ADAM, mengenai KASUS BIOGRAFI SUKARNO, yang baru kita bicara di atas.

-- LAMPIRAN --

*KASUS  BIOGRAFI  SOEKARNO*

*Oleh: ASWI WARMAN ADAM*

Kompas, 06 Juni 2007

                                                           
* * *

/ Kasus Biografi Soekarno /

Asvi Warman Adam

Beberapa biografi Soekarno pernah dibuat pengamat asing seperti Bernhard Dahm, John Legge, Lambert Giebels, dan Bob Hering. Namun, buku yang ditulis Cindy Adams yang paling "hidup" karena merupakan penuturan langsung Soekarno sendiri.

Buku itu pertama kali muncul dalam bahasa Inggris tahun 1965 berjudul
Sukarno, Autobiography as told to Cindy Adams, Indianapolis: Bobbs-Merril. Satu tahun kemudian, edisi bahasa Indonesia diterbitkan Gunung Agung (
Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia).

Ketika buku Soekarno yang lain sulit ditemukan pascatahun 1965, maka buku Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
mengalami cetak ulang beberapa kali (1966, 1982, 1984, 1986, 1988). Pada cetakan pertama tertulis nama penerjemah Mayor Abdul Bar Salim, sedangkan pada cetakan kedua, pangkatnya tidak disebut lagi.

Dalam pengantar penerbit disebutkan, dalam tugas penerjemahan ini sang penerjemah sudah direstui Menteri/Panglima Angkatan Darat Letnan Jenderal Soeharto. Selain itu sejak cetakan pertama terdapat kata sambutan Soeharto.

 

"Dengan penerbitan ini, diharapkan dapat terbaca luas di kalangan rakyat, Bangsa Indonesia," ujar Soeharto.

Apakah pernyataan ini yang menyebabkan buku itu bisa tetap terbit pada era Orde Baru?

Duta Besar AS Howard Jones, saat makan nasi goreng di paviliun istana Bogor, menyarankan agar Bung Karno menulis biografi. Akhirnya Soekarno setuju bila itu dilakukan Cindy Adams, wartawati AS yang ada di
Indonesia mendampingi suaminya, Joey Adams, yang memimpin misi kesenian Presiden Kennedy ke Asia Tenggara.

Cukup banyak kepentingan yang ikut bermain di balik penerbitan buku ini. Namun, bagi Bung Karno, biografi ini memberi kesempatan menjawab serangkaian tuduhan yang pernah ditujukan pada dirinya antara lain sebagai kolaborator Jepang dan komunis serta terlalu sering ke luar negeri.

 

"Buku ini tidak ditulis untuk mendapatkan simpati atau meminta supaya setiap orang suka kepadaku. Harapanku hanyalah, agar dapat menambah pengertian yang lebih baik tentang Sukarno dan dengan itu menambah pengertian yang lebih baik terhadap Indonesia tercinta."

*A l i n e a   t a m b a h a n*


Dalam diskusi yang diselenggarakan Yayasan Bung Karno di Gedung Pola tahun 2006, Prof Sjafii Ma’arif, mengutip buku Cindy Adams, mengatakan, Soekarno amat melecehkan Hatta karena menganggap perannya tidak ada dalam sejarah Indonesia.

 

Karena itu, ketika buku ini akan diterbitkan ulang, saya meminta kepada Yayasan Bung Karno untuk mengecek kembali terjemahan buku ini.

Sebetulnya bagaimana bunyi asli dalam bahasa Inggris, pernyataan yang merendahkan Hatta.

Yayasan Bung Karno kemudian menugasi Syamsu Hadi untuk menerjemahkan ulang buku itu.

Yang mengagetkan, pada temuannya, selain ada kekeliruan terjemahan adalah dua alinea tambahan dalam edisi bahasa Indonesia sejak tahun 1966.

Padahal kedua alinea itu tidak ada dalam edisi bahasa Inggris.

Pada halaman 341 tertulis,

 

"Rakyat sudah berkumpul. Ucapkanlah Proklamasi."

Badanku masih panas, akan tetapi aku masih dapat mengendalikan diriku. Dalam suasana di mana setiap orang mendesakku, anehnya aku masih dapat berpikir dengan tenang.
"Hatta tidak ada," kataku. "Saya tidak mau mengucapkan proklamasi kalau Hatta tidak ada."

 

Kalimat ini akan dilanjutkan — kalau dicek teks asli bahasa Inggris adalah

 

"Dalam detik yang gawat dalam sejarah inilah Sukarno dan tanah-air Indonesia menunggu kedatangan Hatta".

 

Namun, di antara kedua kalimat itu ternyata disisipkan dua alinea yang tidak ada dalam buku asli berbahasa Inggris yaitu:

 

"Tidak ada yang berteriak ’Kami menghendaki Bung Hatta’. Aku tidak memerlukannya. Sama seperti aku tidak memerlukan Sjahrir yang menolak untuk memperlihatkan diri di saat pembacaan Proklamasi. Sebenarnya aku dapat melakukannya seorang diri dan memang aku melakukannya sendirian. Di dalam dua hari yang memecahkan urat saraf itu maka peranan Hatta dalam sejarah tidak ada."

"Peranannya yang tersendiri selama masa perjuangan kami tidak ada. Hanya Sukarno-lah yang tetap mendorongnya ke depan. Aku memerlukan orang yang dinamakan ’pemimpin’ ini karena satu pertimbangan. Aku memerlukannya oleh karena aku orang Jawa dan dia orang Sumatera dan di hari-hari yang demikian itu aku memerlukan setiap orang denganku. Demi persatuan aku memerlukan seorang dari Sumatera. Dia adalah jalan yang paling baik untuk menjamin sokongan dari rakyat pulau yang nomor dua terbesar di Indonesia."

 

Soekarno tidak memerlukan Hatta dan Sjahrir bahkan "peranan Hatta dalam sejarah tidak ada". Demikian pernyataan Bung Karno dalam edisi bahasa Indonesia yang terbit sejak tahun 1966. Kalau tambahan dua alinea itu hasil rekayasa, siapa yang melakukannya ?

 *Asvi Warman Adam*

 /Pengurus Pusat Masyarakat Sejarawan Indonesia/

                                                           
* * *

 

 


Blog EntryIstilah GERAKAN 30 SEPTEMBER Lebih OBYEKTIF Jul 9, '07 8:14 PM
for everyone

 

ASVI WARMAN ADAM

GARDA DEPAN PENJERNIHAN SEJARAH

Pengantar:

Hari Minggu y.l. (01.04.07) dapat dibaca suatu wawancara yang menarik dengan sejarawan generasi muda ASWI WARMAN ADAM mengenai istilah 'GERAKAN 30 SEPTEMBER, yang dia yakini lebih obyektif dibanding istilah 'G30S/PKI', versi Orba.


Aswi Adam adalah sejarawan muda 'KITA'.  Kita percaya akan kejujuran Aswi Adam mengenai FAKTA-FAKTA SEJARAH. Sebagaimana kita mempercayai sejarawan muda yang belum lama kita kenal, BONNIE TRIYANA. Kedua-dua sejarawan muda ini, begitu bergairah dan serius sekali dalam meneliti dan menstudi fakta-fakta sejarah yang telah dibengkokkan dan dipalsu oleh Orba seperti oleh sejarawan Angkatan Darat, Nugroho Notosusanto, dan sebangsanya.


Tidak sedikit sejarawan muda dewasa ini, yang berusaha keras 'meluruskan sejarah' (isilah Aswi)
Indonesia. Atau seperti istilah Bonnie 'Mengklarifikasi' fakta sejarah Indonesia. Tidak berlebihan jika kita menaruh harapan terhadap sejarawan-sejarawan generasi baru, seperti Aswi dan Bonnie, juga Bambang Purwanto, dan lain-lainnya. Mereka gairah, maju terus meski menghadapi pelbagai rintangan. Termasuk ancaman dan intimidasi 'preman' seperti yang dialami Aswi Adam dan keluarganya belakangan ini.

 

Rintangan dan intimidasi tsb dilakukan terhadap setiap usaha untuk mengungkap kebenaran, membeberkan fakta-fakta sejarah Indonesia, khususnya yang menyangkut masa sejak diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia; lebih khusus lagi yang menyangkut sekitar 'Peristiwa 1965'. Karena adalah pada periode itu, selama lebih dari 30 tahun Orba telah memutarbalikkan fakta-fakta sejarah Indonesia. Dan belakangan ini, -- memuakkan sekali, sampai-sampai Kejaksaan Agung ikut-ikutan, dengan keputusannya melarang buku-buku sejarah kurikulum 2004, yang tidak mencantumkan nama 'PKI' sesudah nama 'G30S'.


Harapan kita bertambah besar terhadap para sejarawan muda kita yang berani dan mampu menangkis 'brainwashing' Orba, antara lain setelah membaca tulisan-tulisan (Adam dan Bonnie). Lebih mengesankan lagi dari perkenalan pribadi dengan Aswi di Leiden beberapa tahun yang lalu, dan baru-baru ini pertemuan dan percakapan dengan Bonnie. Ketika  mendengarkan tuturnya mengenai pemahamannya tentang sejarah negeri dan bagsa kita. Di sini kiranya perlu disebut satu nama lagi dari generasi muda kita yang berusaha keras menyajikan fakta-fakta yang benar sekitar sejarah bangsa kita, seperti Lexi Rambadetta (dengan cameranya), dengan siapa baru ini saja aku terlibat dalam percakapan panjang lebar menyangkut masa kini dan haridepan Indonesia, serta peranan kaum muda di dalamnya.

 

Salam

IBRAHIM ISA Rabu, 04 APRIL 2007

Berikut simak wawancara Aswi dengan dua jurnalis TEMPO, Endri Kurniawati dan fotografer Bismo Agung, yang telah disiarkan oleh TEMPO dan mailist WAHANA, untuk kemudian disiarkan-ulang di bawah ini.

ISTILAH 'GERAKAN 30 SEPTEMBER' LEBIH OBYEKTIF

Asvi Warman Adam, Sejarawan

TANYA
: Istilah apa yang digunakan untuk menyebut pembunuhan enam jenderal pada 30 September 1965 ketika itu
JAWAB: Pada 1 Oktober 1965, istilah yang dipakai adalah "Gerakan 30 September". Tidak disingkat menjadi G-30-S, tapi ditulis penuh. Itu menurut dokumen yang dikeluarkan pada 1 Oktober. Dalam perkembangannya, bahkan 40 hari setelah peristiwa itu, Jenderal Nasution menulis buku yang diterbitkan Departemen Pertahanan berjudul 40 Hari Kegagalan "G30S". Istilah G-30-S itu dipakai sampai pertengahan Desember 1965. Pelakunya sendiri menyatakan Gerakan 30 September.

T :  Siapa pelakunya?
J : Untung, Latif, memakai istilah itu. Dalam dokumennya, Untung menggunakan istilah Gerakan 30 September.

T : Dokumen apa itu?
J : Dokumen yang mereka keluarkan pada hari pertama (setelah pemberontakan) yang menyatakan mereka membentuk Dewan Revolusi dan lain-lain. Tapi gerakan itu mereka sebut sebagai Gerakan 30 September. Setelah itu Bung Karno menggunakan istilah Gestok, Gerakan Satu Oktober. Itu ditandingi oleh Angkatan Darat dan kelompok Islam dengan istilah Gestapu untuk diasosiasikan dengan Gestapo (Nazi-Jerman). Tapi, kalau dilihat dari bahasa
Indonesia, itu kan kurang tepat. Sejak awal ada "pertarungan" antara Gestok dan Gestapu. Baru setelah 1966 dipakai istilah PKI.

T : Sejak Orde Baru berkuasa?
J : Ya, sejak Soeharto makin kuat kedudukannya dipakai istilah G-30-S/PKI. Alasan lainnya, ketika itu ada Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub). Yang diadili pertama kali adalah Nyono, Ketua CC PKI Jakarta Raya. Sejak itu dikaitkan (dengan PKI). Tapi kita tahu yang diadili bukan hanya pengurus PKI. Tapi juga perwira Angkatan Darat (AD), Angkatan Udara (AU), Wakil Perdana Menteri, dan Menteri Luar Negeri Soebandrio, yang bukan pengurus PKI, bukan anggota AD atau AU. Jadi ada empat kelompok yang diadili. Di pengadilan, pelakunya dinyatakan terbukti terlibat makar. Tapi tidak ada putusan Mahmilub yang menyatakan bahwa partai ini terlibat makar.

T : Dari semua istilah itu, istilah apa yang paling mendekati kenyataan?
J : Menurut saya, bukan paling mendekati kenyataan. Tapi paling obyektif secara ilmiah adalah berdasarkan pelakunya menyebut gerakan mereka. Seharusnya ditulis dengan lengkap "Gerakan 30 September". Tidak disingkat. Menurut saya, itu lebih obyektif, ilmiah. Istilah Gestok, sebutan Bung Karno itu, misalnya. Secara logis, kejadian itu tepat pada 1 Oktober. Pelakunya tidak menyebut demikian, tapi Gerakan 30 September.

T : Apakah penggunaan istilah G-30-S/PKI itu digunakan mendadak oleh rezim Orde Baru?
J : Tidak, tidak mendadak. Sejak 1966 ditulis G-30-S/PKI. Makin lama makin dikukuhkan. Pada 1990, ada museum pengkhianatan PKI di Lubang Buaya,
Jakarta, yang diresmikan Soeharto. Pada 1994, Sekretariat Negara mengeluarkan buku putih berjudul Pemberontakan Partai Komunis Indonesia. Makin lama makin dilestarikan mitos yang diiringi oleh pemberian stigma terhadap partai itu, orang-orang dan keluarga mereka, bahwa mereka melakukan pemberontakan.

T: Apakah sebagian besar pelaku pemberontakan berasal dari PKI?
J: Tidak. Tidak ada alasan yang jelas. Misalnya Soebandrio, apa alasan untuk menangkap dan mengadili dia? Dia bukan PKI. Saya melihat ini upaya menghancurkan orang-orang di sekeliling Bung Karno. Jika ini dilihat sebagai rangkaian kudeta merangkak, pertama untuk menghancurkan PKI sebagai pesaing AD yang paling kuat. Pada 1 Oktober, ada segi tiga kekuatan politik. Ada Soekarno, di bawahnya AD dan PKI. Dalam mengambil kekuasaan dari Bung Karno, PKI akan menyingkirkan pesaingnya. Karena sesudah PKI dibubarkan pada 12 Maret 1966, pada 15 Maret ada 15 orang menteri yang ditangkap, termasuk Soebandrio. Yang ditangkap itu menteri-menteri yang loyal terhadap Bung Karno, untuk melumpuhkan kekuatannya.  Sesudah 15 menteri ditangkap, Cakrabirawa--pasukan pengawal yang loyal kepada Presiden Soekarno yang kekuatannya sekitar 4.000-5.000 orang--dibubarkan dan dikembalikan ke induk pasukannya ke daerah. Kalau dianalisis dari kudeta merangkak, kelihatan masing-masing kekuatan yang mendukung dan dekat dengan Bung Karno itu dihancurkan.

T : Istilah apa yang paling banyak dipakai?
J : Pada 1965 belum ada istilah G-30-S/PKI. Yang ada "G-30-S" atau "Gerakan 30 September". Yang menonjol pada Oktober sampai Desember, koran-koran militer, seperti Berita Yudha, melancarkan kampanye hitam dengan cara menghancurkan Gerakan Wanita (onderbouw PKI). Ini cara paling mudah karena sulit untuk menghancurkan PKI yang sama-sama militan. Caranya dengan menyatakan anggota Gerwani melakukan tarian mesum di Lubang Buaya dan menyilet kemaluan para jenderal. Kampanyenya, menurut saya, sangat ampuh. Masyarakat akan berpikir perempuan kiri demikian kejamnya, apalagi yang laki-laki. Kampanye di masa berikutnya mereka dinyatakan anti-Tuhan.

T : Seberapa dominan kampanye itu menguasai buku sejarah atau media?
J : Sangat dominan. Pada 1 Oktober, semua koran dibreidel selama sepekan kecuali koran Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha. Koran-koran
kan sudah takut. Setelah terbit, mereka hanya mengutip berita-berita soal politik dari kedua koran itu. Sangat dominan. Berita tentang anggota Gerwani menyilet kemaluan para jenderal bukan hanya ditulis di Berita Yudha dan Angkatan Bersenjata, tapi juga diikuti oleh Duta Masjarakat, koran (milik) NU, dan Sinar Harapan (SH) (Protestan). Walaupun dalam berbagai kasus SH cukup independen. SH satu-satunya koran yang menulis tentang visum para jenderal yang tewas karena tembakan, tidak ada yang disilet kemaluannya. Soeharto tahu, tapi dia biarkan saja informasi itu.

T : Kalau yang tertulis dalam buku-buku sejarah?
J : Yang menarik sesudah 1965. Yang tidak boleh dipakai pertama kali adalah buku Sejarah
Indonesia tulisan Anwar Sanusi. Anwar yang ini adalah guru di Bandung. Buku ini terbit pada 1949 dan dicetak ulang terus sampai 1965. Ini membuktikan buku itu terpakai di sekolah meski (materinya) terbatas. Ceritanya tentang masa lampau. Bahkan (dalam buku itu) Buddha tidak dikenal, jadi Hindu saja yang ada.
Sejak peristiwa itu, buku ini dilarang. Alasannya, nama penulis buku ini sama dengan Anwar Sanusi yang CC PKI. Padahal ini Anwar Sanusi guru dan anggota Masyumi. Ironis, dilarang hanya karena namanya sama.

T : Sejak kapan G-30-S/PKI masuk buku sejarah untuk sekolah?

J : Sesudah peristiwa itu, saya tidak ingat persis tanggalnya pada 1966-1967. Kalau mau ke belakang lagi, pada 1964 terbit buku sejarah yang disusun oleh Front Nasional.

T : Siapa Front Nasional itu?
J : Kumpulan tokoh partai yang didominasi kelompok kiri. Dibentuk Bung Karno untuk "menyeimbangkan" kabinet dan parlemen. Sebetulnya nggak jelas kerjanya. Front membuat pengaderan, memberikan ceramah tentang revolusi. Kumpulan dari ceramah-ceramah itu diterbitkan menjadi buku yang judulnya Sejarah Revolusi.

T : Buku sejarah sumbernya ceramah?
J : Buku ini tidak untuk diajarkan di sekolah, tapi disampaikan kepada masyarakat semacam Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila untuk pengkaderan. Dalam buku itu, mereka bercerita tentang kejayaan
Indonesia masa lampau, tapi mereka tidak bercerita tentang revolusi di Indonesia. Mereka bercerita tentang perbandingan revolusi di Tiongkok, revolusi Vietnam. Nasution melihat pemberontakan Madiun nggak ada di situ. Seakan-akan peran tentara nggak ada. Yang ada hanya peran rakyat. Nasution membentuk tim beranggota dosen-dosen Universitas Indonesia, Nugroho Notosusanto dan kawan-kawan. Ini cikal-bakal Pusat Sejarah ABRI itu. Pada 1964 terbit juga sejarah Gerakan Angkatan Bersenjata RI, yang memperlihatkan keberhasilan tentara (menumpas pemberontakan). Nasution getol menggarap ini karena lagi nganggur. Sejak 1962, dia seperti "dipecat" jadi Kepala Staf AD oleh Soekarno. Ia dianggap bertanggung jawab atas meriam yang ditodongkan ke Istana. Tapi Bung Karno susah (mencari) penggantinya jadi dipanggil lagi.

T : Apa yang dilakukan Nugroho?

J : Setelah mendirikan Pusat Sejarah ABRI sekitar 1966, barangkali, yang pertama kali dibuatnya adalah membakukan sejarah ABRI. Berdasarkan standardisasi sejarah ABRI, dia mengajukan standardisasi sejarah
Indonesia. Ini diterima Kongres Sejarah Indonesia, tapi bukunya disusun pada 1974. Tim disusun untuk menulis sejarah Indonesia.  Bukunya enam jilid. Ada zaman purbakala, zaman Hindu, Islam, dieditori orang lain. Nugroho mengeditori soal Indonesia di masa kontemporer dan mencoba memasukkan kepentingan pemerintah waktu itu. Buku ini namanya buku babon.

T : Sengaja dipilih jilid 6?
J : Ya, paling strategis. Nugroho membuat ringkasan jilid 6 untuk buku SD sampai SMA. Isinya mengkultuskan Soeharto dan merendahkan Soekarno. Buku Sejarah Nasional Indonesia untuk SMP dan SMA itu dirujuk oleh buku-buku yang lain.
Ada sedikit variasi, tapi rujukannya itu.

T : Buku babon sudah mencantumkan istilah G-30-S/PKI?
J : Setahu saya sudah. Ditulis tidak hanya keterlibatan PKI saja, tapi juga keterlibatan Soekarno dalam peristiwa itu.

T : Bagaimana Soekarno terlibat dalam kudeta terhadap dirinya sendiri?
J : He-he-he.... B.M. Diah marah-marah ketika buku itu terbit. Dia menurunkan editorial beberapa hari berturut-turut menghantam Nugroho.
Ada sedikit perubahan, tapi tetap saja Soekarno dikecilkan. Nugroho juga menyingkirkan Soekarno dengan membuat konsep tentang hari lahir Pancasila.  Sejak dulu tertulis hari lahir Pancasila 1 Juni 1945 pada saat Soekarno pidato. Tapi, pada 1970, Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (dikomandani Soedomo) melarang. Seorang sejarawan Prancis mengatakan Soekarno dibunuh dua kali pada Juni 1970 itu. Ia dibunuh pemikirannya dan dibunuh pelan-pelan secara fisik.  Pada 1970 juga Nugroho mengeluarkan buklet tentang Pancasila. Dikatakannya, Pancasila merupakan hasil pemikiran nenek moyang kita dari dulu sampai sekarang. Yang tepat, hari lahir Pancasila itu 1 Agustus 1945 saat disahkan sebagai dasar negara. Sebelumnya, masih calon dasar negara (tertawa).

T: Usahanya komplet?
J :
Ada upaya sistematis sejarah digunakan sebagai kepentingan politik. Melalui buku, Pancasila, dan monumen yang dibuat untuk mengagungkan Soeharto. Monumen Serangan Umum 1 Maret dan diorama di Monas. Sebelum 1965, diorama Monas itu sudah dirancang. Hari lahir Pancasila pada 18 Agustus 1945 diubah pada diorama itu. Ganefo dihilangkan dari rancangan diorama yang jadi pada 1970 itu. Yang ditambahkan Supersemar. Digambarkan Soeharto terbaring sakit ketikatiga jenderal mendatanginya di rumahnya. Kesannya dia pasif dan tidak berambisi pada kekuasaan.

T : Apakah buku sejarah yang tidak merujuk pada buku babon semuanya dirombak?
J : Tidak dirombak karena sebelumnya memang tidak ada rujukan mana yang akan dipakai.

T : Adakah yang tidak merujuk pada buku babon?
J : Tidak berani. Bukunya Anwar Sanusi yang tidak ada persoalan dengan politik saja tidak dipakai lagi. Ini membuktikan orang tidak berani mencoba (menyajikan buku) yang lain. Jika ada yang berbeda akan dilarang.  Yang jelas pelarangan dilakukan terhadap buku Pemberontakan Partai Komunis
Indonesia, yang terbit pada 1994, dan buku Di Bawah Bayang-bayang PKI, yang diterbitkan Institut Studi Arus Informasi pada 1995.  Buku itu sebetulnya bercerita tentang versi lain selain dari PKI.

T : Buku babon menulis G-30-S/PKI?
J : Sudah G-30-S/PKI. Pelakunya satu-satunya PKI. Tidak versi lain, seperti ada CIA, Angkatan Darat, tidak ada.

T : Adakah pelanggaran dalam buku untuk SMP itu?

J : Ini upaya kembali ke masa Orde Baru yang mudah melarang buku. Kali ini dengan alasan yang tidak jelas, tidak logis.

T : Bagian mana yang tidak logis?
J : Buku untuk kelas I SMP dikatakan tidak mencantumkan pemberontakan pada 1948 dan 1965. Memang tidak dicantumkan karena masih menguraikan sejarah kerajaan di Nusantara. Buku kelas II tentang perlawanan rakyat terhadap kolonialisme juga dilarang. Ceritanya tentang Diponegoro, Imam Bonjol, dan sebagainya.

T : Apanya yang dianggap melanggar?
J : Ya, karena tidak memuat (pemberontakan 1948 dan 1965) itu. Tidak memuat karena waktunya belum sampai ke situ. Ini
kan aneh. Buku kelas III dilarang karena tidak mencantumkan PKI. Jadi hanya mencantumkan G-30-S saja. Ada beberapa buku yang begitu dan dilarang. Tapi beberapa buku lainnya, terbitan Grasindo, sudah menggunakan G-30-S/PKI, dilarang juga. Ini kan membingungkan. Tidak jelas pesannya. Saya melihatnya tidak profesional, tidak berdasar pelarangan ini. Apakah mereka membaca semuanya secara terperinci? Kalau dibaca terperinci, memang tidak dimuat karena masanya belum sampai ke situ. Kalau (buku-buku) ini dilarang, kenapa terjemahan Das Kapital yang ditulis Karl Marx tidak dilarang? Ini kan juga menyebarkan komunisme.

T : Sebaiknya bagaimana?

J : Kalau tidak mencantumkan PKI, kenapa bukan buku itu saja yang dilarang. Kenapa harus buku sejarah seluruh
Indonesia. Kenapa Menteri Pendidikan tidak memanggil Pusat Perbukuan yang bisa memberitahukannya kepada penerbit? Penerbit akan terikat kalau diminta mencantumkan istilah itu. Ini bisa diselesaikan di dalam.

-----------------

BIODATA
Nama: Asvi Warman Adam
Tempat dan tanggal lahir: Bukittinggi, 8 Oktober 1954

Pendidikan:
- DEA dan doktor di Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales Paris, Prancis, 1984-1990
- Sarjana Sastra Prancis, Universitas Indonesia, 1980
- Sarjana Muda Sastra Prancis, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 1977
- Sekolah Menengah Atas Don Bosco Padang, 1973
- Sekolah Menengah Pertama Xaverius Bukittinggi
- Sekolah Dasar Fransiscus Bukittinggi

Pekerjaan:
- Wartawan majalah Sportif, 1981-1983
- Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, 1983-sekarang
- Lektor bahasa dan sastra Indonesia di Institut National des Langues et Civilisation Orientales), Universite de la Sorbonne-Nouvelle, Paris, 1984-1986

Pengalaman:
Anggota Tim Pengkajian dan Pe