“… PERJUANGAN MELAWAN KEKUASAAN adalah PERJUANGAN INGATAN MELAWAN LUPA ..."

dhia_prekasha's posts with tag: orde baru

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag orde baru

27 JULI: HARI RAKYAT DIBANTAI

[INDONESIA-L] PUDI - Daulat Rakyat, (r)

From: apakabar@clark.net
Date: Sun Jul 20 1997 - 11:45:00 EDT


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.8.5/8.7.1) id OAA27445 for
reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Sun, 20 Jul 1997 14:45:01 -0400 (EDT)
Subject: [INDONESIA-L] PUDI - Daulat Rakyat, 21 Juli 1997

Forwarded message:
From
owner-indonesia-l@indopubs.com Sun Jul 20 14:42:16 1997
Date: Sun, 20 Jul 1997 12:33:01 -0600 (MDT)
Message-Id: <
199707201833.MAA22901@indopubs.com>
To:
indonesia-l@indopubs.com
From:
apakabar@clark.net
Subject: [INDONESIA-L] PUDI - Daulat Rakyat, 21 Juli 1997
Sender:
owner-indonesia-l@indopubs.com

INDONESIA-L

Date: Sun, 20 Jul 1997 13:15:57 +0700
To:
apakabar@clark.net
From: bintang <
bintang@dnet.net.id>
Subject: Daulat Rakyat 21 Juli 1997

 

DAULAT RAKYAT  Opini Rakyat Indonesia

Diterbitkan oleh Partai Uni Demokrasi Indonesia

Terbit setiap hari Senin
Edisi Senin, 21 Juli 1997

 

Pasal 28 UUD :
Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang.

 

27 JULI: HARI RAKYAT DIBANTAI

 

Sabtu pagi 27 Juli 1996 sekitar pukul 6.15 itu sebanyak tujuh truk berwarna kuning, mirip truk sampah, yang sarat dengan pemuda berkaos merah berhenti di depan kator DPP-PDI jalan Diponegoro.

 

Para pemuda berkaos merah bertuliskan "Pro Kongres Medan" itu segera turun, dan dengan bersenjatakan batu, pentungan dan senjata tajam segera melakukan provokasi terhadap Satgas PDI dari kubu Megawati yang sedang menjaga gedung DPP-PDI.

 

Para pendatang ini melempari Satgas PDI ini dengan batu. Di sini serangan yang pertama batu dimulai.

 

Lima belas menit kemudian, sekitar 500 personil dari pasukan anti huru-hara dengan peralatan lengkap, seperti tameng, tongkat dan tabung gas air mata tiba di tempat yang sama. Mereka membantu serangan batu terhadap gedung PDI ini.

 

Sepuluh menit kemudian tiba pula ratusan tentara yang dibantu oleh dua panser. Panser diparkir di bawah jembatan layang kereta api di belakang kantor Pos Polisi Megaria.

 

Pada sekitar jam 7.30, Kapolres Jakarta Pusat, Letkol (Pol) Abubakar Nataprawira mencoba menghentikan perang batu untuk bernegosiasi dengan para Satgas PDI. Tetapi perundingan gagal. Dua ambulans yang datang untuk mengangkut mereka yang terluka ditolak Satgas masuk halaman.

 

Serangan batu kedua dimulai pada jam 8.15. Kali ini hujan batu lebih hebat.

 

Pasukan anti huru-hara mulai merapat ke pagar tembok, dan dengan komando Dandim Jakarta Pusat, Letkol Jul Effendi, pagar bagian Timur berhasil dijebol dan masuklah "pasukan merah" ke dalam gedung. Maka terjadilah penyerbuan berdarah itu! "Genangan darah itu membuatku merinding. Jeri tangis dan lolongan serta permintaan tolong terdengar dari mereka yang terluka. Mereka menyebut-nyebut kebesaran nama Allah", seorang saksi menceritakan kembali apa yang dilihatnya.

 

Sekitar setengah jam kemudian tampak sejumlah Satgas PDI dan empat wanita yang selamat dari penyerbuan digelandang naik ke truk aparat. Sedangkan puluhan dari mereka yang terluka dan mati ditandu masuk ke ambulans polisi yang mondar-mandir datang dan pergi.

 

Seluruh peristiwa tersebut disaksikan oleh belasan wartawan yang memang sudah bertahan semalaman sebelum penyerbuan. Tetapi mereka diusir oleh aparat menjelang saat-saat penyerbuan, sehingga akhirnya mereka hanya bisa menyaksikan dari jarak ratusan meter di bawah jembatan layang kereta api.

 

Setelah peristiwa penyerbuan berdarah itu, secara berangsur-angsur ratusan masa mulai berdatangan dan terkonsentrasi di pertigaan Megaria. Mereka tidak saja dari para anggota dan simpatisan PDI, tapi juga para pemuda dan pelajar, mahasiswa, aktivis LSM, buruh, pedagang kaki-lima an penduduk biasa lainnya.

 

Mereka inilah yang selama Mimbar Bebas yang digelar sebulan penuh sebelumnya berkerumun di sekitar Gedung DPP-PDI. Mereka meneruskan Mimbar Bebas di bawah jembatan layang, dan berpidato mengecam penyerbuan berdarah itu.

 

Situasi semakin memanas dengan semakin banyaknya masa yang berkumpul. Ratusan tentara akhirnya diterjunkan pula di sekitar lokasi dari arah Bunderan HI dan Cikini.

 

Pada sekitar jam 14.00 Bambang Widjojanto, Ketua Dewan Pengurus YLBHI, RO Tambunan, Ketua Tim Bantuan Hukum PDI-Megawati, serta Soetardjo Soerjogoeritno dari DPP-PDI tampak keluar dari gedung YLBHI menuju ke gedung DPP-PDI untuk berunding dengan pihak aparat.

 

Belum lama perundingan dimulai dengan pihak Kapolres, tiba-tiba Letkol Jul Effendi meneriakkan "Majuuu!" sebagai perintah bagi anak buahnya untuk maju. RO Tambunan berusaha mencegah, tetapi Jul Effendi tidak peduli, bahkan memberi komando: "Serbuuu!" ke arah kerumunan masa.

 

Ratusan tentara menyerbu ke kerumunan ratusan rakyat! Setelah itu terjadilah malapetaka kedua! Kerumunan masa berhamburan dan tubuh-tubuh bergelimpangan jatuh di jalanan. Masa rakyat yang masih sempat berlarian ke arah Salemba , Matraman dan Cikini di sepanjang jalan Diponegoro dan jalan Proklamasi.

 

Para tentara yang masih kelihatan muda-muda itu dengan kalap mengejar,  menyerang dan menganiaya setiap otrang yang terkejar. Mereka tidak peduli dengan siapa saja yang mereka temui, pemuda, mahasiswa orang yang sedang berjalan, tukang-tukang warung, pedagang kaki lima dan semua orang yang dijumpai di jalanan.

Dengan mata beringas mereka berteriak-teriak histeris menghujat PDI dan Megawati dengan kata-kata kotor sambil mengayunkan pukulan dari tangan dan kaki mereka.

 

Setengah jam kemudian mulai terdengar ada letusan dikejauhan. Asap hitam kelihatan membubung tinggi di arah Salemba. Ada bus yang dibakar di depan RSCM Tjiptomangoenkoesoemo. Gedung pertanian dibakar pula. Rupanya di daerah Salemba dan Matraman terjadi pula konsentrasi masa. Rakyat bertahan di sana.

 

Para tentara terus mengejar. Apa yang terjadi kemudian adalah amukan masa. Meskipun beberapa gedung dan puluhan kendaraan terbakar, yang nantinya melahirkan berbagai teori siapa pelaku yang memulai pembakaran itu, tetapi sampul majalah TIME dan The Economist dengan jelas memperlihatkan foto seorang pemuda yang sedang melemparkan bom molotov dari tangan kanannya, tetapi dengan menggenggam sebilah sangkur militer di tangan kirinya.

Baru tiga bulan kemudian, 12 Oktober, Komnas HAM muncul dengan laporan finalnya tentang korban yang jatuh: 5 tewas, 23 hilang, dan 149 terluka. Sampai hari ini tidak diketahui nasib 23 orang yang hilang itu. Sangat diduga mereka telah tewas dan dikubur entah di mana.

 

Tentu saja angka korban Peristiwa 27 Juli itu sangat kecil dibanding dengan penyerbuan yang brutal dari para militer kita di Peristiwa Tanjung Priok (1978), Peristiwa Lampung (1989) dan Peristiwa Santa Cruz (1991) serta banyak peristiwa lain. Tidak saja orang-orang dewasa yang terbunuh dalam peristiwa kebrutalan militer itu, tetapi juga wanita, anak-anak, dan bahkan bayi pun ikut dibantai dengan cara yang amat keji.

 

Rakyat Indonesia tidak akan pernah lupa atas berbagai peristiwa pembantaian oleh militer terhadap rakyat kecil sipil Indonesia yang sekedar menuntut-hak-hak mereka yang asasi itu.

 

Kejadian demi kejadian itu jelas merupakan pelanggaran terang-terangan atas hak-hak rakyat untuk hidup secara merdeka dalam alam Indonesia merdeka di mana rakyatlah yang berdaulat. Kita semua masih ingat akan cita-cita kemerdekaan, terlebih-lebih karena itu tertulis jelas dalam Mukadimah Konstitusi:

 

". . . . Kemudian daripada itu, untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. . . ."

 

Untuk mengingat kembali tumpahnya darah rakyat dalam alam kemerdekaan ini, maka dengan ini kami, atas nama rakyat Indonesia, menetapkan 27 Juli sebagai Hari Rakyat Berkabung Nasional. Itu adalah tragedi nasional yang tidak boleh terulang kembali.

 

Tentu saja berbagai peristiwa di mana ribuan rakyat kecil terbantai sebelum itu jauh lebih besar dan hebat daripada Peristiwa 27 Juli itu sendiri. Kami tidak ingin memperkecil makna peristiwa-peristiwa sebelumnya.

 

Bahkan dalam Peristiwa Lampung hingga sekarang, selain ratusan dari mereka yang terbantai, masih puluhan dari mereka yang dituduh "mendalangi" peristiwa itu mendekam di penjara-penjara di Indonesia. Di antara mereka ada yang harus mendekam dalam penjara seumur hidup di Nusa Kambangan, tanpa mendapat grasi. Ketika mereka harus masuk penjara banyak di antaranya masih usia kurang dari 20 tahun. Padahal dalam peristiwa 27 Juli 1996, tidak ada satupun yang sekarang masih meringkuk di penjara.  

 

Kami tidak bermaksud memperkecil makna peristiwa-peristiwa sebelum itu. Kita hanya tidak ingin peristiwa pembantaian terhadap rakyat kecil itu terulang kembali setelah tanggal 27 Juli 1996 itu.

Kalau suatu ketika nanti, tanggal 7 Februari akan dinyatakan sebagai Hari Jihad Nasional untuk memperingati Peristiwa Lampung; atau ada hari khusus untuk memperingati Peristiwa Tanjung Priok dan Santa Cruz, kami akan mendukung pula.

 

Jakarta, 18 Juli 1997

Daulat Rakyat: Edisi 21 Juli 1997

 

27 Juli 96 Saat Pendukung Megawati Sukarnoputri Ditindas

http://www.youtube.com/watch?v=g09owmdU50g&feature=related

 

<object width="425" height="355"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/g09owmdU50g&hl=en"></param><param name="wmode" value="transparent"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/g09owmdU50g&hl=en" type="application/x-shockwave-flash" wmode="transparent" width="425" height="355"></embed></object>

 

Riots in Jakarta against Suharto dictatorship imposing own leader on Democratic Party on July 28, 1996.

 

 


A.Kohar Ibrahim: Kreasi Opini & Puisi Layak Kaji

                                                           

             

         

          

         

 

 

 

 

 

 

 

Indonesiancommunity    

 

    Kreasi Opini & Puisi Layak Kaji   oleh :  Ibrahim Abdul Kohar

http://indonesiancommunity.multiply.com/reviews/item/192 

Category :             Other:                                                                                   

Sekitar Aktivitas Kreativitas Tulis Menulis Di Luar Garis (10)
Oleh: A.Kohar Ibrahim

*     Aku melawan malam,

memusuhi kelam
yang menyembunyikan wajah wajah jelek
yang menyuburkan kebejatan
yang mengaburkan kemunafikan


(HR Bandaharo)


*     Geguritan iki mung aweh kabar

ing njaba bathang bosok pirang-pirang
apa irungmu ora mambu
thok! thok! thok!
sing teka aku kanca
lawangmu ngakna

(Widji Thukul)

* 


KREASI N° 3 Tahun 1989 tebalnya 88 halaman berisi prosa dan puisi, dengan kreasi opini yang dominan kebanding sajak-sajak. Namun demikian, tak urung akan makna pentingnya dalam mengutarakan peran para penyair, istimewa sekali kehadiran penyair rakyat bernama Widji Thukul. Pertanda memang sudah sejak pada awal mula aktivitas-kreativitasnya kami turut menyambut sekaligus menghargai kehadirannya.

"Dihadapan kreasinya seorang seniman telanjang bulat -- kata pribasa yang berdasarkan kenyataan kerja. Perbuatan," tulis saya selaku Penyaji pada halaman Sekedar Pengantar. "Sesungguhnya itu berlaku bagi siapa saja. Sekalipun terhadap seniman cepatnya reaksi

atas aksi (aktivitas dan kreativitas) seringkali lebih menonjol dan tak terhindarkan. Sekali

pun berupa cemoohan. Besar kecil, banyak sedikit, tinggi rendah mutu kreasi pasti menjadi dasar penilaian. Publikasi sebagai kemestian. Sedangkan pambalonan atau kongkalingkong kariris tak akan dapat bertahan dalam ujian kenyataan dan kebenaran." (hlm 2)

Itulah makanya semboyan "menyambut menghargai menyebarluaskan kreasi" kita lancarkan atas dasar kerja dan kreasi kongkrit, dengan semangat berdikari dan kesetiakawanan. Sebagai suatu usaha yang bertentangan dengan usaha pembual, penghina, pembungkam, pembendung dan penumpas kreativitas budaya manusia.


Bagi para kreator dan aktivis tanpa pamrih sesungguhnya celotehan "yang diam diam bukan berarti tak bekerja" itu tak ada artinya. Kerna aktivitas dan kreativitasnya bicara dengan sendirinya. Selain yang "tempo doeloe", apa dan bagaimana selama lima tahun? Sepuluh tahun? Seperempat abad (!) terakhir ini? Dalam pengekangan, pengejaran, pemenjaraan dan kesulitan lainnya atau di bawah ketiak yang memiliki kekuasaan dengan segala fasilitas atau hak-hak istimewanya?

"Selama hampir seperempat abad", tulis saya lebih lanjut dalam Sekedar Pengantar tertanggal Erobar Oktober 1989 itu, menggaris-bawahi, bahwa, "kekuatan gelap di negeri kita tak henti-hentinya melakukan tindakan biadab. Dari sekitar terjadinya kudeta militer dengan pembunuhan massal dan kamp-kamp konsentrasi bagi Tapol sampai pada suasana teror seperti "bersih lingkungan" yang antara lain tercermin dalam heboh "Kias-Bagong" dan penjara bagi penyebar buku Pramoedya. Selama itu bermunculan berbagai sikap terhadap Orba. Ataukah sikap yang mem-Bagong ataukah yang mem-Pramoedya: dengan berbagai nuansanya. Ada yang seperti bunglon atau menurut istilah Pram sebagai "kutu lompat". Pokoknya asal selamat dan untung bagi diri sendiri. Ada pula yang melagak seperti Bagong itu. Visinya persis seperti katak dalam tempurung demi kepuasan selera oportunisnya: abs -- asal bapak senang! Maka melontarkan fitnahan ke alamat mereka yang dianggap lawan merupakan kewajiban.

"Seorang Jenderal pernah bilang bahwa fitnahan itu lebih jahat dari pembunuhan," lanjut saya, pada hlm 3, tanpa menyebut nama sang jenderal yang sebenarnya adalah Jenderal A.H. Nasution, seraya menegaskan: Dalam kenyataannya, tanpa fitnahan yang diiringi pengejaran, penangkapan, penyiksaan, pemenjaraan serta pembunuhan massal atas kekuatan rakyat yang tak berdosa itu kekuasaan Orba tak mungkin tegak. Dengan bertopeng kebaktian dan dengan menggunakan gada negara!

Sungguh! laknatlah para pemfitnah, pembungkam dan penindas! Celaka pula yang membungkam membelenggu diri dan berjiwa budak serta mereka yang mencoba-coba melupakan malapetaka yang menimpa rakyat Indonesia selama seperempat abad. Tak bisa! Selama kita berdiri di barsian penentang kegelapan dan menyambut datangnya Fajar. Sebagai saksi sekaligus spenggugat. Biar algojo-algojo itu telanjang bulat di depan pengadilan rakyat yang bersejarah. Tanpa topeng tanpa senjum di muka mereka." (hlm 3)


*
  B. Resobowo Menjawab Bagong

JIKA ada salah seorang seniman senior yang kompeten bicara soal kenalan lamanya di bidang senirupa adalah Basuki Resobowo. Seperti tentang Affandi. Segera setelah mengetahui ada orang ngomong serampangan mengenainya, Resobowo bersuara. Termuat dalam brosurnya yang berjudul "Jawaban teradap kecaman Bagong Kussudiardjo."

Demikian alinea pertama "Catatan & Berita Budaya" Kreasi nomor 3 1989 yang merupakan rubrik D. Tanaera alias A. Kohar Ibrahim (hlm 4--15), demi mengangkat-ungkap opini penting sang pelukis senior yang terkandung dalam karya tulisnya dalam bentuk brosur yang langka lantaran keterbatasan oplah penerbitannya.

Brosur itu memuat beberapa kutipan majalah dan koran Indonesia dalam bulan April yang lalu (1989, AKI) -- menyiarkan protes, kecaman dan fitnahan dari Bagong atas beberapa seniman rakyat Indonesia seperti Hendra, Djoko Pekik dan Lian Sahar. Menurut rencana, mereka akan diikutsertakan dalam pameran kebudayaan di AS (KIAS). "Dulu mereka itu pengkhianat bangsa, kok sekarang mau enak-enak menikmati kelonggaran," kata penari sekaligus pelukis itu.

Dalam heboh itu terkaitlah nama tokoh-tokoh yang terkemuka di bidang senirupa Indonesia seperti Affandi dan Soedjojono. Terdapat suara sumbang mengenai mereka. Khususnya mengenai Affandi, bahkan puterinya Kartika yang juga pelukis, mencoba "membela" bapaknya. Dia menyatakan bahwa Affandi sama sekali bukan anggota Lekra.

Hidup di dalam rumah kaca maka usaha Kartika itu cuma akan menerbitkan senyum sinis Pak Kamtib atau Pak Bakin. Kerna aktivitas dan kreativitas Affandi dizaman Orla cukup terdokumentasi dan gamblang. Resobowo menilai kenalan lamanya itu sebagai nestor dan mentor dari perkembangan seni lukis yang berwatak Indonesia modern. Suatu penilaian yang penuh kesungguhan, kerna memang sesungguhnya baik Affandi dan Soedjojono maupun Resobowo, ketiganya merupakan perintis dari gerakan kebudayaan rakyat Indonesia.

Mengenai Bagong, Basuki Resobowo menilainya baik sebagai penari maupun pelukis dia seorang seniman yang tak mampu melahirkan gebrakan baru dan berperilaku penjilat. Memang Bagong sendiri menyatakan: "Saya ingin mrngikuti anjuran pejabat tinggi untuk tidak mentolerir Komunis."

Menurut Resobowo, Bagong terlalu gegabah, besar mulut tapi pengecut yang bersembunyi di bawah ketiak yang berkuasa, melontarkan tuduhan yang sekaligus juga hukuman terhadap Lekra sebagai "pengkhianat bangsa". Kerna, jika dikaji dengan jujur berdasarkan fakta-fakta, maka terbukti yang mengkhianati bangsa Indonesia adalah mereka yang menumbangkan rezim Sukarno.


*  Magusig O Bungai Bela Lekra Kecam Orba

PERTENGAHAN tahun 1989 kita terima "Serie Pers Alternatif" nomor 1 dan 2. Lagi suatu inisiatip yang menggembirakan dalam situasi sekarang ini. Oleh siapa dan di mana pun juga, segala usaha demi membangkitkan kesadaran massa mesti kita sambut. Demikian baris-baris kata lanjutan rubrik "Catatan & Berita Budaya" (hlm 6).

Kedua nomor itu memuat tulisan Magusig O Bungai. Yang pertama berjudul "Bukan kejahatan dan tidaklah nista menjadi anggota Lekra dan simpatisannya"; sedangkan yang kedua "Politik kebudayaan Orde Baru dan pembangunan kebudayaan nasional". Dalam yang pertama, sebagaimana Basuki Resobowo, Magusig juga bersuara untuk membela Lekra dan membantah tuduhan Bagong dengan menempatkannya pada posisi sebenarnya. Dalam nomor 2, dikecamnya politik kebudayaan Orde Baru yang tidak konstitusional, sangat subyektip sehingga menimbulkan dampak-dampak merusak terhadap kehidupan kebudayaan.

Mesikpun bukan tergolong seniman senior seperti B. Resobowo, Magusig O Bungai adalah salah seorang seniman rakyat yang telah banyak mengenyam asam garam dan lincah di masa kiprah budaya dahulu. Dia tahu apa yang dikemukakannya, termasuk perihal seorang macam Bagong.

Kita akan perlakukan sumbangan pikirannya yang berharga itu dengan sepantas-  pantasnya.


* 
Komentar Popo Iskandar

MENGENAI KIAS yang menghebohkan itu, kiranya patut dicatat komentar salah seorang sarjana sekaligus spelukis Popo Iskandar. Termuat dalam Majalah Tempo 12 Agustus 1989. Dia menekankan keharusan memanfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya. Dengan menunjukkan arti penting publikasi. Sebab, hal itu merupakan hidup-mati seni modern.

Sejak ribut-ribut ada atau tidaknya "cap Indonesia" pada seni lukis Indonesia sampai ke gagasan pameran KIAS itu, kata Popo, masalah-masalah lama yang tidak terselesaikan secara tuntas masih tetap saja menghantui. Terkatung-katungnya masalah ini lebih banyak disebabkan sebagian seniman kita kurang menghayati perkembangan seni modern secara menyeluruh.

Menurut Popo, kepekaan seniman Indonesia terlalu emosional dalam menanggapi komentar orang lain. Baginya, seniman bukanlah peragawan yang selalu harus dapat menanggapi dan menghayati seni yang dia sandang. Bagi peragawan, cemoohan adalah suatu kehancuran. Bagi seniman, cemoohan adalah tantangan yang harus diungguli.

Meskipun cuma 5 musium dari 30 musium yang dijajaki bersedia menampung pameran KIAS dan adanya usul-usul agar rencana itu dibatalkan saja, dengan alasan akan menjadi bahan lelucon yang memalukan bangsa, Popo berpendapat resiko apapun mesti dihadapi dan diatasi demi kesempatan yang langka itu. "Seni modern berkembang, dan akhirnya mendapatkan apresiasi melalui cemoohan" kata Popo. "Sejarah seni bukan perkembangan dalam arti penimbunan kumulatif dari penemuan dan pemikiran yang berkesinambungan seperti halnya ilmu pengetahuan, tetapi merupakan mararantai tak berkesudahan antara aksi dan reaksi."


*
  Senirupa Jakarta


RESMI dan bukan resmi, di ruang pameran seperti lazimnya atau di pasaran, di ruang sekolah, kantor-kantor dan sebagainya para kreator seni rupa Indonesia menurut kemampuannya masing-masing terus berusaha memamerkan kreasi mereka. Selain ada yang mampu tampil dengan pameran tunggal, tapi juga seringkali dalam pameran bersama. Untuk memecahkan berbagai problim, mereka berusaha mendapatkan sponsor dan bergabung dalam koperasi-koperasi. Seperti Koperasi Seniman & Perajin (Kopsera).

Sebagian kecil pelukis Indonesia telah berhasil dalam eksistensi mereka dengan menikmati hasil kreasinya, namanya mencuat. Tapi sebagian besar mesti terus bertarung untuk mengatasi seribu satu kesulitan. Sama halnya di bidang-bidang kesenian lainnya.

Sejumlah kreator seni rupa yang menampilkan diri di Jakarta dalam kondisi demikian antara lain tercatat nama-nama lama dan baru seperti: Adi Munardi, Adhy T, Agus Salim St, Agus Djaja, Abdulrachman, Amrus Natalsya, Arsono RM Suarso, Astari Rasyid, Aswir Azhari, Bramasto, Bambang Aryanto, Bernali Pulungan, Budi SR, Dimaz Pras, Dwidjo Widiyano, Djen Arip, D. Panulu H., Dede Eri Supria, Gulton, G.M. Sudarta, Godod Sutejo, Hardi, Hary Prakosa, Harry Susanto, Harry Pribadi, Harlim, Hatta Hambali, Hardjanto, Henky, Herry Mujiono, Hasto Prasojo, Irsam, Ibnu Nurwanto, Imam Subekti, Idran Yusuf, Kartini Basuki, Kismono, Lim Tek Lam, Lugiono, Mansjur, Moelyadi, Mustika, Muryoto Hartoyo, Nunung Ws, Nashar, Nanang Sukmara, Nordono, Nisan Kristiyanto, Otto Djaya, Rabet MS, Suparto, Salim M, Sampurno, Sukamto DS, Sarnadi Adam, Sorentoro, Samudra, Sri Warso Wahono, Semsar Siahaan, Sri Hartono, Simon Simorangkir, Suhartono H, Siti Roelijati S, Siti Adiati, Sigit Setiarso, Supriyadi, Sugiarto, Sunandar Agus, Sukaptiyanto, Sudarwoto, Sudaryono S, Sedijadi, Syawalludin MG, Tantio Adjie Ar, Tarmizi Firdaus, Titiek Sunarti, Ugo Haryono, Wahyoe Wijaya, Wiwiek Y, Zaenal Ahmad, T. Ginting S., T. Komara, Kidro, Erman S, M. Ismail, B. Suwarto, Studio Grafisia.


*
  Penjara Bagi Intelektual Muda BBB

KATAKANLAH merah merah putih putih. Menyatakan merah putih sebagai warna tanah air. Kata seorang penyair dalam menyanyikan kebenaran dari kenyataan. Tapi memang ada konsekwensinya -- bukan bagi penyair atau sastrawan belaka, tapi juga bagi yang awam.

Begitulah resiko yang ditanggung oleh Bambang Isti Nugroho dan Bambang Subono. Kedua mahasiswa itu dituntut hukuman 10 tahun penjara oleh aparat pengadilan Orba di Yogyakarta lantaran menyebarkan buku terlarang karya Pramoedya Ananta Toer dan mengetengahkan buah pikiran mereka dalam diskusi mengenai situasi Indonesia yang diselenggarakan oleh Kelompok Studi Sosial Pelagan. Aktivitas itu dianggap subversiv, kerna adanya konstatasi bahwa pendidikan di Indonesia cenderung menjadi elitis dan tidak demokratis, kondisi wanita pedesaan adalah paling jelek kebanding di kota-kota, perkembangan ekonomi belum sampai pada anggota masyarakat yang paling miskin, sistim pemerintah tidak demokratis dan terdapat jurang perbedaan antara yang miskin dan yang kaya yang sering menyebabkan problim sosial.

Bambang Isti Nugroho dan Bambang Subono ditangkap bulan Juni 1989, seorang intelektual muda lainnya bernama Bonar Tigor Naipospos juga ditangkap. Dalam kaitan tuduhan sama.

Betapa tegarnya kebenaran itu! Sehingga untuk melindungi kemunafikan dan kepalsuannya rezim Orba mesti selalu menggunakan pentung garda negara!


* 
Tas Pilihan Putu Oka Sukanta

TAS Pilihan Putu Oka Sukanta (terbitan Stichting Budaya Amsterdam 1989) berisi sebuah cerpen dan sekumpulan sajak yang kami pilih secara subyektip. Sebagai sambutan kami ala kadarnya atas kreativitas luarbiasa seorang seniman yang telah memberikan sumbangan berharga pada khasanah kebudayaan Indonesia dan yang tahun ini mencapai usia setengah abad.

Putu Oka Sukanta lahir di Singaraja, Bali, pada 29 Juli 1939. Sejak masa remaja telah menulis sajak dan cerpen. Mula-mula di suratkabar daerahnya, lalu di berbagai suratkabar dan majalah Yogyakarta, Semarang dan Jakarta. Sejumlah karyanya telah diterjemahkan kedalam bahasa Belanda, Jerman, Perancis, Inggris, Rusia dan Cina. Buku-bukunya yang sudah terbit: I. Belog (1980, kumpulan cerita anak-anak Bali), Selat Bali (1982, kumpulan sajak), Salam (1985, kumpulan sajak), Tembang Jalak Bali (1986, kumpulan sajak), Tas (1986, kumpulan cerpen) dan Luh Galuh (kumpulan cerpen).

Selain kritikus dalam negeri, juga kritikus luar negeri seperti Keith Foulcher dan David T. Hill telah menghargai sepantasnya kreasi Putu Oka. Sedangkan seorang penyair terkemuka Malaysia Usman Awang menyatakan, bahwa "Meskipun kebanyakan puisi Putu Oka begitu pribadi sifatnya, namun segala pengalaman yang dituangkannya tetap mempunyai hubungan kaitan dengan kehidupan yang lebih luas, sehingga pembaca sama merasakan kehinaan, sama merasakan kepedihan, dan sama pula menumpang harapan."

Selain menulis Putu Oka juga aktip di teater dan deklamasi. Sebagai deklamator terbaik di Bali pada tahun 1958, pemenang II dalam lomba bercerita Dongeng Lingkungan Hidup Jakarta. Karenanya ia sempat diundang untuk mengikuti Popular Theater Workshop di Srilangka pada tahun 1982 dan di Bangladesh pada tahun 1983. Pada tahun 1985 ia memenuhi undangan Dewan Bahasa dan Pustaka Kuala Lumpur untuk membacakan sajak-sajaknya. Dalam tahun itu juga ia diundang untuk selain berceramah tentang sastra Indonesia juga membacakan sajak-sajaknya di beberapa universitas Australia. Sedangkan di Jakarta, ia telah beberapa kali membacakan kreasinya di Goethe Institut.

Seniman Indonesia yang telah dan terus menghasilkan kreasi bermutu tinggi ini adalah seorang yang tangguh sekaligus berperasaan halus. Seperti halnya Pramoedya, Banda, Apin, Hersri dan banyak seniman rakyat lainnya, Putu Oka juga pernah menghuni Hotel Prodeo Orde Baru. Selama 10 tahun! Lembaran sejarah hidupnya yang istimewa itu mempunyai pengaruh besar dalam aktivitasnya secara umum maupun dalam kreativitas seninya. Hal mana dapat kita cicipi isi Tas Pilihan ini.

*  JORIS IVENS

JIKA dalam abad Ke-XX ini ada orang Belanda yang karena aktivitas dan kreativitasnya dijuluki Pelanglang Buana, seniman berkaliber raksasa yang berjiwa luhur maka tak lain kecuali yang bernama Joris Ivens.

Sampai usia 91 tahun Ivens masih aktip dan peredaran filmnya yang terbaru merupakan suatu evenement. Judulnya "Une histoire de vent", Kisah Sang Bayu. Suatu kreasi yang cemerlang dan puitik serta mengandung arti mendalam.

Sebelum itu, Ivens telah menyutradarai berpuluh-puluh film. Tersebar di seluruh dunia. Temanya aneka ragam. Diantaranya berjudul Jembatan, Pemecah, Hujan, Nyanyian Pahlawan, Indonesia Calling, Persahabatan dan seterusnya.

Pelanglang buana kelahiran Nimegen ini kehidupannya merupakan legenda. Kenal Berlin di zaman Bauhaus, Brecht, Murnau dan Frits Lang. Pernah bermukim di rumah Eisenstein dan menyelami Moskow di waktu malam bersama generasi yang merupakan avantgarde revolusi dunia. Pada tahun 1938 dia mengirimkan sebuah kamera untuk pasukan Mao Zedong agar supaya Long March terabadikan. Dan seribu satu macam kisah lainnya lagi. Seperti "Indonesia Calling" yang merupakan bukti sikap perbuatannya yang tepat terhadap rakyat Indonesia yang berjuang melawan penjajahan demi kemerdekaan. Dengan konsekwensi dikecam sebagai pengkhianat bangsa dan paspornya dicabut oleh penguasa kolonial Belanda waktu itu.

Dari pengalamannya yang kaya, saksi dari konflik-konflik di dunia dalam abad Ke-XX ini, terkesan bahwa Joris Ivens adalah seorang yang amat optimis. Tapi dia sendiri bilang sesungguhnya dia tidak terlalu optimis. Buktinya dapat disimak dalam film terakhirnya itu. Lelaki tua dalam film itu berkata bahwa hidup di zaman ini bisa cukup mengandung arti asal saja orang mampu mencengkam arti suci-nya, keselarasan antara manusia dengan langit, dan yang terutama sekali percaya pada kekuatan diri sendiri serta berani menerima resiko bagi pelaksanaan cita-citanya sampai akhir...

"Kalau saya bilang 'ke-suci-an' itu janganlah dihubungkan kata ini dengan keagamaan dengan fanatismenya yang merupakan teror itu," ujar Ivens. "Angin sejarah mendorong ummat manusia maju. Dalam hal ini saya seorang yang optimis: manusia telah maju sejak hidupnya dalam gua-gua. Manusia selalu membakar buku-buku, membakar manusia, namun perlahan-lahan, manusia menuju kearah lebih baik. Abad Ke-XXI akan lebih baik daripada abad Ke-XX. Mungkin manusia mengertilah bahwa sesuatu hal yang besar di dunia ini bukanlah ilmu belaka. 'Sesuatu' itu adalah hubungan kosmologis. Kini manusia berkemampuan banyak, hampir keterlaluan: terdapat kekosongan antara ilmu dan kondisi sosial. Kekosongan ini mesti diisi dengan seni dan budaya. Jika hal ini dimengerti orang, maka segalanya akan baik. Jika tidak, saya kira, konsekwensinya akan menyedihkan."

Pada tanggal 28 Juni 1989 Joris Ivens Pelanglang Buana, seniman humanis berkaliber raksasa wafat dengan meninggalkan warisan kreasinya yang tak ternilai. Hidupnya sungguh mengandung arti mendalam.


*  G. SIMENON

SENIMAN kaliber raksasa universal lainnya meninggal dunia tahun ini, pada tanggal 4 September, bernama Georges Simenon. Kreasi yang diwariskannya sebanyak 500 judul buku dengan oplah 500 juta (setengah milyar !) eksemplar. Seratus dua belas judul ditandatangani dengan nama aslinya, selebihnya dengan nama samaran sebanyak 20-an. Selain telah diterjemahkan kedalam seratusan bahasa, banyak pula yang telah diadaptasi kedalam bentuk seni film.

Pengarang yang menjalani hidupnya selama 86 tahun itu dilahirkan di Liege, Belgia. Pada usia 13 tahun dia berkenalan dengan kreasi pengarang terkenal Rusia seperti Gogol, Dostoievski, Tchekov dan Gorki. Usia 16 tahun telah menulis selaku wartawan "Gazette de Liege". Tahun berikutnya melahirkan romannya yang pertama. Daya imajinasinya amat hebat. Dia mampu menyelesaikan buku setebal 80 halaman dalam 3 hari. Malah ada masanya menulis 8 kisah tiap hari. Dia konsisten pada motip kepengarangannya untuk "memahami manusia sebagaimana adanya". Dan mendapat julukan "Balzac di Abad Ke-XX". Salah seorang penelaah kreasinya, Georges Steiner menyatakan, "satu-satu-nya pengarang roman yang dapat menandingi raksasa-raksasa di abad Ke-19 adalah Georges Simenon. Roman-romannya merupakan sejumlah pengalaman manusia yang sedemikian rupa, hingga seandainya bisa selamat dari malapetaka bom atom, maka para sejarawan di masa datang, dengan menelaahnya tak akan terlalu keliru dalam memahami mentalitas dan kehidupan manusia di zaman kita."


*  Kreasi Puisi Malam Bintang Di Hatiku Tak Bisa Lupa Kedung Ombo

KREASI puisi nomor 3 1989 ini antara lain menyajikan sajak-sajak berjudul "Tak Bisa" Suprijadi, "Bintang Di Hatiku" Z. Afif, "Malam" HR Bandaharo dan sajak "Kedung Ombo" Nusantari yang menggemakan kesan sarat akan pesan bagi pembaca yang memiliki daya apresiasi kesusastraan yang signifikan (hlm 16--21).

  *  Malam

Oleh: HR Bandaharo

aku melawan malam, memusuhi kelam
yang menyembunyikan wajah-wajah jelek
yang menyuburkan kebejatan
yang mengaburkan kemunafikan.
aku membenci malam
bila anjing-anjing melolongi langit
selagi bintang-bintang gemerlapan.

malam dan kegelapan
sama dengan pemalsuan.
penyulapan putih menjadi hitam
penyajian mesum sebagai suci
pengkhianatan sebagai bakti
yang palsu sebagai yang sejati.

tapi akupun dilahirkan malam
ketika kelam menyelimuti kekasih berpelukan
dan kerinduan mendengus kepuasan.
malam seperti ini menjadi teman
ketika pikiran menjusupi jalan-hidup
yang ditempuh -- larut dalam kenangan.
bila kemilau bintang-bintang menjadi redup
kumbang bercumbu berhenti berdengung
nyamuk-nyamuk kekenyangan menggelimpang tiada berdaya
aku lena tertelungkup --
air-liurku membasahi lembaran-lembaran kafka
dan embun subuh membasahi kawat-duri.


*  Bintang Di Hatiku

    Oleh: Z. Afif

ada bintang berenang di hatiku
kala kelam menekuk-nekuk
tahukah kau
bintang itu bisa memilih pihak
?                    

*  Hdup Ini Tantangan Memang

hidup ini tantangan memang
menyerah
raga hina jiwa
berlawan
bebas untuk membebaskan!

hidup ini tantangan memang
pada pilihan tempat tegak
jelas sudah
arah anjak!

*  Tak Bisa

Oleh: Suprijadi Tomodihardjo

Anak-anak belajar angka
satu, dua, tiga
Sekarang pandai bertanya,
-- sampai berapa

Bapak-bunda tak pernah lupa
dulu, kini, kapan saja
Maka jawabnya,
-- lebih sejuta

Anak-anak mencatat bulan
tujuh, lapan, sembilan
Pun masih nanyakan,
-- kapan?

Bapak-bunda menunjuk kalender
Disebutkannya,
-- September

Anak-anak dan bapak-bunda dihanyut waktu
Gerimis di mata tak sederas dulu
Tapi ada catatan lama,
-- sembilanbelasenamlima
yang dibunuh lebih sejuta

Anak-anak dan bapak-bunda
bersama-sama belajar lupa
lupa
lupa
lupa
Tak bisa!

(1987)

*  Kedung Ombo

Oleh: Nusantari

aku di sini, tuan,
masih di sini
di desa kesayanganku
di dekapannya aku lahir
di pelukannya peluhku leleh mengalir

aku di sini, tuan,
masih di sini
di tanah tumpah darahku
di bulir-bulir padinya kasihku semi
di lagu lesungnya langitku tidak kan mendung

aku di sini, tuan,
masih di sini
walau air tuan tumpahkan
dan senjata tuan todongkan
menjadi tumbal memang kutentang
bagi pembangunan yang sendiri tidak aku nikmati

aku bukan pembangkang, tuan,
bukan pula pemberontak
ganti tempat kuminta yang imbang
dan ganti rugi jumlahnya layak

subversif? sama sekali aku bukan, tuan,
bukan kontra-revolusi
bukankah revolusi dulu berapi
berminyakkan keringat petani?

aku di sini, tuan,
tetap di sini
sebab aku tidak lagi tegak sendiri
di mana-mana aku berada
di tengkuk tuan pun aku berdiri

aku di sini, tuan,
tetap di sini
meskipun waduk terus-menerus tuan isi
aku tidak tenggelam, tuan,
tetapi tuan sendiri

(1989)

*  Naskah Prosa, Esai & Kreasi Opini Lainnya

SETELAH Catatan & Berita Budaya dan sajak-sajak, mulai halaman 22 sampai 88, Majalah Kreasi nomor 3 1989 menyajikan kreasi prosa berupa cerpen berjudul "Jujur" oleh Derita Lbs, "Panggil Dia Fajar" oleh Suprijadi Tomodihardjo, "Kekuasaan" oleh Alan Hogeland dan "Petrus" oleh Astama alias Aziz Akbar. Keempat cerpen itu dilengkapi oleh kreasi opini berupa naskah berjudul "Tapol -- Apa Itu?" oleh Tapol NS.3196; resensi buku "Ilalang Suprijadi" oleh I. Sartika; esai "Kapan Sastra Modern Indonesia Hadir" oleh Alan Hogeland dan "Widji Thukul" oleh Sumirah.

Berkenaan dengan cerpen dan esai tersebut, akan kita bicarakan pada saatnya yang lebih cocok di kemudian hari -- ketika menelaah terbitan kumpulan-kumpulan tulisan para penulis tersebut masing-masing.

Sementara itu, kiranya ada baiknya kita simak sejenak naskah berjudul "Tapol -- Apakah Itu?" yang disusun oleh sang Tapol sendiri yang oleh penguasa Orba namanya diganti menjadi nomor, yakni NS 3196. Sebagai salah seorang dari belasan ribu tapol Kamp Konsentrasi Kerjapaksa Pulau Buru. "Tapol," tegasnya, "ialah satu kata kependekan dari dua kata: tahanan politik. Sebuah istilah baru yang lahir sebagai anak kandung, sekaligus ciri istimewa, pemerintah militer di Indonesia sejak terjadinya apa yang dinamakan Peristiwa G30S 1965. Gestok, kata Bung Karno. Gestapu-PKI, kata Abdul Haris Nasution. G30S/PKI, kata pemerintah Orde Baru Suharto. Sambil mendengung-dengungkan semboyan 'orde baru', kaum militer Indonesia yang bersatu (atau mungkin lebih tepat: menunggangi) golongan kanan, bergerak membasmi kekuatan demokratis dan khususnya kaum komunis di Indonesia, dengan tekad 'tumpas habis sampai ke akar-akarnya'. Maka berjuta-juta orang pun jatuh menjadi kurban. Dibunuh, ditangkap, ditahan, dibuang, dipecat dari pekerjaan, disunat dan dipaksa ganti nama (untuk saudara-saudari sebangsa keturunan Tionghwa), dan dicabut gelar kesarjanaan dan hak-hak kewarganegaraan mereka yang paling asasi. Begitu saja. Tanpa proses. Tanpa basa-basi sekalipun. Atas nama orde baru segala sesuatunya seoleh menjadi sah dengan sendirinya. Hanya beberapa orang yang mereka anggap sebagai tokoh (tokoh-tokoh sebenarnya sudah ditembak mati tanpa proses), yang barangkali tak sampai lima puluh orang di seluruh Indonesia, disidangkan perkaranya melalui lembaga peradilan yang dinamakannya 'Mahmilub', Mahkamah Militer Luar Biasa, yang notabene memang luar biasa benar-benar itu. Demikianlah keadaan umum yang telah melahirkan hikayat tentang tapol. (hlm 22--23).

Selanjutnya Sang Tapol NS 3196 menguraikan betapa metode biadab diberlakukan oleh penguasa Orde Baru yang dilaksanakan dengan segala cara oleh para interogator yang semata-mata untuk memeras pengakuan. "Tujuannya bukan untuk menyingkap kebenaran kejadian, tetapi untuk membangun kisah seperti telah tersusun dalam skenario mereka."

Akhirnya, tak kurang menariknya pula naskah esai ringkas berjudul "Widji Thukul" oleh Sumirah. Dengan menggemakan sudah sejak awal mula betapa pentingnya makna kehadiran sang penyair muda yang militan dalam kehidupan gerakan kebudayaan rakyat itu, hingga mengalami konfrontasi berulang kali dengan penguasa-penguasa setempat karena pembacaan sajak-sajak dan kegiatan lainnya. Malah sampai terjadinya pelarangan untuk membacakan sajak-sajak di kampungnya sendiri. Kenapa? Sumirah antara lain telah berhasil menemukan beberapa kreasi puisi Thukul yang dalam bahasa Jawa, yang salah sebuahnya tersajikan sebagai berikut:

Geguritan Iki Mung Pengin Kandha

geguritan iki mung pengin kandha
ing njaba ana wong sambat ngaluara
sajake bubar dipulasara
swarane orang cetha